Berikut adalah repost dari diskusi kecil di facebook saya, yang semoga bermanfaat apabila saya share untuk audience yang lebih luas, yaitu pembaca blog.
Pengalaman ini saya dapat ketika harus mengganti TV lama saya yang sudah berumur lebih dari 5 tahun, yaitu Sony WEGA 3LCD 50″, dengan Samsung 55″ LEDTV.
Kesimpulan saya adalah:
Ternyata dari beberapa LEDTV FullHD yang spesifikasinya katanya mampu menampilkan spec 1080p (1920×1080), ternyata hanya mampu menampilkan resolusi dengan baik hanya pada resolusi maksimal 1680×1050.
Walaupun apabila disambungkan dengan PC (Windows dan Mac OS X) melalui HDMI, Samsung LEDTV 55″ tidak mampu menampilkan resolusi mapped 1:1 pada 1920×1080, namun pixel terpotong pada bagian atas-bawah-kiri-kanan, seakan memang resolusinya tidak sampai 1920×1080. Gejala lain yang terlihat adalah pixelnya jadi blurry (kabur) seakan diremapped, seperti ketika anda melakukan penggantian resolusi pada notebook anda, ke resolusi non-native. (Keterangan: Setiap LCD/LED memiliki resolusi native yaitu mapped 1:1 pixel, dan resolusi diluar itu akan diresampling dan dipetakan secara non-native, sehingga terlihat seperti blurry, tidak setajam resolusi native).
Apa pentingnya resolusi native disupport di FullHD 1920×1080?
Karena spesifikasinya menyatakan FullHD 1920×1080, maka sudah seharusnya produsen mendukung resolusi sesuai claimnya, karena apabila dipergunakan sebagai output dari PC/Mac, maka TV tersebut tidak akan maksimal, dan tidak akan sempurna. Resolusi yang saya test dapat berjalan dengan tampilan yang baik dan “very acceptable” adalah diresolusi yang lebih bawah 1680×1050.
Untuk penggunaan Desktop PC/Mac 1680×1050 for office uses sudah cukup baik, occasional internet browsing, tapi menjadi masalah lagi pada TV Samsung 55″ tersebut ketika built-in Media Playernya (fitur yang menyatakan bahwa TV tersebut mendukung kemampuan memutar film .mkv dan lainnya) memiliki kemampuan yang unacceptable, alias ngelag, browsing ke files/folder film sangat lambat sekali dan masuk kategori unacceptable.
Ketika TV tersebut saya positioningkan sebagai digital hub saya untuk media entertainment, mau tidak mau saya harus putar otak untuk dapat menggunakannya secara optimal dan layak sebagai pemutar film .mkv — solusi pertama yang saya lakukan adalah dengan menggunakan PC berbasis Windows 8 dengan koneksi menggunakan HDMI. Eksperimen dengan menggunakan Player dari Microsoft Media Player menghasilkan keluaran yang paling jelek, karena video post-processingnya terlihat paling kasar, gambar pixelate (kotak-kotak), dan sangat tidak menyenangkan untuk ukuran FullHD, eksperimen lain dengan menggunakan VideoLAN (www.videolan.org) menghasilkan output yang baik, tapi tidak untuk penggunaan home theater karena tidak semenarik menggunakan XBMC (www.xbmc.org) software yang memang dirancang untuk Media Player penggunaa Home Theater. Saran saya bagi anda yang ingin menggunakan PC/Mac based, silahkan unduh XBMC. Gunakan wireless keyboard dan mouse, and you’re set.
Kendala PC/Mac based sebagi media center menjadi tidak menarik, karena berarti anda menghidupkan PC terus menerus, suaranya yang berisik anda dapat memodifikasi fan/kipas menjadi lebih silent — kipas CPU, kipas VGA, kipas PowerSupply), tapi itu berarti mengeluarkan dana lagi yang tidak sedikit (bisa sampe 1jt++), dan yang berarti penggunaan PC terus menerus akan mengakibatkan konsumsi daya listrik yang berlebihan. Setiap LEDTV saat ini sudah mengkonsumsi 160Watt, masih harus ditambah PC 300-400Watt. Wah bisa-bisa tidak mendukung program pemerintah dalam penghematan penggunaan energi, atau tidak mendukung penghematan kantong bulanan anda
PC/Mac yang terhubung dengan HDMI ke LEDTV tersebut akan memiliki kekurangan lain dengan resolusi “non-native” 1920×1080 tersebut untuk memutar content 1080p. Karena resolusinya tidak native, maka akan cenderung pixelate, walaupun diproses secara algoritma video post-processing yang terdapat dalam software mediaplayer, tetap kemampuannya tidak akan maximal.
Kemudian karena penasaran saya berpikir, Jangan-jangan produk yang saya beli ini cacat produksi. Penasaran saya membawa saya ke toko elektronik wholesale besar tempat saya membeli perangkat ini di salah satu mall terbesar di kota Bandung. Dan TERBUKTI! Semua LEDTV Samsung dalam range kelas apapun 40″, 46″, 55″ yang ada di sana sampai dengan harga yang paling mahal sekalipun 45 juta rupiah TIDAK DAPAT menampilkan resolusi native 1920×1080. Whew!
Karena merasa bahwa toko tersebut juga tidak akan dapat memberikan solusi apa-apa atas purchase saya terhadap Samsung TV LED 55″ dengan penambahan extra warranty 3 tahun (menjadi total 4 tahun), yang ternyata 1). Tidak FullHD 1080p seperti claimed nya 2). Ngelag memutar Film. Maka yang saya dapat lakukan hanyalah berpikir bagaimana mengoptimalisasi penggunaanya, yaitu dengan legowo menerima kenyataan bahwa TV tesebut hanya mampu menampilkan resolusi optimal 1680×1050 dan dengan mencari Media Player (hardware based) yang paling sesuai (kencang dan memiliki menu paling baik — cerita soal Media Player nanti kapan-kapan saya posting ya terlalu panjang).
Semoga menjadi pelajaran dan perhatian teman-teman semua. Kesimpulan yang dapat ditarik: 1). Jangan berharap banyak. 2). Berhati-hati dengan claimed produsen. 3). Apabila built-in Player-nya lemot, gunakan Media Player embedded device yang baik.
Berikut sedikit thread percakapan di facebook:
Adinoto Kadir
Yesterday
facts: Ternyata dari beberapa LEDTV FullHD yang spesifikasinya mampu menampilkan spec 1080p (1920×1080), ternyata hanya mampu menampilkan resolusi dengan baik hanya pada resolusi maksimal 1680×1050.
Like · · Promote
Indramin Darmadi, Alfred Thanos and 2 others like this.
Deni Wahyu: sebut merk dong dan ukurannya
Yesterday at 7:48am via mobile · Like
Dedhi Sujatmiko: pakai input apa tuh 1680×1050? Computer via HDMI?
Yesterday at 7:54am · Like
Adinoto Kadir: yup kang… HDMI…. walaupun “bisa” menampilkan 1920×1080 tapi beberapa merk terkenal “cropped” beberapa pixel, dan kalaupun ditilik mapping pixelsnya seperti resize alias tidak 1:1 mapped jadi tidak tajam
Yesterday at 7:56am · Edited · Like
Adinoto Kadir: Kang Deni… ukuran 40″, 46″, dan 55″ sudah dicoba semua… tapi bisa dikatakan untuk dipasang resolusi 1680×1050 dapat digunakan dengan rating “very acceptable” dan layak untuk penggunaan desktop.
Yesterday at 7:58am · Edited · Like
Oky Tanardi: Discount lah…
23 hours ago · Like
Bambang Cahyono: Lcd byk keterbatasan yg powerfull plasma boss…
23 hours ago via mobile · Like
Oky Tanardi: Teliti sebelum membeli….
23 hours ago · Like
Adinoto Kadir: bisa tolong di define yang powerful Plasma ini based on facts apa ya kang bambang? Plasma produksi 2012 memang merupakan “kreasi” baru dari produk Plasma lama yang terkenal Boros Listrik, Plasma 2012 lebih hemat (126 watt) dibanding LEDTV yang rata-rata 160 watt, Plasma memiliki warna lebih natural dibanding LED yang cenderung “kuat kontrasnya”, tapi bicara soal resolusi atau penggunaan film-film berkualitas Bluray ato FullHD, Plasma masih belum bisa menyaingi LEDTV karena resolusi Plasma TV terbaik yang ada pun hanya 1024×768. Masih jauh. Kelebihan Plasma TV produksi 2012 saat ini hanya lebih murah dengan size ukuran besar (43″ dibawah 5 jutaan, dan 52″ 10 jutaan) dibandingkan LEDTV yang jauh lebih menjanjikan secara teknologi. LEDTV 55″ dalam range 16 juta s/d 45 juta yang memiliki fitur SMART TV.
23 hours ago · Like
Richard S Rumawas: ngeceknya pake apa pak? gw pake tv lg led gw kayaknya full tuh. tapi memang mata gw gak tll perhatiin yang penting detil kecil keliatan
23 hours ago · Like
Adinoto Kadir: Teknologi yang bakal menarik yang menunggu untuk di explore dalam tahun-tahun mendatang adalah OLED TV. Memiliki kecerahan dan teknologi yang superior. Sabar saja dalam tahun-tahun mendatang, kecuali udah gatel pengen punya hari ini, masih seharga satu Toyota Fortuner.
23 hours ago · Like · 1
Adinoto Kadir -> Richard: ngeceknya pake mata pak. Coba pake PC + HDMI, apakah semua pixel ditampilkan dengan baik tidak cropped? Taskbar untuk Microsoft Windows atau Menu Bar untuk Apple Mac OS X nya apakah tidak terpotong? Dan soal mapping pixels nya cenderung “resized/remapped” sehingga ga clear 1:1 tajam seperti resolusi 1680×1050.
23 hours ago · Like
Bambang Cahyono: Kelemahan plasma memang di daya 350w tapi kecepatan gambar sempurna tak ada bekas dan dilihat dari segala arah gambar sama…
23 hours ago via mobile · Like
Adinoto Kadir: Betul kang, kelebihan lain Plasma adalah tidak ada efek GHOST nya, karena Plasma adalah GAS. tapi kalo dibilang plasma memiliki daya 350 watt itu plasma dulu kang, Plasma sekarang memiliki daya jauh lebih rendah dibanding LEDTV. Plasma keluaran 2012 rata-rata hanya mengkonsumsi 126 watt dibanding LEDTV yang mengkonsumsi 160 watt, dan lifetime nya rata-rata 90,000 – 100,000 jam dibanding LEDTV yang 70,000 jam. Tapi untuk penggunaan HDTV dan Bluray, Plasma masih jauh kang. Bagaimana mungkin kita menggunakan TV resolusi 1024×768 untuk film-film berukuran 1920×1080? Percuma atuh kang.
23 hours ago · Like
Bambang Cahyono: Iya juga ya
23 hours ago via mobile · Like
Richard S Rumawas: Gw kalo konek hdmi full hd memang slalu dari mbp gw. Ok deh ntar gw perhatiken kembali. Thx for the info.
23 hours ago via mobile · Like
Rendy Maulana: kalo yang seharga profil picture gue sekarang sih bisa not
23 hours ago · Like
Adinoto Kadir -> Ren, …. Nahhhh kalo udah 4k dan seharga honda Jazz belum bisa juga ngajak gelut ngarana mah! hahahaha….
23 hours ago · Edited · Like
Dapid Candra: Ngetestnya gimana Di? Apa nggak keluar gambarnya? Punya gue bisa tuh 1080p.
23 hours ago · Like
Rendy Maulana: makanya kemaren gue bandingin, ada yang harganya sekitar 8-9K, alias seharga grandmax, beda 4 inch lebih kecil
23 hours ago · Like
Adinoto Kadir -> Dapid: bisa keluar gambarnya di resolusi 1920×1080 tapi ke “cropped” sedikit di banyak sisi, atas-bawah-samping, dan resolusinya tidak pured 1:1 alias agak blurry pixel dibandingkan dengan resolusi dibawah itu yaitu 1680×1050
23 hours ago · Like
Adinoto Kadir -> Rendy: … yah as I said many times in my blog http://adinoto.org/?p=735 … It’s always Faster, Cheaper, Better… so unless you got money to burn, then spend wisely
adinoto’s blog » Blog Archive » (Koran SINDO) Faster, Cheaper, Better
adinoto.org
Beberapa waktu yang lalu saya diminta menulis untuk rubik teknologi di Koran SIN…See More
23 hours ago · Edited · Like · Remove Preview
Richard S Rumawas: Pid scroll up pertanyaan mu sama.
23 hours ago via mobile · Like
Dapid Candra: sorry Bob, yang keliatan cuma 5 yg terakhir…
23 hours ago · Like
Adinoto Kadir -> Dapid ga bisa scroll chard, kepotong pixelnya jiakakakkakaa *kaborrrrr
23 hours ago · Like
Dapid Candra kagak bakalan bisa kaboour Di… Macet di mana – mana
23 hours ago · Like
Adinoto Kadir: Rendy, term 8-9K elo sama term 4K gua beda. Biar ga salah tangkep audience. Rendy menyebutkan 8-9K ini artinya 8,000-9000 dollar (in price), sedangkan yang saya sebutkan 4K ini artinya teknologi baru, yang artinya 4xFullHD… dikenal dengan istilah 4K… alias resolusinya 3840×2160…. => 4K UHD is a resolution of 3840 × 2160 (8.3 megapixels) and is one of the two resolutions of ultra high definition television, the other being 8K UHD. 4K UHD has twice the horizontal and vertical resolution of the 1080p HDTV format, with four times as many pixels overall.[1]
23 hours ago · Like · 1
Adinoto Kadir: yang jelas dengan resolusi 4K UHD, atau bahkan resolusi 8K UHD, built-in Media Player yang ada di setiap Smart TV tidak akan sanggup secara mulus memutarkan film-film berkualitas seperti itu, rekomendasi saya untuk anda semua adalah untuk menggunakan Media Player (MP4 Player) berkualitas secara terpisah yang memiliki mikroprosesor yang kencang, dan encoder audio dan video yang mumpuni, termasuk kemampuan memproses DTS dan DTS-HD.
23 hours ago · Like
Adinoto Kadir: Yang penasaran untuk melihat sample resolusi 4K silahkan dilongok video sample berikut http://en.wikipedia.org/wiki/File:4K_resolution_sample.ogv asal jangan sampe ngacai ya… bisa-bisa langsung males nonton di TV anda sekarang
File:4K resolution sample.ogv – Wikimedia Commons
commons.wikimedia.org
Afrikaans | Alemannisch | Boarisch | ?????????? (???????????)? | ????????? | cat…See More
22 hours ago · Like · 1 · Remove Preview
Dedhi Sujatmiko: Itu betul pak, TV waktu dipakai jadi monitor computer, ternyata baru kelihatan rescale engine-nya kualitasnya bagaimana. Saya sempat sampe garuk garuk pusing kepala, di komputer kebetulan sudah ada standard tampilan 1080p di graphic card-nya, dimasukkan ke TV yang 1080p capable, lha kok masih pake panning. Sontoloyo tenan.
22 hours ago · Like
Dicky ‘Roy’ Rukmana: Kalau TV 2K ada ngga kang?
22 hours ago via mobile · Like
Afriza Nadim: Trus yang TV (real) full HD merk dan tipe nye ape bos ?
22 hours ago · Like
Adinoto Kadir -> dedhi: jiakakaka sekeeeem kabeh wakakakaa…. … dicky: 2K ada tapi pointless lah, buat apa incremental marginal seperti itu… kalo mau upgrade ya 4K, itu juga punya ga konten 4K? hahahhaa.. ini saya baru dapet film2 40GB-an 1 file dari temen pencinta film, baru kelihatan pentingnya pixels 1:1 dan engine (hardware maupun software) untuk deinterlacing yang baik. Kalo pixels map nya tidak 1:1 gimana mau mulus tuh 1920×1080 source filmnya diputer ke pixel mapped yang panning seperti kata kang dedhi… Penggunaan perangkat lunak dan software deinterlacing yang baik berpengaruh sekali juga, misalnya: Microsoft Media Player adalah salah satu yang paling jelek, dibandingkan dengan VLC (www.videolan.org), tapi untuk software home theater bagi PC yang paling baik adalah XBMC (www.xbmc.org), hanya jangan lupa di set TV ke resolusi native nya yaitu 1680×1050 dibandingkan resolusi non-native di 1980×1080, untuk hasil yang paling baik ya gunakan Media Player secara hardware, karena memiliki engine deinterlacing dan post-video/audio processing yang paling bagus, mulai dari yang memiliki kemampuan standard seperti WDTV Live, ataupun yang support DTS dan DTS-HD dengan kelas yang jauh lebih baik seperti Popcorn Hour.
22 hours ago · Like
Adinoto Kadir -> Nadim: ya itu yang harganya masih 20,000 dollar ke atas kayaknya hahahaaa…. ato kalo mau murah ya pake Monitor LED untuk Komputer, seperti Apple Cinema/Thunderbolt Display yang 27″ dengan harga 12 jutaan, itu native resolusinya 2,560×1,440 kekekekee….. Ato tunggu berdoa Apple TV cepet keluar… Apple bakal keluarin TV mana nih keburu Presidennya ganti blon keluar-keluar juga! Jiaaah
21 hours ago · Edited · Like
Dicky ‘Roy’ Rukmana: Mudah2an aja Apple ngeluarin tv yg resolusinya udh 4K UHD, smart TV dan bisa 3D. Bisa main PS4 *katanya yg udh suport UHD. Kemarin keburu beli merk tetangga karena mau cicip film yg 3D, itu pun TV 3D yg pasif bukan yg aktif
21 hours ago via mobile · Like
Bambang Cahyono: Boss kok proyektor gak dilirik…kasih masukan dong….
20 hours ago via mobile · Like
Adinoto Kadir: Proyektor ga common digunakan orang kang, kalopun mau main Digital Projection, biasanya itupun dipakai oleh segelintir kecil bioskop berkualitas tinggi, contentnya pun biasanya kadang abal-abal. Salah satu bioskop terkenal di bdg dengan initial B*z paling sering muter film kelas kualitas downloadan di bioskop-bioskop kecilnya. Saya pernah marah besar karena kualitas gambarnya ditonton aja tidak layak, kayak downloadan sekelas lebih rendah dari DVD. Ada 2 teknologi bersaing di Digital Projection, salah satunya TI (Texas Instrument) punya DLP, yang pesaing lain Sony (SXRD). Masing-masing punya konco sendiri-sendiri. Group DLP (TI dan kawan-kawan) dan Group 3LCD/SXRD (Sony dan konco-konconya).
19 hours ago · Like · 1
Finan Akbar: Salute. Baru tau ada expertise di bid. Per-TV-an. Kapan-kapan kalo mau beli TV saya mampir ke Blog Om Adinoto Kadir ya Om.
Recent Comments