ThinkPad X100e Overheat Work Around! Problem solved!

Technology 10 Comments »

When I try to find a small laptop for carrying around, a find a bit disappointing. Of course Samsung N108 with Intel Atom N2600 will please you with its battery life that up to 10 hours on the road, or some Acer or Asus with 6600mAh will do just fine too, but 10.1″ with 1024 x 600 just a big no no.

Then, I found my old ThinkPad X100e 11.6″ from my staff. We bought few of these machines circa 2009 when AMD came out with its first Fusion chip (a chip that has a great graphics performance, even compares to today’s Intel Atom) but UNFORTUNATELY this machine is sooo hot and you can get burned so quickly.

The first thing I do is replace the drive with SSD for faster response. Sure, it makes me happy. 128GB SSD for Windows XP for occasional works just fine. Just don’t try 128GB on Mac, you’ll get frustrated. OS X consumed so much space and dried your SSD so fast that even 128GB won’t fit your need.

After 2 days using the machine, I wonder what’s wrong with the overheating problem. When you play MKV or DVD using VLC (www.videolan.org) it can get burned up to 80 degrees Celsius. You won’t even want to touch the bottom of the laptop. It got burned so hot that it can make your hand warm and unpleasant. It will shutdown automatically when it’s overheat, and most of the time will crawl to halt and getting verryyy slow in operation when it’s get very hot. Render the machine useless.

Then I figured out what’s wrong with this machine. This ThinkPad X100e has serious design flaws. Particularly airflow section.

1). There’s a fabric attached on the bottom. It supposed to be cosmetics to prevent big hole ventilation view directly into the casing. But the problem is the fabric has a very small hole that it actually annuler the purpose of the ventilation itself. I just peeled that off.

2). There’s a flaw in construction design that prevent the vent and the two main chips (The AMD Fusion Neo and it’s chipset) that produce heats from release the heat properly. Torn that plastic off.

And after a two modification I made, I’m very happy with the result.

Now the machine works in range 49-53 degrees for normal WiFi and internet usage, and increase to 68 when unrar or doing some serious video processing. Voila!

Hope this small tips will find useful for you. Happy tinkering with your ThinkPad X100e.

References:

I use SpeedFan (http://www.almico.com/speedfan.php) for checking the temperature.

ThinkPad X100e Bottom Cover with Fabric that blocked airflow

you can see there’s fabric that blocked the vent from expose directly to bottom, so I had to removed the fabric the get the vent its necessary hole as needed.

The cover now fabric free. so it has bigger ventilation.
After the Fabric removed

There’s actually plastic that blocked the AMD Fusion and its Chipset there. Vertically. as part of its construction design / chassis. I don’t take picture in this original state. You can actually compare your X100e with this picture and see what I meant. This is the picture after those plastics being removed to make the Fusion chip and its chipset expose as much as possible to ventilation.

This is the broken plastics that I forcely removed.

The normal working temperature after these small modification is now 46-55 degrees celcius. Cool and not warm laptop anymore

Well, until the vendor come up with Haswell chip or next generation Atom which sexy and has better build quality, we can use our old ThinkPad X100e again, at least as an XP machine. I’m now happily ordering the new 6600mAh for this baby. Chuha!

Forums that shows the unhappy ThinkPad X100e due it’s overheat problem:

http://forums.lenovo.com/t5/X-Series-ThinkPad-Laptops/Thinkpad-X100e-overheating-problem/td-p/241060
http://forum.thinkpads.com/viewtopic.php?f=59&t=93284
http://208.74.204.134/t5/X-Series-ThinkPad-Laptops/x100e-overheating-problems/m-p/323891
http://208.74.204.134/t5/X-Series-ThinkPad-Laptops/x100e-overheating/td-p/1032877

Tidak Semua LEDTV FullHD 1080p Dapat Menampilkan Resolusi Sebenarnya 1920×1080

Technology 9 Comments »

Berikut adalah repost dari diskusi kecil di facebook saya, yang semoga bermanfaat apabila saya share untuk audience yang lebih luas, yaitu pembaca blog.

Pengalaman ini saya dapat ketika harus mengganti TV lama saya yang sudah berumur lebih dari 5 tahun, yaitu Sony WEGA 3LCD 50″, dengan Samsung 55″ LEDTV.

Kesimpulan saya adalah:
Ternyata dari beberapa LEDTV FullHD yang spesifikasinya katanya mampu menampilkan spec 1080p (1920×1080), ternyata hanya mampu menampilkan resolusi dengan baik hanya pada resolusi maksimal 1680×1050.

Walaupun apabila disambungkan dengan PC (Windows dan Mac OS X) melalui HDMI, Samsung LEDTV 55″ tidak mampu menampilkan resolusi mapped 1:1 pada 1920×1080, namun pixel terpotong pada bagian atas-bawah-kiri-kanan, seakan memang resolusinya tidak sampai 1920×1080. Gejala lain yang terlihat adalah pixelnya jadi blurry (kabur) seakan diremapped, seperti ketika anda melakukan penggantian resolusi pada notebook anda, ke resolusi non-native. (Keterangan: Setiap LCD/LED memiliki resolusi native yaitu mapped 1:1 pixel, dan resolusi diluar itu akan diresampling dan dipetakan secara non-native, sehingga terlihat seperti blurry, tidak setajam resolusi native).

Apa pentingnya resolusi native disupport di FullHD 1920×1080?
Karena spesifikasinya menyatakan FullHD 1920×1080, maka sudah seharusnya produsen mendukung resolusi sesuai claimnya, karena apabila dipergunakan sebagai output dari PC/Mac, maka TV tersebut tidak akan maksimal, dan tidak akan sempurna. Resolusi yang saya test dapat berjalan dengan tampilan yang baik dan “very acceptable” adalah diresolusi yang lebih bawah 1680×1050.

Untuk penggunaan Desktop PC/Mac 1680×1050 for office uses sudah cukup baik, occasional internet browsing, tapi menjadi masalah lagi pada TV Samsung 55″ tersebut ketika built-in Media Playernya (fitur yang menyatakan bahwa TV tersebut mendukung kemampuan memutar film .mkv dan lainnya) memiliki kemampuan yang unacceptable, alias ngelag, browsing ke files/folder film sangat lambat sekali dan masuk kategori unacceptable.

Ketika TV tersebut saya positioningkan sebagai digital hub saya untuk media entertainment, mau tidak mau saya harus putar otak untuk dapat menggunakannya secara optimal dan layak sebagai pemutar film .mkv — solusi pertama yang saya lakukan adalah dengan menggunakan PC berbasis Windows 8 dengan koneksi menggunakan HDMI. Eksperimen dengan menggunakan Player dari Microsoft Media Player menghasilkan keluaran yang paling jelek, karena video post-processingnya terlihat paling kasar, gambar pixelate (kotak-kotak), dan sangat tidak menyenangkan untuk ukuran FullHD, eksperimen lain dengan menggunakan VideoLAN (www.videolan.org) menghasilkan output yang baik, tapi tidak untuk penggunaan home theater karena tidak semenarik menggunakan XBMC (www.xbmc.org) software yang memang dirancang untuk Media Player penggunaa Home Theater. Saran saya bagi anda yang ingin menggunakan PC/Mac based, silahkan unduh XBMC. Gunakan wireless keyboard dan mouse, and you’re set.

Kendala PC/Mac based sebagi media center menjadi tidak menarik, karena berarti anda menghidupkan PC terus menerus, suaranya yang berisik anda dapat memodifikasi fan/kipas menjadi lebih silent — kipas CPU, kipas VGA, kipas PowerSupply), tapi itu berarti mengeluarkan dana lagi yang tidak sedikit (bisa sampe 1jt++), dan yang berarti penggunaan PC terus menerus akan mengakibatkan konsumsi daya listrik yang berlebihan. Setiap LEDTV saat ini sudah mengkonsumsi 160Watt, masih harus ditambah PC 300-400Watt. Wah bisa-bisa tidak mendukung program pemerintah dalam penghematan penggunaan energi, atau tidak mendukung penghematan kantong bulanan anda :D

PC/Mac yang terhubung dengan HDMI ke LEDTV tersebut akan memiliki kekurangan lain dengan resolusi “non-native” 1920×1080 tersebut untuk memutar content 1080p. Karena resolusinya tidak native, maka akan cenderung pixelate, walaupun diproses secara algoritma video post-processing yang terdapat dalam software mediaplayer, tetap kemampuannya tidak akan maximal.

Kemudian karena penasaran saya berpikir, Jangan-jangan produk yang saya beli ini cacat produksi. Penasaran saya membawa saya ke toko elektronik wholesale besar tempat saya membeli perangkat ini di salah satu mall terbesar di kota Bandung. Dan TERBUKTI! Semua LEDTV Samsung dalam range kelas apapun 40″, 46″, 55″ yang ada di sana sampai dengan harga yang paling mahal sekalipun 45 juta rupiah TIDAK DAPAT menampilkan resolusi native 1920×1080. Whew!

Karena merasa bahwa toko tersebut juga tidak akan dapat memberikan solusi apa-apa atas purchase saya terhadap Samsung TV LED 55″ dengan penambahan extra warranty 3 tahun (menjadi total 4 tahun), yang ternyata 1). Tidak FullHD 1080p seperti claimed nya 2). Ngelag memutar Film. Maka yang saya dapat lakukan hanyalah berpikir bagaimana mengoptimalisasi penggunaanya, yaitu dengan legowo menerima kenyataan bahwa TV tesebut hanya mampu menampilkan resolusi optimal 1680×1050 dan dengan mencari Media Player (hardware based) yang paling sesuai (kencang dan memiliki menu paling baik — cerita soal Media Player nanti kapan-kapan saya posting ya terlalu panjang).

Semoga menjadi pelajaran dan perhatian teman-teman semua. Kesimpulan yang dapat ditarik: 1). Jangan berharap banyak. 2). Berhati-hati dengan claimed produsen. 3). Apabila built-in Player-nya lemot, gunakan Media Player embedded device yang baik.

Berikut sedikit thread percakapan di facebook:
Adinoto Kadir
Yesterday
facts: Ternyata dari beberapa LEDTV FullHD yang spesifikasinya mampu menampilkan spec 1080p (1920×1080), ternyata hanya mampu menampilkan resolusi dengan baik hanya pada resolusi maksimal 1680×1050.
Like · · Promote
Indramin Darmadi, Alfred Thanos and 2 others like this.

Deni Wahyu: sebut merk dong dan ukurannya
Yesterday at 7:48am via mobile · Like

Dedhi Sujatmiko: pakai input apa tuh 1680×1050? Computer via HDMI?
Yesterday at 7:54am · Like

Adinoto Kadir: yup kang… HDMI…. walaupun “bisa” menampilkan 1920×1080 tapi beberapa merk terkenal “cropped” beberapa pixel, dan kalaupun ditilik mapping pixelsnya seperti resize alias tidak 1:1 mapped jadi tidak tajam
Yesterday at 7:56am · Edited · Like

Adinoto Kadir: Kang Deni… ukuran 40″, 46″, dan 55″ sudah dicoba semua… tapi bisa dikatakan untuk dipasang resolusi 1680×1050 dapat digunakan dengan rating “very acceptable” dan layak untuk penggunaan desktop.
Yesterday at 7:58am · Edited · Like

Oky Tanardi: Discount lah…
23 hours ago · Like

Bambang Cahyono: Lcd byk keterbatasan yg powerfull plasma boss…
23 hours ago via mobile · Like

Oky Tanardi: Teliti sebelum membeli….
23 hours ago · Like

Adinoto Kadir: bisa tolong di define yang powerful Plasma ini based on facts apa ya kang bambang? Plasma produksi 2012 memang merupakan “kreasi” baru dari produk Plasma lama yang terkenal Boros Listrik, Plasma 2012 lebih hemat (126 watt) dibanding LEDTV yang rata-rata 160 watt, Plasma memiliki warna lebih natural dibanding LED yang cenderung “kuat kontrasnya”, tapi bicara soal resolusi atau penggunaan film-film berkualitas Bluray ato FullHD, Plasma masih belum bisa menyaingi LEDTV karena resolusi Plasma TV terbaik yang ada pun hanya 1024×768. Masih jauh. Kelebihan Plasma TV produksi 2012 saat ini hanya lebih murah dengan size ukuran besar (43″ dibawah 5 jutaan, dan 52″ 10 jutaan) dibandingkan LEDTV yang jauh lebih menjanjikan secara teknologi. LEDTV 55″ dalam range 16 juta s/d 45 juta yang memiliki fitur SMART TV.
23 hours ago · Like

Richard S Rumawas: ngeceknya pake apa pak? gw pake tv lg led gw kayaknya full tuh. tapi memang mata gw gak tll perhatiin yang penting detil kecil keliatan
23 hours ago · Like

Adinoto Kadir: Teknologi yang bakal menarik yang menunggu untuk di explore dalam tahun-tahun mendatang adalah OLED TV. Memiliki kecerahan dan teknologi yang superior. Sabar saja dalam tahun-tahun mendatang, kecuali udah gatel pengen punya hari ini, masih seharga satu Toyota Fortuner.
23 hours ago · Like · 1

Adinoto Kadir -> Richard: ngeceknya pake mata pak. Coba pake PC + HDMI, apakah semua pixel ditampilkan dengan baik tidak cropped? Taskbar untuk Microsoft Windows atau Menu Bar untuk Apple Mac OS X nya apakah tidak terpotong? Dan soal mapping pixels nya cenderung “resized/remapped” sehingga ga clear 1:1 tajam seperti resolusi 1680×1050.
23 hours ago · Like

Bambang Cahyono: Kelemahan plasma memang di daya 350w tapi kecepatan gambar sempurna tak ada bekas dan dilihat dari segala arah gambar sama…
23 hours ago via mobile · Like

Adinoto Kadir: Betul kang, kelebihan lain Plasma adalah tidak ada efek GHOST nya, karena Plasma adalah GAS. tapi kalo dibilang plasma memiliki daya 350 watt itu plasma dulu kang, Plasma sekarang memiliki daya jauh lebih rendah dibanding LEDTV. Plasma keluaran 2012 rata-rata hanya mengkonsumsi 126 watt dibanding LEDTV yang mengkonsumsi 160 watt, dan lifetime nya rata-rata 90,000 – 100,000 jam dibanding LEDTV yang 70,000 jam. Tapi untuk penggunaan HDTV dan Bluray, Plasma masih jauh kang. Bagaimana mungkin kita menggunakan TV resolusi 1024×768 untuk film-film berukuran 1920×1080? Percuma atuh kang.
23 hours ago · Like

Bambang Cahyono: Iya juga ya
23 hours ago via mobile · Like

Richard S Rumawas: Gw kalo konek hdmi full hd memang slalu dari mbp gw. Ok deh ntar gw perhatiken kembali. Thx for the info.
23 hours ago via mobile · Like

Rendy Maulana: kalo yang seharga profil picture gue sekarang sih bisa not
23 hours ago · Like

Adinoto Kadir -> Ren, …. Nahhhh kalo udah 4k dan seharga honda Jazz belum bisa juga ngajak gelut ngarana mah! hahahaha….
23 hours ago · Edited · Like

Dapid Candra: Ngetestnya gimana Di? Apa nggak keluar gambarnya? Punya gue bisa tuh 1080p.
23 hours ago · Like

Rendy Maulana: makanya kemaren gue bandingin, ada yang harganya sekitar 8-9K, alias seharga grandmax, beda 4 inch lebih kecil
23 hours ago · Like

Adinoto Kadir -> Dapid: bisa keluar gambarnya di resolusi 1920×1080 tapi ke “cropped” sedikit di banyak sisi, atas-bawah-samping, dan resolusinya tidak pured 1:1 alias agak blurry pixel dibandingkan dengan resolusi dibawah itu yaitu 1680×1050
23 hours ago · Like

Adinoto Kadir -> Rendy: … yah as I said many times in my blog http://adinoto.org/?p=735 … It’s always Faster, Cheaper, Better… so unless you got money to burn, then spend wisely

adinoto’s blog » Blog Archive » (Koran SINDO) Faster, Cheaper, Better
adinoto.org
Beberapa waktu yang lalu saya diminta menulis untuk rubik teknologi di Koran SIN…See More
23 hours ago · Edited · Like · Remove Preview

Richard S Rumawas: Pid scroll up pertanyaan mu sama.
23 hours ago via mobile · Like

Dapid Candra: sorry Bob, yang keliatan cuma 5 yg terakhir…
23 hours ago · Like

Adinoto Kadir -> Dapid ga bisa scroll chard, kepotong pixelnya jiakakakkakaa *kaborrrrr
23 hours ago · Like

Dapid Candra kagak bakalan bisa kaboour Di… Macet di mana – mana
23 hours ago · Like

Adinoto Kadir: Rendy, term 8-9K elo sama term 4K gua beda. Biar ga salah tangkep audience. Rendy menyebutkan 8-9K ini artinya 8,000-9000 dollar (in price), sedangkan yang saya sebutkan 4K ini artinya teknologi baru, yang artinya 4xFullHD… dikenal dengan istilah 4K… alias resolusinya 3840×2160…. => 4K UHD is a resolution of 3840 × 2160 (8.3 megapixels) and is one of the two resolutions of ultra high definition television, the other being 8K UHD. 4K UHD has twice the horizontal and vertical resolution of the 1080p HDTV format, with four times as many pixels overall.[1]
23 hours ago · Like · 1

Adinoto Kadir: yang jelas dengan resolusi 4K UHD, atau bahkan resolusi 8K UHD, built-in Media Player yang ada di setiap Smart TV tidak akan sanggup secara mulus memutarkan film-film berkualitas seperti itu, rekomendasi saya untuk anda semua adalah untuk menggunakan Media Player (MP4 Player) berkualitas secara terpisah yang memiliki mikroprosesor yang kencang, dan encoder audio dan video yang mumpuni, termasuk kemampuan memproses DTS dan DTS-HD.
23 hours ago · Like

Adinoto Kadir: Yang penasaran untuk melihat sample resolusi 4K silahkan dilongok video sample berikut http://en.wikipedia.org/wiki/File:4K_resolution_sample.ogv asal jangan sampe ngacai ya… bisa-bisa langsung males nonton di TV anda sekarang

File:4K resolution sample.ogv – Wikimedia Commons
commons.wikimedia.org
Afrikaans | Alemannisch | Boarisch | ?????????? (???????????)? | ????????? | cat…See More
22 hours ago · Like · 1 · Remove Preview

Dedhi Sujatmiko: Itu betul pak, TV waktu dipakai jadi monitor computer, ternyata baru kelihatan rescale engine-nya kualitasnya bagaimana. Saya sempat sampe garuk garuk pusing kepala, di komputer kebetulan sudah ada standard tampilan 1080p di graphic card-nya, dimasukkan ke TV yang 1080p capable, lha kok masih pake panning. Sontoloyo tenan.
22 hours ago · Like

Dicky ‘Roy’ Rukmana: Kalau TV 2K ada ngga kang?
22 hours ago via mobile · Like

Afriza Nadim: Trus yang TV (real) full HD merk dan tipe nye ape bos ?
22 hours ago · Like

Adinoto Kadir -> dedhi: jiakakaka sekeeeem kabeh wakakakaa…. … dicky: 2K ada tapi pointless lah, buat apa incremental marginal seperti itu… kalo mau upgrade ya 4K, itu juga punya ga konten 4K? hahahhaa.. ini saya baru dapet film2 40GB-an 1 file dari temen pencinta film, baru kelihatan pentingnya pixels 1:1 dan engine (hardware maupun software) untuk deinterlacing yang baik. Kalo pixels map nya tidak 1:1 gimana mau mulus tuh 1920×1080 source filmnya diputer ke pixel mapped yang panning seperti kata kang dedhi… Penggunaan perangkat lunak dan software deinterlacing yang baik berpengaruh sekali juga, misalnya: Microsoft Media Player adalah salah satu yang paling jelek, dibandingkan dengan VLC (www.videolan.org), tapi untuk software home theater bagi PC yang paling baik adalah XBMC (www.xbmc.org), hanya jangan lupa di set TV ke resolusi native nya yaitu 1680×1050 dibandingkan resolusi non-native di 1980×1080, untuk hasil yang paling baik ya gunakan Media Player secara hardware, karena memiliki engine deinterlacing dan post-video/audio processing yang paling bagus, mulai dari yang memiliki kemampuan standard seperti WDTV Live, ataupun yang support DTS dan DTS-HD dengan kelas yang jauh lebih baik seperti Popcorn Hour.
22 hours ago · Like

Adinoto Kadir -> Nadim: ya itu yang harganya masih 20,000 dollar ke atas kayaknya hahahaaa…. ato kalo mau murah ya pake Monitor LED untuk Komputer, seperti Apple Cinema/Thunderbolt Display yang 27″ dengan harga 12 jutaan, itu native resolusinya 2,560×1,440 kekekekee….. Ato tunggu berdoa Apple TV cepet keluar… Apple bakal keluarin TV mana nih keburu Presidennya ganti blon keluar-keluar juga! Jiaaah
21 hours ago · Edited · Like

Dicky ‘Roy’ Rukmana: Mudah2an aja Apple ngeluarin tv yg resolusinya udh 4K UHD, smart TV dan bisa 3D. Bisa main PS4 *katanya yg udh suport UHD. Kemarin keburu beli merk tetangga karena mau cicip film yg 3D, itu pun TV 3D yg pasif bukan yg aktif
21 hours ago via mobile · Like

Bambang Cahyono: Boss kok proyektor gak dilirik…kasih masukan dong….
20 hours ago via mobile · Like

Adinoto Kadir: Proyektor ga common digunakan orang kang, kalopun mau main Digital Projection, biasanya itupun dipakai oleh segelintir kecil bioskop berkualitas tinggi, contentnya pun biasanya kadang abal-abal. Salah satu bioskop terkenal di bdg dengan initial B*z paling sering muter film kelas kualitas downloadan di bioskop-bioskop kecilnya. Saya pernah marah besar karena kualitas gambarnya ditonton aja tidak layak, kayak downloadan sekelas lebih rendah dari DVD. Ada 2 teknologi bersaing di Digital Projection, salah satunya TI (Texas Instrument) punya DLP, yang pesaing lain Sony (SXRD). Masing-masing punya konco sendiri-sendiri. Group DLP (TI dan kawan-kawan) dan Group 3LCD/SXRD (Sony dan konco-konconya).
19 hours ago · Like · 1

Finan Akbar: Salute. Baru tau ada expertise di bid. Per-TV-an. Kapan-kapan kalo mau beli TV saya mampir ke Blog Om Adinoto Kadir ya Om.

Bulan Promosi Mac

Macintosh 6 Comments »

Saya mengadakan promosi Mac, sampai dengan 30 April 2012. Barang siapa berminat bisa menghubungi saya.

MacBook Air 11.6″ Intel i5 1.6GHz 2GB RAM 64GB (MC968) = Rp.9.799rb
MacBook Air 11.6″ Intel i5 1.6GHz 4GB RAM 128GB (MC969) = Rp.11.799rb
MacBook Air 13.3″ Intel i5 1.7GHz 4GB RAM 128GB (MC965) = Rp.12.799rb
MacBook Air 13.3″ Intel i5 1.7GHz 4GB RAM 256GB (MC966) = Rp.15.799rb

MacBook Pro 13.3″ Intel i5 2.4GHz/4GB RAM/500GB HDD (MD313) Thunderbolt = 11.799rb
MacBook Pro 13.3″ Intel i7 2.8GHz/4GB RAM/750GB HDD (MD314) Thunderbolt = 14.799rb

MacBook Pro 15.4″ Intel Quad i7 2.2GHz/4GB RAM/500GB HDD/ATI 6750M 512MB (MD318) Thunderbolt = Rp.17.799rb
MacBook Pro 15.4″ Intel Quad i7 2.4GHz/4GB RAM/750GB HDD/ATI 6770M 1GB (MD322) Thunderbolt = Rp.21.799rb
MacBook Pro 17″ Intel Quad i7 2.4GHz/4GB RAM/750GB HDD/ATI 6770M 1GB (MD311) Thunderbolt = Rp.24.799rb

iMac 21.5″ Intel i5 2.5GHz 4GB RAM 500GB HDD Radeon 6750M (MC309) = Rp.11.999rb
iMac 21.5″ Intel i5 2.7GHz 4GB RAM 1TBB HDD Radeon 6770M (MC812) = Rp.14.999rb
iMac 27″ Intel i5 2.7GHz 4GB RAM 1TBB HDD Radeon 6770M (MC813) = Rp.16.999rb
iMac 27″ Intel i5 3.1GHz 4GB RAM 1TBB HDD Radeon 6970M (MC814) = Rp.19.999rb

MacPro (CPU Only) Intel Quad 2.8GHz 3GB RAM 1TB HDD (MC560) = Rp.25.999rb
MacPro (CPU Only) Intel 8 Core 2.4GHz 6GB RAM 1TB HDD (MC561) = Rp.35.999rb
MacPro (CPU Only) Intel Quad 2.8GHz 8GB RAM 2x1TB HDD = Rp.30.999rb

HP: 08552181888
Yahoo Messenger: macnoto@yahoo.com

Barang adalah barang resmi, bergaransi resmi dari Apple Indonesia dan Internasional, dan BNIB (Brand New In the Box). Saya cuma sedang promosi saja… Ingat berlaku Limited Time Only!! DEALERS ARE WELCOME!!

Repost: Belajar Menghitung Inflasi dari James Bond Index :P

Social 1 Comment »

Berikut adalah Postingan Juni 2011, untuk refleksi kita bersama:

Tadi malam setelah memperoleh film James Bond classic “From Russia With Love” dalam format HD 720p, saya sebagai generasi tanggung (SEGA kata anak sekarang = semi gadun) kenal generasi pertama film ini jaman Roger Moore, iseng liat tabel film-film James Bond sepanjang masa. Bond sebagai novel Ian Fleming yang pertama ditulis pada tahun 1953, termasuk film yang laris manis sekuelnya sehingga dibintangi oleh 6 aktor sejak film debut pertamanya “Dr. NO” pada tahun 1963.

Full size Image diatas dari wikipedia dapat diunduh pada link berikut.

Saya tertarik pada bagian notes berikut:

* All figures are in US Dollars[44]
† Figures are inflated to 2008 dollars as of 24 March 2008 figures based on the Consumer Price Index.

Hmm… berarti lebih kurang bisa dipake untuk menghitung rata-rata besaran Inflasi di Amerika dong? Consumer Price Index… ok, coba kita hitung dari besaran yang dicantumkan Wikipedia untuk adjustment perolehan film James Bond sepanjang masa:


James Bond index… Inflation rate based on Consumer Price Index.

Hmm berarti uang US dollar tahun 1962 di Amerika nilainya lebih kurang 7 kali lipat dollar sekarang. Artinya uang US dollar sekarang nilainya 700 persen lebih rendah dibanding uang US dollar pada tahun 1962.

Nah penasaran bagaimana di Indonesia?
Pada tahun 1980 ketika saya TK (Taman Kanak-Kanak), oleh orang tua saya, kakak saya dibekali 25 rupiah yang cukup untuk membeli 2 piring lontong sayur (yang satu 10 rupiah-an, yang satu 15 rupiah-an).

Menilik sekarang rata-rata jajanan begituan 7.000 rupiah – 8.000 rupiah maka nilainya 700-800 kali lebih mudorat dibandingkan pada tahun 1980 (70.000-80.000 persen). Bagaimana dengan tahun 1962 seperti di masa film James Bond Dr.NO? Duh saya sih belon lahir ya, mungkin ada generasi gadun beneran yang mau sharing cerita? Yang jelas pada tahun 1966 kita pernah melakukan pemotongan 3 angka nol (1,000 rupiah jadi 1 rupiah)… nah bandingkan saja nilainya (berarti 700.000 kali lebih mudorat atau 70.000.000 persen)… hehehee… Dasar negara abal-abal hehehee…

Masih percaya dengan angka BPS (Biro Pusat Statistik) yang menyatakan rata-rata inflasi kita perbulan kurang dari 1 persen? Yeah rite… Seperti halnya pemerintah ini menyatakan Masyarakat miskin di Indonesia itu yang berpenghasilan dibawah 210.000 rupiah/bulan. Jadi kalo anda berpenghasilan 215 ribu sebulan anda tidak termasuk miskin di negeri ini.

Wahdalah!

Repost: Pandangan Saya Seputar Kenaikan BBM (Menaikkan Harga BBM = Tidak Mampu Memanage Keuangan Negara!)

Social 9 Comments »

Menilik satu komen baru pada posting tua saya di tahun 2008 (11-05-2008) http://adinoto.org/?p=687 mengingatkan saya pada kenyataan bahwa posting lama tersebut masih diminati pengunjung dengan rata-rata komentar pada posting tersebut diatas biasanya pada blog saya (70 komen), dimana memang blog saya ini bukan blog populer umum, tapi lebih ke arah blog spesifik teknologi dan geek dan per-apel-an.

Mengingat bahwa momentum rencana keputusan kenaikan harga BBM pada 1 April 2012 ini (4 tahun setelah posting tersebut) mencerminkan kenyataan bahwa pemerintah juga plin-plan dalam mengambil keputusan. Hampir semua keputusan yang strategis diambangkan, dan waktu berlalu, kita jadi tua, solusi tidak tercapai, dan pada akhirnya kita semua mati. Apa fungsi pemimpin disini? Sungguh jadilah anda pemimpin yang baik, yang dapat mengimami rakyat anda, karena ditangan anda terletak nasib 250 juta rakyat Indonesia.

Berikut posting lama tersebut jadi tertarik saya REPOST ulang:

Pemerintah akan menaikkan harga BBM. Biarpun Presiden SBY sudah menyatakan tahun lalu bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM, kenyataannya mau ga mau pemerintah menjilat omongannya sendiri tahun ini dengan solusi HARUS Menaikkan harga BBM.

Pemerintah dengan rajinnya me”sosialisasikan” via media televisi dan lain-lain bahwa konon “Yang menikmati subsidi BBM itu adalah masyarakat mampu”. Beberapa kali pejabat teras negeri ini menyatakan “Loh yang naik mobil ini orang mampu kan?”. Ajaib serasa saya harus mendengarkan ocehan orang tua mutlak ke anak kecil.

Ini agak aneh. Negara ini adalah PRODUSEN MINYAK. Kita memproduksi minyak lebih kurang 1 juta barrel per hari (Setara dengan harga minyak dipasaran hari ini yaitu 120-an dollar se barrel berarti setara dengan lebih kurang 1,150,000,000,000 rupiah per hari). Pembenaran bahwa kita adalah produsen minyak mentah tapi bukan produsen minyak jadi (siap dipergunakan) adalah sama dengan buang body, lah salah sendiri kenapa sudah dikasih waktu sekian lama malah ga pernah mau mengolah sendiri? Lebih aneh lagi adalah tahun 70an ketika harga minyak meroket karena perang Timur Tengah, kita justru menikmati Petro Dollar. Loh kondisi yang sama sekarang kok kita sama sekali ga menikmati hasil produksi minyak kita?

Para pakar dan eksekutif di pemerintahan bisa bilang bahwa kita kekurangan alokasi APBN, bahwa APBN mengasumsikan subsidi minyak di harga 80 dollar per barrel (yang pada kenyataannya sekarang di kisaran 120 dollaran), nah yang pernah dipikirin para pejabat itu apa sih? Apakah tidak ada pilihan lain??

Jangan-jangan memang pemerintah tidak pernah mikirin dan nonton film Dave (1993). Salah satu adegan di film Dave adalah ketika Charles Grodin berhasil mengalihkan alokasi pengentasan dan pendidikan buat orang-orang tak memiliki rumah dan anak jalanan lain. Pak SBY blon nonton? Saya saranin wajib nonton buat semua anggota kabinet biar keluar lagi hati nuraninya Pak!

Ketika harga BBM dinaikan, para pejabat sih ga masalah meng-adjust pendapatannya. Pernah kepikiran ga pak dampak kenaikan pangan di masyarakat bawah? Makan warteg udah ga bisa dibawah 10 ribu rupiah lagi, dan dijamin makin banyak masyarakat makan nasi aking!

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in