Referensi harga BBM di seluruh dunia

Social 5 Comments »

Buat rekan-rekan yang suka membaca:
http://en.wikipedia.org/wiki/Gasoline_and_diesel_usage_and_pricing

Menginspirasi Situs Pendidikan

Social 5 Comments »

Tadi malam saya mendapat telpon tengah malam dari seorang rekan, yang katanya salah satu posting lama saya, ditampilkan disebuah situs pendidikan. Well, saya memang merasa sudah lama sekali tidak menyempatkan diri menulis sebuah pemikiran di blog ini, pemikiran-pemikiran yang nakal menggelitik wawasan pemirsa. Yah, mungkin sibuk dengan urusan kampung tengah biar ga madesu (masa depan suram), ato just plain boring, rasanya lebih tepat dengan urusan pertama, karena beberapa cita-cita pencapaian saya belum tercapai, saya pengen pindah ke desa. Tinggal di desa ๐Ÿ˜€ yuuukk ahh…

Berikut cuplikan gambar yang menginspirasi situs pendidikan tersebut. Dan ini artikel lama saya yang mengulas pemikiran nakal menggelitik intelektualitas dan kesadaran berbangsa ini. Menarik, cuma mungkin ada baiknya web admin nya, meminta ijin sebelum mencomot begitu saja. Saya sih senang-senang saja dapat menginspirasi anda.

Dari Situs SMK8 Bandung

Pengalaman Saya berkenalan dengan Flash

Macintosh, Social, Technology 20 Comments »

Tergelitik dengan posting twitter seorang rekan tuir, Pinotski yaitu:

maka saya tertarik bercerita sedikit seputar pengalaman saya berkenalan dengan Flash.

Dear Folks,

Gua mo share dikit pengalaman gua dengan Flash,

– Gua pertama ketemu Flash ketika taon 1996 di mac masih dengan nama
FutureSplash.
Ketika itu di PC juga blon kenal namanya Flash (FutureSplash kemudian
menjadi cikal bakal Flash).
Taon2 ketika pemakai Mac masih merasakan indahnya Netscape 1.1N yang
proven (ketika internet “mematikan” grafik demi Text-Only browsing karena internet demikian lemotnya dialup di Indonesia :P), atau MacWeb (browser 300KB in size yang luar biasa kecil tapi fungsional),
Dua tahunan (1994) ketika baru kenal internet sampe harus beli Buku di
Times Plasa Indonesia, demi Mendapatkan Mosaic Browser jiakakaa ๐Ÿ˜€ ,
dan ketika para pengguna dan punggawa Mac sibuk mengumpulkan PLUG-INS
untuk Web Browser (salah seorang yg gua kenal dekat dan hobby koleksi
plug-ins Netscape/browser adalah Harry Tanzil a.k.a Bule)…. hahaha
Please stand up! *Masih inget ketika kita order PowerBook 2300c
beautiful Mac for die hard user dari Nelly temen gua di Amrik ry?
Kemana tuh laptop ry? Koleksi plug-insnya mungkin ada 20-30 buah,
saban kali abis install OS dan browser, sibuk deh nginstall tuh plug-
ins.

— Gua malah pernah main multimedia dengan mTropolis 1.1 (1996an) dan
2.0 (then die after Quark purchased the company untuk menggantikan
QuarkImmedia-nya) tapi malah mTropolisnya ga diterusin. mTropolis
users terkenal dengan die-hard users, seperti halnya BeOS users atau
Amiga users. I should say, mTropolis 1.0 beats Macromedia Director
4.0!! mTropolis adalah object oriented multimedia authoring tools.
Setelah Macromedia membeli Flash, kemudian Macromedia memiliki
Dualisme dari offeringnya, yaitu memperkenalkan Shockwave dan Flash
web-plug-ins. Director yang memperkenalkan Shockwave plug-ins,
akhirnya pelan-pelan “membunuh” anak kandungnya itu sendiri demi
produk yang lebih slim yaitu Flash.

— Since, I really no-graphics designer, buat gua days gone by, ga
terasa taon terus berlalu, pernah berapa kali keukeuh “harus punya”
Macromedia Suites (taon 1999-2000) padahal dipake juga ga… dioprek
sekali-kali ada sampe Flash 5.
Beberapa rekan korporat gua, malah belajarnya aplikasi yang kompatible
namun lebih sederhana pada medio tahun 2000 tersebut yaitu SWiSH.

—- Flash 6, Apple ada berantem dikit dengan Macromedia, karena
Macromedia pertama kali support Video streaming yang ternyata Engine
nya adalah Engine yang sama yang dipergunakan QuickTime-nya Apple.
Apple memang invest 100 juta US dollar ke perusahaan yang kemudian
terkenal sebagai pembuat VIDEO CODECS terkenal yaitu Sorenson (dan
produk yang dicrosslicensekan secara illegal adalah Sorenson Sparks).

—– OOT: Anehnya Java yang gua kenal tahun segitu dipergunakan untuk
membuat animasi seperti halnya Flash, bukan buat programming seperti
sekarang ๐Ÿ˜› hihihii (1995-an)

For me personally, I would prefer see no Flash sites, karena semakin
umur semakin kita kembali ke esensinya, yaitu SUBSTANCES over
COSMETICS, karena banyak kemudian website terlalu “penuh” dengan
pernik-pernik “mengganggu” = hayoo sapa yang ga pengen cepet2 ngeclick
tombol CLOSE iklan melayang-layang di detik.com misalnya? Hahaha dia
pikir itu bisa mengenerate revenue, padahal I would say, malah
mengurangi bobot pemilik websitenya sendiri. Sudah saatnya para
pemilik website lebih kreatif dalam memikirkan revenue dari model
advertising kuno ini.

Then, I would personally prefer HTML5 over Flash. This is my personal
experience, karena Web would be a better ecosystem apabila dibangun
dengan standard yang baku dibanding non-standard. Ingat HTML5 adalah
CORE dari Web itu sendiri, dimana HTML5 adalah evolusi standard Web
yang didukung oleh Web Konsorsium yaitu W3.org, jadi setiap web
browser defacto akan mampu “memfeeding” web browsers yang ada tanpa
butuh plug-ins tambahan (kembali ingat ke point dimana jaman Plug-ins
adalah “keharusan” untuk dimiliki dengan kompleksitas kepemilikannya,
walaupun pada saat ini hampir semua plug-ins yang ada diluar Flash
“cenderung mati” menurut pendapat saya, karena hampir setiap pengguna
komputer adalah “Laggard”).

*Quiz: Ada yang masih ingat ketika Microsoft harus membayar 500 juta
US dollar kepada perusahaan kecil yang relatifly unknown dengan nama
Eolas, karena konsep Plug-ins Microsoft pada Internet Browser,
dianggap melanggar Paten Eolas? Jiah. Bayangkan apa jadinya dunia
apabila dunia harus di”baku”kan dengan Paten, dan monoclithic
applications/plug-ins (tidak persis sama kasus Paten/flash, tapi cuma
mengenang seputar Plug-ins related paten case. Seperti halnya Plug-ins
Adobe pada Photoshop).

Halah-halah, tengah malem kok malah ngelindur Flash ๐Ÿ˜€ Sudahi dulu ya,
it’s 3:04 AM, semoga bermanfaat. Dan semoga memancing sharing
pengalaman rekan-rekan sehubungan dengan pengalamannya berinteraksi
dengan Flash. Flash is welcome. Flame is not welcome* ๐Ÿ˜€

Nanti kalo waktunya rada relaks gua mo cerita-cerita yang lain lagi
kalo berkenan.

Good bye Flash. Gue bobo dulu yee… ๐Ÿ˜€ Halah kirain Flash Gordon
kaleee ๐Ÿ˜›

Cheers folks,
Have a great and productive week!

Regards, macnoto
http://adinoto.org

Sekilas Saya Macnoto dan Apple

Macintosh, Social, Technology 47 Comments »

Ketika saya mengiklankan tentang terbitnya buku Sahabat Mac, buku manual penggunaan Mac OS X Snow Leopard yang saya tulis bersama Jack Popo, di milis id-mac yang saya tinggalkan 4 tahun yang lalu karena keriuhan disana, maka beberapa komen muncul mempertanyakan siapakah saya sebenarnya. Untuk mengaddress hal tersebut saya perlu menulis sedikit ulasan bagaimana hubungan saya dengan Apple selama ini, dan sejarah singkat keberadaan Apple di Indonesia yang mungkin berguna bagi rekan-rekan yang tertarik mengamati pertumbuhan pasar Apple dan teknologi informasi di negeri ini.

“Ok, kelihatannya memang saya harus sedikit intro memperkenalkan diri, mengulas timeline perkenalan saya dengan apple, dan terutama memperkenalkan timeline perkembangan masuknya Apple di Indonesia bagi para pencinta milis id-mac disini, biar para pembaca milis ga bingung.

Milis ini dengan 4,751 members saat ini tentunya tidak sesederhana ketika saya tinggalkan 4 tahun yang lalu ketika membernya 1,300an.

Ok, let’s start:

Phase I: Perkenalan pertama dengan Apple.
Saya mengenal Apple II th 1978, ketika itu dengan Apple baru 1 tahun mengenalkan Apple II (1977) dan Apple II merupakan personal komputer paling banyak/populer dipergunakan orang, menyaingi Amiga. Mungkin dari sekian banyak dari anda, masih ada yang mengalami/mungkin orang tuanya paling tidak? memiliki Apple II. Disk Drivenya Besi kotak gede, rasanya saya masih simpan di gudang atas, bersama dengan Performa 205 dan cute Color Classics II (color classics berwarna satu2nya yang saya pengen beli karena modelnya cantik).

Phase II: Apple dan IBM PC (1984-1995)
Pada pertengahan tahun 80an, IBM PC mulai masuk ke Indonesia, yang kemudian diikuti oleh IBM PC Compatible. Little known fact, bahwa sebenarnya IBM tidak pernah me”licensi”kan IBM PC kepada vendor lain, tapi BIOS sebagai “otak” PC tersebut terlalu sederhana sehingga dapat direverse engineering oleh Phoenix BIOS (salah satu pembuat BIOS = saat ini para pembuat BIOS sudah dalam satu perusahaan semua karena bisnis ini terlalu tidak valuable saat ini). IBM mencoba “mengalihkan” arah PC menjadi standard mereka lagi dengan PS/2 tahun 1987 (dengan MicroChannel Expansion Bus-nya), tapi usaha ini gagal (karena para pebisnis Taiwan tidak mau kehilangan bisnisnya, dan terlalu banyak pemain yang terlibat dan tidak kehilangan lahannya. Satu-satunya PS/2 yang kita “sempat” kenal dan tersisa adalah Port PS/2 saja untuk Keyboard dan Mouse. Itupun sudah nyaris tidak dipergunakan lagi pada saat ini). Di Indonesia PC Compatible sempat merajai pasaran dunia bisnis disini. Dengan DOSnya (variant DOS yang ada, IBM PC DOS, Microsoft DOS, dan DR-DOS/Caldera). Microsoft prevailed.

*kuis: Tahukah anda bahwa malahan Apple yang pernah melisensikan desain Apple Mac kepada segelintir perusahaan seperti UMAX, Power Computing, dan Daystar. Power Computing didirikan oleh segelintir ex-Compaq, perusahaan yang pertama kali merilis komputer 386 clone, sebelum IBM sendiri (selaku pemilik desain original PC).

*kuis: Tahukah anda bahwa salah satu orang dibalik keberhasilan operasional Apple hari ini, Tim Cook, Chief Operating Officer, adalah salah seorang ex-Power Computing?

*kuis: Tahukah anda bahwa Sony berminat melisensi Mac sebelum akhirnya merilis VAIO namun di tolak Apple?

*kuis: Tahukah anda bahwa notebook komputer pertama didunia, Apple PowerBook 100, itu diproduksi hardwarenya oleh Sony? Bisa dibayangkan apabila Sony VAIO hari ini adalah Mac clone. *wink.

Phase III: Apple era PowerPC dan Apple di Indonesia (1990-1997).
PowerPC merupakan Microprosesor yang diprediksi “akan” mengalahkan dominasi Intel. Intel sebagai ex-pembuat memory yang menemukan surga bisnis di sektor mikroprosesor, mulai kesulitan dengan desain tua x86. Perang media antara RISC (reduced instruction set computer = chip-chip PowerPC, MIPS, ARM, SPARC, Alpha) versus CISC (complex instruction set computer = Intel x86) mendominasi berita pada med 1990an. RISC terbukti lebih murah untuk diproduksi sampai dengan 1/10th CISC, dan lebih simple (RISC dibangun dengan puluhan instruksi, CISC seperti x86 memiliki ribuan instruksi, dimana ribuan instruksi ini sebenarnya bisa dibangun dari “kombinasi puluhan instruksi” yang uniknya hampir 80 persen fungsi call mikroprosesor itu adalah “ADD, SUBSTRACT, BRANCH, PREDICT” alias hanya 4 dan kombinasi dari 4 instruksi tersebut. Intel saat ini lebih mirip RISC (lebih fokus ke floating point dan superscalar design), dan RISC processor lebih CISC (instruksinya lebih banyak, tapi tidak sampai ribuan).

*kuis: Tahukah anda bahwa Microsoft Windows pernah di port untuk 4 platform tersebut? Windows NT 4.0 pernah di port untuk jalan di Intel x86, MIPS, PowerPC, dan Alpha mikroprosesor.

macnoto analysis:
Salah satu kegagalan PowerPC mendominasi pasar Intel adalah: Karena IBM, Motorola sebagai alliance hardware manufakturer gagal “mengajak” mitra Taiwannya untuk ikut serta terlibat “mencari rejeki” dari desain mikroprosesor dan platform baru ini. Common Hardware Reference Platform (CHRP) keluarnya terlambat, Tatung adalah sedikit dari perusahaan yang akhirnya memproduksi CHRP dalam skala kecil. Andai saja IBM, Motorola dapat membujuk dengan memberikan insentif kepada Asus, ECS, Gigabyte, dan vendor-vendor motherboard PC lainnya untuk memproduksi motherboard PowerPC compatible, maka mungkin anda tidak akan menggunakan Intel pada hari ini? Karena pada akhirnya kita tidak peduli dengan mikroprosesor apa yang dipergunakan, as long as it runs Microsoft Windows (for most people).

-Apple di Indonesia-
Apple di Indonesia pada saat itu sudah dipegang oleh beberapa distributor, namun dipecah masing-masing produk yang diusungnya, salah satunya PowerCom dan InMac. InMac adalah distributor untuk produk-produk high-end seperti PowerMac dari Apple Computer. PowerCom untuk produk-produk consumer seperti Performa dan LC. Saya tidak memiliki informasi banyak seputar PowerCom pada saat itu (1990an) tapi saya cukup mengenal InMac yang dipimpin oleh seorang teknolog yaitu Bapak Kendro Hendra (InTouch, mitra kreatir berbagai solusi Nokia). Pada tahun 1997 saya sempat mengenal beliau lebih dekat ketika itu saya bekerja sebagai staff beliau untuk sister company InTouch dan MegaNet (ISP co-developed bersama JawaPos).

InMac pada tahun 1994-1995 telah menunjukkan performansi luar biasa pada pameran komputer di Comdex? JHCC Senayan, Jakarta. Pameran komputer pertama yang paling menonjol di Indonesia pada saat itu dan menguasai 1/2 panggung dari pameran itu sendiri. Bayangkan betapa jayanya dahulu ketika separuh dari JHCC itu diisi oleh produk-produk Apple dan mitranya. Saya sendiri menyempatkan diri melihat sendiri pameran tersebut dengan menaiki keretapi subuh dari Bandung.

-Apple di Bandung-
Apple di Bandung pertama kali dipelopori oleh APCOM di dayangsumbi / deket ITB. APCOM ini sebenarnya adalah anak perusahaan yang dibentuk oleh biro arsitek APAR (yang dimiliki keluarga bapak Besari? Habibie?) yang pada masanya merupakan biro arsitek ternama di Bandung. Karena pada saat itu komputer yang bisa dipergunakan untuk kebutuhan arsitek secara grafis (GUI) = ingat PC waktu itu masih menggunakan DOS dan AutoCAD DOS version yang relatif lebih rumit, maka pemilihan platform Apple Mac sebagai perangkat pendukung biro arsitek pada masa itu merupakan pilihan yang tepat (terlepas dari harganya yang relatif mahal), dan kebutuhan untuk mendukung bisnis tersebut menelurkan anak perusahaan penjual perangkat Apple Mac di Bandung, dengan nama APCOM. Beberapa nama lama disana adalah Bapak Iwan, Deden, Bachtiar, dan Iman. Saya pribadi sempat mengenal Bachtiar dan Iman, tapi hanya selintas tahu raut muka Bapak Iwan dan Deden. Salah satu toko komputer lain yang mengusung Apple di Bandung pada masa itu dan melayani segmen pasar grafis/percetakan adalah Netral Computer yang dipimpin oleh Pak Lipu yang sekarang di Estore Bandung.

Kemudian, Apple di Indonesia mulai memperluas jaringan dengan mendirikan beberapa Master Dealer, seperti Sidola Computer di Bandung, dimana disinilah saya pertama kali bekerja sebagai Apple Product Specialist pada tahun 1995-1996, dan sebagai mahasiswa mbalelo (bukan mahasiswa luar biasa, tapi mahasiswa biasa diluar) ๐Ÿ˜€

-Apple di Jakarta-
Apple di Jakarta is little know fact buat saya, tapi saya tahu paling tidak pernah berjumpa dengan Macindo di JDC, MacData dulu, dan mengenal nama-nama seperti Sumber Makmur, IndoBhakti dan tentunya pada distributor seperti PowerCom dan InMac. Namun, sedikit yang perlu saya tegaskan disini para pejuang mac yang mungkin masih ingat Pak Wing (W&W Computer) di Ratu Plasa, yang merupakan orang lama juga yang dengan sabar memperkenalkan Apple di toko beliau. Walaupun saya tidak sempat mengenal Pak Wing secara pribadi –karena saya orang Bandung, saya haturkan hormat saya bersama pejuang-pejuang Apple lama di negeri ini, termasuk Bapak Kendro Hendra, dan Bapak Wawan dari InMac.

Phase IV: Apple era Padang Digital (2000-now).
Pada tahun 2000 saya agak kaget dengan iklan kecil di koran Kompas bahwa dibuka lagi distribusi Apple di Indonesia. Ketika sebelumnya hubungan Apple distributor dan Apple Singapore sedang meredup, dan kondisi Apple sebagai perusahaan juga mulai meredup di penghujung akhir tahun 2000, maka keberadaan distributor baru ini cukup mengagetkan saya kala itu. Saya yang sekembalinya dari riuh jakarta dan mancanegara, diawal karir memulai usaha sendiri, sempat tergelitik dengan keberadaan iklan tersebut dan menghubungi iklan tersebut.

Saat ini, Padang Digital dan beberapa distributor lain seperti ECS, Sistech, dan beberapa premium reseller dan reseller lain seperti Estore, Emax, dan masih banyak lagi cukup menikmati buah dari kesuksesan Apple di Indonesia.

Phase V: Berurusan dengan Apple (2003-2005).
Pada awal tahun 2000, saya sempat memiliki beberapa unit Mac, tapi tidak seagresif sebelumnya, karena Apple slowly dying company pada saat itu tidak lagi menarik. Namun keberadaan Mac OS X pada awal tahun 2001, membuat saya berpikir ulang untuk menggunakan PowerBook G4 sebagai platform development saya. Pada suatu kesempatan pada medio 2003 saya sempat membuka peluang besar bagi Apple untuk memenangkan suatu tender besar sekitar 200 miliar yang membawa saya kepada perkenalan kepada beberapa pejabat teras Apple. Pada tahun 2005, saya sempat merencakan event besar launching Apple di suatu kawasan pendidikan ditengah hutan, tempat sekolah yang dibangun Bapak Luhut Panjaitan, yaitu Yayasan Del. Di event yang direncanakan penandatanganan kerjasama Pemerintah RI dan Microsoft ini, kita sudah set rencana tandingan “everything Mac” di backgroundnya, seperti event SuperBowl 1984 :D. Namun sayang, rencana ini gagal karena bertepatan dengan musibah pesawat terbang Mandala Air medio Oktober 2005 (beberapa sponsor acara adalah pejabat teras disana yang menjadi korban, sehingga acara dicancelled). Pada tahun 2005, saya sudah berjabat tangan dengan Managing Director Apple Asia untuk mengambil alih kepemimpinan Apple di Indonesia. Rencana itu gagal karena perubahan intrik korporasi, dan hingga saat ini Apple pun akhirnya tidak pernah membuka representative di Indonesia hingga hari ini.

Phase VI: Closure.
Bisnis saya sendiri, tidak berhubungan sama sekali dengan Apple Computer. Perusahaan yang saya bangun, adalah perusahaan jasa teknologi integrasi dan konsultan untuk telekomunikasi. Beberapa solusi inovatif yang kami bangun, anda nikmati tanpa anda sadari dari bentuk layanan telekomunikasi yang anda pergunakan.

Dengan merebaknya penggunaan Apple bagi khalayak umum, karena Apple memutuskan untuk mengunakan platform Intel pada tahun 2006, dan memancing pengguna awam untuk mulai berani menggunakan Apple, cukup menggembirakan saya selaku mac / technology enthusiasts. Semoga di masa-masa mendatang Apple benar berminat membuka cabangnya di Indonesia dan rekan-rekan mungkin berminat / pada akhirnya bekerja diperusahaan yang anda cintai. Sejauh ini saya cuma bisa berkontribusi dengan menulis di blog apabila sempat, dan merilis buku Sahabat Mac bagi anda yang merasa memerlukan paduan penggunaan Mac buat referensi Mac OS X Snow Leopard. Mungkin apabila saya sempat saya akan share lebih jauh lagi dalam buku biografi saya, pandangan saya, seputar teknologi, dan bagaimana kita membangun civilization yang lebih baik.”

Sahabat Mac: Buku Panduan Mac OS X Snow Leopard Dari Macnoto dan Jack Popo

Macintosh, Social, Technology 53 Comments »

Telah terbit buku Sahabat Mac: Paduan untuk Menggunakan Mac OS X Snow Leopard. Sistem Operasi yang friendly dan didesain khusus bagi anda pengguna Mac.

Sahabat Mac! Hare gene pake mac? Wakakaka.. :D

Harga: Rp.50.000,-
Pemesanan:
Bank Mandiri Cabang Surapati Bandung
No.1310000088098
a/n Adinoto A. Kadir

BCA Cabang Setiabudi Bandung
No.2331033113
a/n Adinoto A. Kadir

Transfer sebesar 50.000 + ongkos kirim TIKI ke lokasi anda dari FOB bandung.

Hare gene pake Mac? *ngacirrrr ๐Ÿ˜› …. (ga pake buku Macnoto ga afdol kaleeeeee) ๐Ÿ˜€

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in