Pandangan Saya Seputar Kenaikan BBM (Menaikkan Harga BBM = Tidak Mampu Memanage Keuangan Negara!)

Social Add comments

Pemerintah akan menaikkan harga BBM. Biarpun Presiden SBY sudah menyatakan tahun lalu bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM, kenyataannya mau ga mau pemerintah menjilat omongannya sendiri tahun ini dengan solusi HARUS Menaikkan harga BBM.

Pemerintah dengan rajinnya me”sosialisasikan” via media televisi dan lain-lain bahwa konon “Yang menikmati subsidi BBM itu adalah masyarakat mampu”. Beberapa kali pejabat teras negeri ini menyatakan “Loh yang naik mobil ini orang mampu kan?”. Ajaib serasa saya harus mendengarkan ocehan orang tua mutlak ke anak kecil.

Ini agak aneh. Negara ini adalah PRODUSEN MINYAK. Kita memproduksi minyak lebih kurang 1 juta barrel per hari (Setara dengan harga minyak dipasaran hari ini yaitu 120-an dollar se barrel berarti setara dengan lebih kurang 1,150,000,000,000 rupiah per hari). Pembenaran bahwa kita adalah produsen minyak mentah tapi bukan produsen minyak jadi (siap dipergunakan) adalah sama dengan buang body, lah salah sendiri kenapa sudah dikasih waktu sekian lama malah ga pernah mau mengolah sendiri? Lebih aneh lagi adalah tahun 70an ketika harga minyak meroket karena perang Timur Tengah, kita justru menikmati Petro Dollar. Loh kondisi yang sama sekarang kok kita sama sekali ga menikmati hasil produksi minyak kita?

Para pakar dan eksekutif di pemerintahan bisa bilang bahwa kita kekurangan alokasi APBN, bahwa APBN mengasumsikan subsidi minyak di harga 80 dollar per barrel (yang pada kenyataannya sekarang di kisaran 120 dollaran), nah yang pernah dipikirin para pejabat itu apa sih? Apakah tidak ada pilihan lain??

Jangan-jangan memang pemerintah tidak pernah mikirin dan nonton film Dave (1993). Salah satu adegan di film Dave adalah ketika Charles Grodin berhasil mengalihkan alokasi pengentasan dan pendidikan buat orang-orang tak memiliki rumah dan anak jalanan lain. Pak SBY blon nonton? Saya saranin wajib nonton buat semua anggota kabinet biar keluar lagi hati nuraninya Pak!

Ketika harga BBM dinaikan, para pejabat sih ga masalah meng-adjust pendapatannya. Pernah kepikiran ga pak dampak kenaikan pangan di masyarakat bawah? Makan warteg udah ga bisa dibawah 10 ribu rupiah lagi, dan dijamin makin banyak masyarakat makan nasi aking!

73 Responses to “Pandangan Saya Seputar Kenaikan BBM (Menaikkan Harga BBM = Tidak Mampu Memanage Keuangan Negara!)”

  1. fisto Says:

    ya emang jelas pemerintah sudah gagal dalam merancang APBNnya…tapi yg lebih miris lagi adalah kita gagal mendapatkan windfall dari kenaikan harga minyak yg gila2an ini…huh…

  2. idarmadi Says:

    Konon katanya harga bensin di negara Cina itu setara dengan bensin Permium kita (kurang lebih 3.5rmb/liter). Konon katanya Pemerintah Cina mengharuskan “pertamina”nya negara itu untuk menjual bensin dengan harga segitu. Jadi “pertamina”nya dipaksa untuk tidak untung terlalu banyak. Belakangan sedang dipertimbangan tax insentif untuk perusahaan negara itu.

    Sudah 50 tahun(?) Pertamina, tapi belum bisa ngilang sendiri? Seperti analogi saya dulu, kita punya kebun kangkung selama 50 tahun, tapi sampai sekarang kita tidak punya kuali untuk masaknya, sehingga harus minta ke tetangga untuk masak. Buntutnya kok kita makan kangkung kita sendiri, tapi kok harus bayar harga kangkung restoran?

  3. idarmadi Says:

    ngomong2 soal Indonesia sebagai negara ‘pengexpor’ minyak, katanya kok agak ‘membingungkan’ tentang posisi Indonesia di OPEC, karena kenyataannya Indonesia adalah negara pengimpor minyak.

    (tau engak sih berapa harga bensin di venezuela? katanya cuman 0.18cent per gallon. Banyak yang bilang bensin harganya lebih murah daripada air (minum)!)

  4. arya Says:

    Kang,

    Saya sarankan untuk membuat posting tentang issue “politis” lebih berimbang. Sehingga masyarakat, sebagai calon pendukung, juga bisa belajar dari pemikiran-pemikiran yang dituangkan, baik pemikiran jangka pendek maupun jangka panjang.

    Maaf kalau saran saya terlalu terus terang, blog ini memang miliki Akang, jd penulisannya juga terserah Akang.

  5. bowie Says:

    1. Negara kita bukan lagi sebagai produsen minyak tapi sudah menjadi net importir sejak 2004
    2. Produksi minyak indonesia dalam APBN-P 2008 cuma 910 bph (barrel per hari), sedang kebutuhan nasional mencapai kurang lebih 1.3 juta bph
    2. Patokan harga beli minyak indonesia di pasar internasional untuk produk olahan minyak mentah adalah MOPS yang harganya lebih tinggi dibanding ICP ( Indonesian Crude Price )
    3. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa indonesia berencana keluar dari OPEC tahun depan (rencana lho )
    4. Korupsi masih di mana2x….

    Kalau menurut saya tidak masalah harga BBM naik, karena subsidi energi itu candu. Akan lebih baik jika dialokasikan untuk sektor2x yang lebih membutuhkan misal : transportasi umum, kesehatan murah, pendidikan murah, subsidi pupuk bagi petani, subsidi BBM untuk nelayan, dll….
    nah masalahnya saya tidak setuju kalo untuk saat ini naik….Pemerintah seolah2x terkesan memukul rata bahwa orang indonesia ini mampu semua, makanya ada kecenderungan serampangan dalam menyusun kebijakan dan efeknya kita rasakan sekarang ( contoh : mekanisme harga pangan diserahkan ke pasar, disuruh jangan naik kendaraan pribadi tapi kendaraan umumnya terkesan seperti kendaraan pengangkut ternak, dll )…kalo menurut saya untuk saat ini potong aja anggaran Departemen yang dirasa kurang perlu, potong gaji para pejabat negara…

    Cheers

  6. Eep Says:

    mungkin mas arya ingin Kang Adinata juga mengemukakan solusinya..? coba gimana nih Kang Adinata? apa anda punya solusinya? kalau bisa munkgin itu yang dsebutkan lebih berimbang oleh Kang Arya.

    Hmm… tapi jangan2 solusi tersebut adalah dagangan politiknya Kang Adinata kalo nyalon jadi presiden

    *kaburrr

  7. adinoto Says:

    Betul, saya sengaja memancing pemikiran bersama karena dengan cara tidak dicurahkan demikian, maka masyarakat dapat berpikir dan berkomentar disini. Saya yakin sebagian sudah sangat paham issue ini, namun sebagian besar masyarakat pembaca juga sangat tidak paham dan mungkin bisa menarik kesimpulan dari percakapan disini.

    Ok, disini porsi pembelajarannya:
    Moral of the story dari film tersebut menunjukkan bahwa setiap Departemen mau memotong anggarannya untuk menggolkan rancangan undang-undang tentang Homeless (anak-anak terlantar), yang notabene diawali dengan arogansi ketidakmauan mereka. (Film ini berkisah tentang “stunt person” ato orang yang akhirnya menggantikan Presiden karena yang bersangkutan look-a-like, sedangkan presiden yang bersangkutan sudah melenceng dari tujuan awalnya).

    Moralnya yang harusnya dilakukan pemerintah juga sama. Banyak badan pemerintah yang selama ini masih jauh dari efisien. Pertamina, PLN semua membutuhkan subsidi lewat operasionalnya, bahkan cerita Pipa Minyak ditengah laut yang sekian puluh tahun tidak terdeteksi (melakukan transaksi minyak ilegal) merupakan sesuatu kenyataan yang pahit yang harus ditelan bagi rakyat.

    PLN juga misalnya membutuhkan subsidi 50 trilyun dari untuk operasionalnya (pendapatan 80 trilyun, pengeluaran 83 trilyun — tapi masih diluar subsidi 50 trilyun), apakah sudah merupakan suatu bentuk perusahaan yang efisien (salah satunya adalah karena PLN harus membeli harga bahan bakar seharga X dan menjual dari harga kurang dari X), juga aspek “titipan” harus beli listrik swasta yang mahal pada masa lampau.

    Pertamina juga demikian, apakah peningkatan harga jual (yang dibebankan ke masyarakat) sudah otomatis meningkatkan kinerja dan efisiensi Pertamina? Kalo belum kenapa tidak dimulai dari efisiensi. Bagaimana kalo mau jadi pemain global kalo efisiensi dan mafia perminyakan (dan birokrasi jajaran lain juga masih tidak terselesaikan).

    Pemerintah sekarang banyak focus ngurusin segelintir orang yang diatas (diawang-awang) namun kebijakannya sangat tidak mengurusin masyarakat yang dibawah (di rawa), disaat masyarakat sulit makan, policy pemerintah malah berpihak ke pengusaha kakap (yang lewat BLBI memakan korban ke neraca keuangan negara).

    Sekian banyak solusi yang ditulis rekan-rekan semua diatas juga benar adanya, jadi yang lebih dibutuhkan adalah kemauan dan keinginan untuk berbuat baik dan berpihak ke rakyat kecil. Jangan malah dibalik keadaan ini terpaksa karena subsidi yang menikmati selama ini adalah orang kaya, lewat sosialisasi-sosialisasi di TV dan media lainnya (Apakah rakyat kecil tidak langsung merasakan dampak kenaikan BBM terhadap harga pangan, harga jual produk kebutuhan hidup semua, yang notabene udah naik pasti ga bakal turun lagi — biarkata juga harga minyak turun). Soal manuver BTL (bantuan tunai langsung) juga ga pas menurut saya. Emangnya mo sampe kapan masyarakat di kasih bantuan tunai langsung? Paling berapa bulan terus lupa. Dan bentukan demikian tidak mendidik. Cara paling baik (seperti yang selalu jadi topik tulisan saya soal ekonomi kerakyatan — baca mencari duit dengan pantat, dan belajar dari mobil susu) adalah bagaimana membuat transportasi dari desa penghasil pangan ke kota itu menjadi murah sehingga petani bisa bener menjual produk dengan harga dan margin yang baik. (note: sama seperti tulisan rekan Bowie dan ribuan pembaca lainnya).

    Yang bisa kita lakukan? Jadi penonton? Nah ya itu posisi jadi rakyat itu cuma ada 3 pilihan:
    1. Jadi penonton cengok doang (bengong doang).
    2. Jadi pengamat (yang cuma bikin rame dan menuhin TV).
    3. Coba berbuat jadi apa yang kita mampu berkontribusi.

    Walaupun no.3 ini dalam konteks BBM merupakan out-of-context karena kita bulan Eksekutif di negeri ini, tapi banyak hal-hal yang bisa kita lakukan (bikin solusi energi alternatif rumahan) ato membantu pendidikan masyarakat kecil disekitar (seperti Dick Doang), karena ini masalah gerakan moral.

    Walaupun saya tidak sepakat dengan model demokrasi di negara ini, karena yang lebih dibutuhkan adalah pawang. Negeri ini masih membutuhkan pawang. Banyak suara yang harus diakomodir lewat partai yang berarti tiap suara harus didengar dan demo menjadi bisnis, membuat kita lupa bahwa rakyat sudah makin kelaparan dan kita ga tau apa yang akan terjadi besok. Rawan sekali.

  8. Eep Says:

    Khusus untuk listrik nih Kang Adinata, bagaimana dengan peluang PLTN, kan hitungan per KWh nya murah banget tuh?

  9. rendy Says:

    harusnya yang murah itu bbm buat industri, listrik buat industri, internet buat industri, dan telepon buat industri, biar bisa harga murah, dan ngga ngedidik masyarakat jadi konsumtif

  10. idarmadi Says:

    @#8 kang eep,

    PLTN memang murah, tapi apa yakin nih tidak terjadi dissaster? wong ngurus WC bandara jadi kinclong ajah engak becus, tol bandara bebas banjir ajah emoh, ngatasin kemacetan di Jakarta masih nyari ahlinya.

    Solusi dari krisis listik? Effisiensi & transparansi. Apakah PLN saat ini sudah effisien? Apakah sudah transparant alias bebas kkn? Apakah tingkat kemalingan listrik PLN bisa dibawah 1%? (yah yang nawarin untuk nyolong listrik juga oknumnya sendiri)

    Jika kondisi sudah ideal, tapi tetap defisit, yah monggo dilaksanakan opsi opsi lain. Saya tidak anti PLTN (asal jangan berjarak kurang dari 50km dari rumah saya), tapi hendaknya PLTN tidak menjadi hanya sebuah proyek, hendaknya itu menjadi solusi akhir ketika semua kondisi sudah 99% ideal.

    (perbandingannya Busway + MTR + Monorail + Waterway adalah PROYEK dan bukan SOLUSI, karena kondisi tata lalin dan tata kota Jakarta itu ambrul adul. Seharusnya perbaiki dulu tata lalin dan tata kota Jakarta, baru setelah itu solusi seperti Busway + MTR + Monorail + Waterway)

  11. Eep Says:

    Bos Idarmadi:
    Ini sih hanya pandangan sy aja yang jg kurang mengerti soal keamanan PLTN. Tapi gimana nih sy ada ide kalau yang menjaga dan mengoperasionalkan PLTN semuanya tenaga ahli luar negeri saja yang sudah punya pengalaman di bidang ini. misalnya kita hire tenaga dari rusia, prancis, atau negara lain yg sudah bertahun-tahun menjalankan pembangkit nuklir?

    ini sih ide kasar ajah..

  12. adinoto Says:

    Saya sendiri menentang ide PLTN, karena nuklir yang akan diterapkan membutuhkan presisi dan disiplin tinggi. Apalagi PLTN yang akan diimplementasikan adalah FISI bukan FUSI (PLTN Fisi = membangkitkan ketidakstabilan atom), sedangkan FUSI walaupun lebih relatif lebih aman (reaksi penggabungan) tetap saja berurusan dengan disiplin. Ga disiplin berarti mengundang maut.

    Padahal masih banyak alternatif energi green di dunia ini. Penggerak angin di pesisir pantai, dan ombak (di Norway), … air buat dipedesaan yg masih bagus aliran DAS nya, sampah (sewage seperti di London dan US). Lah dunia berlomba-lomba membangun energi hijau, kita malah mau ke PLTN, yang bener aja.

  13. Eep Says:

    air di desaku aja musim kemarau kering nih Kang Adinata..? kayaknya solusi pake air kurang panjang umurnya.. lah hutan dibabat terus..? saguling dan cirata aja pendangkalan terus..

    solusi lain?

  14. bowie Says:

    hahaha…pendapat kang rendy logis juga tentang BBM murah untuk industri…

  15. Erwin Baja Says:

    Salam kenal Mas Adinoto,
    Selamat atas pencalonan diri sebagai Walikota Bandung, mudah-mudahan sukses ya Mas. Kalo nanti beneran jadi Walikota, mudah-mudahan tidak seperti umumnya para pejabat yang suka lupa janji… :-)

    Saya rasa apa yang terjadi belakangan ini termasuk kenaikan BBM cuma membuktikan amburadulnya Pemerintah dalam menjalankan manajemen negara. Yang parah, tidak berusaha menyadari dan berbenah diri. Saya ketawa dengar ucapan petinggi negara di salah satu televisi swasta yang intinya mau bilang bahwa kalau ada yang menentang kenaikan harga BBM berarti mendukung orang kaya karena subsidi BBM hanya dinikmati orang kaya. Disebutkan pula bahwa dampak kenaikan BBM tidak akan berpengaruh ke orang miskin, tidak akan menimbulkan orang miskin baru, karena hanya berpengaruh pada naiknya biaya transportasi terutama buat pemilik kendaraan pribadi.
    Benar-benar upaya pembodohan tanpa rasa malu, tanpa hati nurani. Bagaimana bisa disebut tidak menambah jumlah orang miskin, kalau baru berita BBM naik saja sudah menyebabkan harga2 melambung tinggi, termasuk harga2 bahan2 pokok. Betapa tolol kalo ada petinggi negara yang bilang kenaikan BBM hanya berdampak pada orang kaya pemilik mobil pribadi.

  16. sueng Says:

    Saya termasuk yang pro PLTN , alasan utamanya karena cara ini yang bisa deliver daya secara masif dan zero carbon emision.

    Kalau pandangan yang cons, tentang perilaku bangsa kita yang tidak teratur itu seperti perilaku kita semua yang memang tidak pernah percaya kepada bangsa sendiri di semua bidang, jadi jual aja bangsa ini ke orang asing.

    Tapi memang ada yang negatif dari PLTN, diantaranya adalah biaya pembangunannya yang sekarang ini menjadi semakin mahal untuk mengcover aspek keamanan tadi.
    Aspek negatif lain adalah kita tidak bisa memproduksi bahan bakarnya sendiri by law, walaupun kita punya tambang uranium.

    Aa Nata ngomongin FUSI , emang sudah ada teknologinya A ? kalau ngomong solusi jangan make mimpi dong :D

  17. Rafki RS Says:

    Tapi Kang, sejauh ini saya belum melihat ‘solusi alternatif’ yang Akang tawarkan, kalau memang Akang kurang setuju harga BBM dinaikkan? Anggaplah, jika Akang yang berada di posisi SBY saat ini, misalnya.
    Saya pribadi cenderung lebih setuju sama pendapat Faisal Basri kemarin, dimana walaupun masih banyak masalah Bantuan Langsung Tunai itu, jauh lebih menyentuh ke akar rumput dan etis, ketimbang subsidi BBM.

  18. Eep Says:

    Setuju dengan Mas Sueng..
    heheheh

  19. IMW Says:

    PLTN mana nih ? Pembangkit Listrik Tenaga Ngeden ?

  20. Baskoro Says:

    Saya ingin menyampaikan salut kepada Aa Nata. Pencalonannya sebagai cawako Bandung membuktikan bahwa ia orang yang serius. Ia menyikapi atribut yang lama melekat pada dirinya itu (the next major of Bandung?) sebagai komitmen, yang sekarang ingin ia tunaikan. Ia serius karena ia tahu bahwa pilkada adalah sesuatu yang serius.

    Saya gembira bahwa Aa tulus dalam pencalonannya ini. Ia tahu bahwa perjuangannya akan berat, tetapi apapun yang terjadi ia tahu bahwa tidak ada yang sia-sia. Ia siap belajar, sebagaimana ia harapkan hal yang sama dari masyarakat. Karena pilkada adalah sarana untuk membangun wacana, wahana untuk pembelajaran.

    Saya lebih dari gembira sebab Aa berasal dari komunitas maya, suatu komunitas yang terwujud sebagai adaptasi tercanggih terhadap pukulan tak-terputus gelombang modernisasi. Bagi anda yang hidup dan menghidupi komunitas pasti mengetahui seberapa dahsyat potensi yang dimilikinya untuk membantu menggerakan perubahan di sekitar kita. Bukankah kita telah belajar bagaimana membangun dan menghidupi identitas? Bukankah kita memproduksi dan mengkonsumsi, di atas dasar yang juga disumbang oleh komunitas seperti ini?

    Sekarang, saya kira, saatnya kita untuk menyikapi dengan serius tawaran Aa. Saya yakin, bukan hanya Aa, tetapi kita semua dalam komunitas ini memiliki penawaran serius tentang bagaimana kita bisa membuat masyarakat kita lebih baik. Kita telah melihat hal itu terjadi, di Korea Selatan, di India, di Cina dan bahkan di Rusia. Mengapa tidak bisa di sini?

    Aa Nata, genggam tangan saya. Saya bersama anda!!

  21. ebong Says:

    Susah namanya juga negara kardus luarnya besar dalamnya kopong. Pejabat kardus banyak ngomong prakten O besar.
    Negara ini memang sudah bangkrut.
    di korupsi oleh para pejabat.
    Bisanya cuma cari rumus subsidi.
    Bantuan langsung judulnya bisanya cuma itu doang.
    Ya nasib Bumi pertiwi . . . . . bayak org pintar di negara ini tapi cuma bisa buat subsidi.

  22. Oskar Syahbana Says:

    Riiiight, of course managing the country must be as easy as in the movie…

  23. Vavai Says:

    #IMW,

    Gubrak !

    Pemerintah sekarang tergantung pada popularitas dan pressure media. Kalau kira-kira bakal jebol popularitasnya kayaknya nggak bakal jadi naik deh.

    Hopeless…

  24. Akhmad Fathonih Says:

    Kemarin (dulu) saya sempat menonton Perspektif Wimar. Jadinya saya setuju jika BBM dinaikkan (remove subsidi) karena penerusan subsidi ternyata justru tidak akan bsia dirasakan oleh banyak rakyat. Daripada rakyat juga yang menderita tapi yang tidak berhak masih senang, ya mending yang tidak berhak ndak dapet walau rakyat harus susah.

    Karena naiknya BBM sudah pasti, sekarang mending membahas pengalihan uang subsidi itu. Subsidi tunai rasanya kok bikin bodoh ya? Tidak berefek jangka panjang pula. Kalau hanya untuk P3K sih saya setuju, tapi tetap saja harus dipikirkan efek psikologisnya terhadap perkembangan mental masyarakat.

    Masyarakat, termasuk saya, sekarang ini kan hobinya nodong. Pokoknya apa-apa pemerintah gk beres deh :D. Pokoknya BBM gk boleh naik. Pokoknya busway gk boleh telat. Pokoknya jangan sampai banjir. Wadaw, saya juga bingung :D

    Hehehe, mari kita teruskan diskusinya. Semoga bisa ditemukan solusi yang terbaik.

  25. coolz Says:

    bukannya minyak indonesia sebagian besar ngga dikuasai indonesia lagi?

  26. yoki Says:

    Menurut saya seh, subsidi itu seperti bom waktu yang membiasakan rakyat dengar harga murah, memang tujuannya untuk meringankan masyarakat tidak mampu, tapi kalau terus-terusan tidak mendidik di kemudian hari. Mungkin sudah saatnya pemerintah mengkaji juga untuk memproses minyak sendiri dan mengefisiensikan semua produksi sumber daya alamnya.

    PLTN? saya ada salah satu penentang juga, kenapa? kita berkaca lah kepada kinerja operational infrastruktur di Indonesia, seperti Aa nata bilang, butuh disiplin dan presisi yang tinggi! Mengambil operational staff dari luar? seperti Kang Eep sarankan? walhasil operational costnya akan tinggi dan lagi, masuk ke dalam lingkaran ketergantungan pihak asing. Menurut hemat saya, sebelum menciptakan sumber energi baru, sebaiknya melakukan pembenahan terlebih dahulu dalam pengelolaan energi yang ada, bukan saja dari sisi produsen, juga sisi konsumen untuk lebih bijak menggunakan energinya.

    ” Eep says: air di desaku aja musim kemarau kering nih Kang Adinata..? kayaknya solusi pake air kurang panjang umurnya.. lah hutan dibabat terus..? saguling dan cirata aja pendangkalan terus.. ”

    Panjang atau tidaknya umur sebuah sumber daya alam perlu di kelola secara terpadu, air menurut saya “mudah” untuk diperbaharui selama komponen-komponen penting dalam “produksi” air di alam terjaga, di bantu dengan proses artificial. Hutan bukan hanya untuk menjaga air, keseimbangan ekosistempun di pertaruhkan. Coba perhatikan, intensitas bencana longsor dan banjir semakin sering terjadi, bukannya mendoakaan sesuatu yang buruk, kemungkinan meledaknya populasi hama yang akan menyerang sektor pertanian dan perkebunan tidak lama lagi akan sering terdengar…. (mudah-mudahan tidak terjadi).

    Mau berbicara masalah energi, atau masalah apapun di Indonesia ini perlu keterpaduan antara satu sama lain, bukan saja dari pemerintah, justru society-nya sendiri yang akan mempercepat perubahan itu terjadi…. itu pendapat saya.

  27. Arvino Mudjiarto Says:

    Pemerintah yang pro-rakyat akan berupaya menyusun kebijakan yang pro-rakyat. Pemerintah yang tidak pro-rakyat akan membuat alasan untuk “membenarkan pendapatnya” dan berargumen dalam konteks rakyatnya yang salah.

    Tindakan suatu pemerintahan seringkali tergantung pada niatan, kreatifitas dan itikad asli di dalamnya.

    Kalau APBN nya kurang, mbok ya — misalnya — Badan Usaha Milik Negaranya nya yang digenjot agar increase revenue dan performancenya, atau cut cost-nya, … bukan selalu rakyatnya yang dibebani terus agar bisa ngangkat “beban” yang terus menerus makin berat. Memangnya rakyatnya atlit “angkat besi” yang barbel-nya musti ditambah terus!

    Di sisi lain, kalau pemerintah nya selalu bilang “anda enak saja ngomong, memangnya jadi pemerintah gampang”, maka jawaban saya: “ya jangan kampanye jadi pemerintah kalau ngga bisa menanggung tanggung jawabnya (yang memang berat dari sono-nya), wong pemerintah ini tugasnya sebenarnya memang berat dari sono-nya kok: berjuang (dan berkorban) untuk rakyatnya”.

    Nah, apakah di hatinya pemerintah tersebut, pemahaman inti tentang “berjuang (dan berkorban) untuk rakyatnya tersebut memang ada??? — tanpa pandang bulu: rakyatnya yang kaya, miskin, pintar, terbelakang, dsb. Ini yang seringkali perlu disimak dari tindakan-tindakannya.

  28. adinoto Says:

    I always like Arvino’s comment. So wise and with decency in mind. Kalo saja semua pejabat seperti Arvino.

    Vin, thanks for dropping by!

  29. adinoto Says:

    Solusi Eep -> Lihat jawaban Kang Yoki! :D

  30. Rafki RS Says:

    Menurut saya, inflasi yang ditakutkan apabila subsidi BBM dicabut, tidak sepenuhnya benar. Apabila pencabutan subsidi tersebut diiringi dengan kebijakkan lain yang menekan bisa menekan angka inflasi, maka dampak pencabutan subsidi BBM terhadap inflasi tersebut tidak akan begitu besar.

    Yang membuat inflasi semakin parah malahan adalah reaksi berlebihan dari masyarakat sebagai tanggapan dari pencabutan subsidi BBM tersebut. Mulai dari demonstrasi, penimbunan sembako, penimbunan BBM, sampai kepada ulah para penyelundup, spekulan minyak dan sebagainya.

    Banyak penelitian membuktikan bahwa inflasi tertinggi terjadi justru menjelang pencabutan subsidi. Inflasi malahan mengalami penurunan setelah harga BBM benar-benar dinaikkan dibanding inflasi menjelang pencabutan subsidi.

    Mengenai kenapa kita mengimport BBM tidak mengolah sendiri minyak mentah menjadi BBM, sejauh yang saya ketahui, menurut hitung-hitungan secara ekonomi, cara begitu (mengimport) lebih menguntungkan dibanding dengan mengolah sendiri. Masalahnya, bukan karena mengimpornya, tapi konsumsi BBM dalam negeri yang terlalu tinggi.

    Selaku pengekspor minyak mentah, Indonesia sangat diuntungkan dengan adanya kenaikkan harga minyak mentah dunia. Tapi keuntungan itu menjadi tidak berarti ketika dibandingkan dengan subsidi yang harus digelontorkan untuk mensubsidi BBM dalam negeri.

    Jadi logikanya, subsidi yang diberikan pemerintah untuk BBM tidak akan berubah banyak walaupun BBM itu diolah sendiri oleh Indonesia. Ingat, Indonesia belum bisa mempertahankan efisiensi jika harus mengolah BBM sendiri. Secara komparatif tetap masih jauh lebih menguntungkan jika kita mengimpor BBM tersebut dari luar negeri.

  31. adinoto Says:

    # sueng Says:
    May 12th, 2008 at 1:03 pm e

    Saya termasuk yang pro PLTN , alasan utamanya karena cara ini yang bisa deliver daya secara masif dan zero carbon emision.

    Kalau pandangan yang cons, tentang perilaku bangsa kita yang tidak teratur itu seperti perilaku kita semua yang memang tidak pernah percaya kepada bangsa sendiri di semua bidang, jadi jual aja bangsa ini ke orang asing.

    Tapi memang ada yang negatif dari PLTN, diantaranya adalah biaya pembangunannya yang sekarang ini menjadi semakin mahal untuk mengcover aspek keamanan tadi.
    Aspek negatif lain adalah kita tidak bisa memproduksi bahan bakarnya sendiri by law, walaupun kita punya tambang uranium.

    Aa Nata ngomongin FUSI , emang sudah ada teknologinya A ? kalau ngomong solusi jangan make mimpi dong :D

    => Kalo Sueng yang jaga PLTN nya aku mungkin percaya :D Lah aku kenal pribadi siapa dirimu hehehe, kalo dipaksa dibangun juga wah aku bener-bener berharap dibangun nun jauh disana. Sorry man bukan ga percaya dengan bangsa sendiri juga, alternatif lain mungkin lebih cocok dengan resiko disiplin rakyat ini.

    Fusi? Ya apalagi kalo para pakarnya lulus dari luar negeri, sampe kampung sini cuma dikasih kerjaan paperwork alias jagain meja doang. Salah sapa? Tanyakeunapa ga sama-sama jadi pioneer ini.

  32. adinoto Says:

    # Akhmad Fathonih Says:
    May 12th, 2008 at 5:02 pm e

    Kemarin (dulu) saya sempat menonton Perspektif Wimar. Jadinya saya setuju jika BBM dinaikkan (remove subsidi) karena penerusan subsidi ternyata justru tidak akan bsia dirasakan oleh banyak rakyat. Daripada rakyat juga yang menderita tapi yang tidak berhak masih senang, ya mending yang tidak berhak ndak dapet walau rakyat harus susah.

    Karena naiknya BBM sudah pasti, sekarang mending membahas pengalihan uang subsidi itu. Subsidi tunai rasanya kok bikin bodoh ya? Tidak berefek jangka panjang pula. Kalau hanya untuk P3K sih saya setuju, tapi tetap saja harus dipikirkan efek psikologisnya terhadap perkembangan mental masyarakat.

    Masyarakat, termasuk saya, sekarang ini kan hobinya nodong. Pokoknya apa-apa pemerintah gk beres deh :D. Pokoknya BBM gk boleh naik. Pokoknya busway gk boleh telat. Pokoknya jangan sampai banjir. Wadaw, saya juga bingung :D

    Hehehe, mari kita teruskan diskusinya. Semoga bisa ditemukan solusi yang terbaik.

    => Ok pak kita terusin diskusinya. Mungkin kita cuma bisa kontrib begini secara yang ngetok palu kan eksekutif di negeri ini. Jadi sebaiknya menurut kang Fathonih bagaimana?

  33. adinoto Says:

    # Oskar Syahbana Says:
    May 12th, 2008 at 3:48 pm e

    Riiiight, of course managing the country must be as easy as in the movie…

    => Yeah rite, dropping a comment in here also as easy as dropping a fart ass.

  34. Rafki RS Says:

    Mengenai hati nurani, saya yakin semua orang punya hati nurani termasuk para pejabat di pemerintahan.

    Masalahnya adalah kita tidak punya pilihan lain selain mencabut subsidi BBM.

    APBN bisa jebol kalau pemerintah masih tetap nekat tidak mencabut subsidi BBM. Ini pilihan jangka pendek yang tidak punya pilihan pembanding. Jadi cuma ada satu pilihan.

    Kalau dinilai, memang sudah saatnya pemerintah menjalankan keputusan ekonomi (mencabut subisidi) bukannya menjalankan keputusan politik (mempertahankan subsidi).

    Dengan mencabut subsidi secara politik pemerintah akan dirugikan tapi secara ekonomi negara ini terselamatkan.

    Saya malahan cenderung berfikir kalau pemerintah itu sangat egois jika masih mempertahankan harga BBM pada kisaran harga sekarang (tidak mau mencabut subisidi).

    Artinya, kalau pemerintahan SBY tidak berani mencabut subsidi BBM berarti mereka lebih mementingkan Pemilu 2009 dan Pilpres 2010 ketimbang menyelamatkan rakyat Indonesia dari bencana ekonomi.

  35. Myzone Says:

    Jawa mengkonsumsi 70% BBM bersubsidi, yang mana didonimasi oleh kend mewah pribadi di kota2.

    Untuk itu sebaiknya dikenakan pajak tahunan progresif sesuai kelas dan cc mobil untuk nutupin subsidi BBM.

    Pajak Tahunan sekitar 5-20% dari harga mobil.

    Sbg contoh:
    Avanza, Rp. 130jt, Pajak Tahunan 5% = Rp. 6,5jt/thn
    Honda CRV Rp. 280jt, pajak Tahunan 10% = 28jt/tahun
    Honda Odissey Rp. 450jt, pajak 15% = 67,5jt/tahun
    Mercy S class Rp. 1 M, pajak 20% = 200jt/tahun.

    Pajak tahunan Kendaraan niaga, truk, bis, plat kuning dan spd motor tetap tidak berubah. Krn dipake untuk usaha.

    Jadi untuk mrk yang mampu saja yang dikenakan pajak Tahunan yg tgi. Soalnya kalo dikasih skema mobil tertentu mesti membeli BBM non subsidi, akan terjadi calo2 atau penyenludupan BBM lagi. Tidak efektif. Tapi kalo dimasukkan dalam pajak tahunan, tidak akan terjadi penyelewengan.

    Trims

  36. Rafki RS Says:

    #Myzone, solusi yang cukup bagus menurut saya. Tapi ada beberapa kendala:

    Pertama, industri otomotif akan terpukul dengan adanya pajak progresif terhadap produk otomotif secara langsung. PHK tidak bisa dihindari. PHK ini tidak cuma terjadi di industri otomotif tapi juga di industri lain yang berhubungan dengan otomotif.

    Kedua, dampak dari kebijakkan pajak, baru bisa dirasakan minimal setelah satu tahun berjalan. Sedangkan tekanan yang dihadapi APBN adalah tekanan jangka pendek dan mesti segera dicarikan penyelesaiannya.

    Ketiga, penyelundupan dan penimbunan BBM akan tetap terjadi selama BBM masih di subisidi, karena ada celah para spekulan mengambil keuntungan dari selisih harga antara BBM yang disubsidi dan yang tidak disubsidi, atau selisih antara harga dalam negeri dengan harga di luar negeri. Jadi penyelundupan adalah dampak negatif lainnya dari subsidi BBM.

  37. adinoto Says:

    Barusan dapat informasi dari rekan di Brunei yang ga bisa posting disini, numpang di postingin.. harga Ron97 (Premix paling top disana) = 53 cent setara dengan 3,584 rupiah.

    Harga ini setara dengan 1/2 harga air minum mineral ($1).

    Referensi:
    Brunei menghasilkan +/- 100,000 barrel perhari.
    Indonesia menghasilkan +/- 1,000,000 barrel perhari.
    Irak menghasilkan +/- 3,000,000 barrel perhari (berkurang 1jt barrel sejak perang ~ 2jtan lah sekarang).
    Saudi Arabia menghasilkan +/- 8,000,000? barrel perhari.
    Venezuela menggenjot hasil produksinya menjadi lebih dari 3 juta barrel perhari.

    Indonesia dengan produksi 910,000an barrel per hari, 700,000 diantaranya dihasilkan oleh 1 company saja yaitu Chevron. Sisanya sungguh merupakan aggregat kecil.

    Saya merindukan kebijakan yang jelas dan tepat seperti jaman Indonesia dipandang dimata dunia seperti jaman Pak Subroto. Bagaimana pemerintahan bisa berkesinambungan kalo model pemerintahan demokrasi ini gampang sekali digoyang oleh “suara”. Yang rakyat butuhkan itu adalah sustainability pembangunan dan kemudahan bisa makan dan memperoleh fasilitas hidup yang lebih baik dari masa ke masa.

  38. usamah Says:

    Saya fikir tidak sesederhana itu hitung2nya

    Jika gak dinaikkan…berarti anggaran untuk pos lain dialihkan ke subsidi BBM…dan pos lain yg gak disubisidi akan terbengkalai sehinga ujung2nya masyarakat yg terkena imbas juga.

    Saya teringat ketika ditanya teman saya “km gak ikut demo, mhs ITS kan demo menolak kenaikan BBM?”. Saya jawab” Maaf ya…aku gak tertarik dengan isu murahan…coba analisa yg lebih tajam, baru demo”. Padahal sebenarnya bukan itu masalahnya..hanya saya aja yg dah apatis :)

  39. Sambalewa Says:

    Kenaikan BBM = Penderitaan Rakyat.
    Pemerintah harus cari solusi yang lain. Mintain jatah ke ko konglomerat 2,5% hartanya untuk rakyat. Pastiutangnya beres

  40. adith Says:

    aduh pak kok mbandingannya hanya begituh ????

    apa bener anda komentar ini bukan karena keperluan anda pribadi ????

    mosok penduduk indonesia mo dibandingin ama brunei sih ??
    kalo saya sih mending lepas sekalian aja subsidi, tapi semua orang dapet BLT… kalo buat orang2 sekelas anda apa artinya sih 100rb ? paling juga buat beli bensin sehari berangkat kantor ta… ???
    Idenya ntar kan malu semestinya… jadi anda g mau menerima 100rb-nya… itu kenapa negara maju welfarenya lebih gede…. g ada beban subsidinya.

    Kalo saya sih mo naek ato engga tetap sepedaan kok…
    tapi kalo harga makanan naek jadi susah bagian ini aja yg ngak setuju saya… gimana biar harga makanan stabil…

    Ini negara tropis kok arahnya industri… balik pertanian dong…. bodo jadi budaknya negara barat dengan pola konsumerismenya…

    Kalo soal PLN itu goblok2nya PLN, coba bayangin di pasar anda jualan beras dan satu pasar itu cuman anda yang jual mosok g bisa untung ???? aneh bin ajaib to ??? KORUPSI dan MONOPOLI itu yg bikin kita KERE terus….

    emang sampeyan pikir swasta itu g bisa apa bangun mikro-hidro di desa2, solar panel, uang turah-turah gitu kok ???
    Kita punya pengusaha sekelas ciputra dkk ??? tapi masalahnya regulasinya g buleh ada perusahaan selain PLN jual listrik ke konsumen…… nah kalo PLN itu masih bangkrut itu kan yang banci PLN-nya to ???

    makanya di Indonesia pakeknya Demokrasi banci, masih maunya monopoli, tapi dibikin bangkrut… laporannya… biar di bayarin ama negara pakek duit pajak….

    Pertamina sama aja… makanya Medco mending maenan di luar negeri aja deh… kebanyakan tikus dan pungli g jelas kalo explorasi di Indonesia soalnya….

    Banci dahhhh….. kamboja aja bisa bayar 12rb kok mewek…..

  41. Ady Wicaksono Says:

    Aa Nata, pro PLTN karena rumahnya kagak deket sama PLTN hihihihihi

  42. Adieska Says:

    Banyak orang kaya munafik nggak ya yang pada komen disini??? Orang2 yang sok peduli, namun sebenarnya masa bodo kalo BBM naik dan masyarakat miskin mati karena kelaparan asalkan kira2 dia dan keluarganya masih bisa bertahan!!! Ups… Maaf :)

    Kondisi masyarakat udah sangat memprihatinkan. Untuk bisa survive aja udah syukur, eh ini malah mau ditambah pula penderitaannya dengan kenaikan harga BBM.

    Yang bikin kondisi sekarang ini + aneh, masyarakat yang lebih pinter (dan mungkin lebih bisa survive kalo BBM naik) cenderung membela (menerima alasan2) pemerintah. Bah… Gawat negara ini.

    Yg paling arif dalam kondisi sekarang ini adalah menunda kenaikan harga BBM untuk setahun kedepan. Efisiensi dan pengawasan lah yang harusnya ditingkatkan oleh pemerintah.

    Pangkas terus jumlah Top Manajemen di berbagai intansi Pemerintahan, BUMN, dan sejenisnya supaya Top Manajemen sadar dan semakin bergairah untuk bekerja keras dalam meningkatkan prestasi. Pakai orang2 muda sebagai tenaga fungsional pengawas karena saat ini JEBLOG banget nilai Pemerintahan SBY dalam hal pengawasan diberbagai bidang dimana pengawas2 yang sudah ada adalah pengawas2 yang tua dan (mungkin) suka main mata.

    Mohon maaf kalo ada yang kurang berkenan. Saya cuma ingin nimbrung disini.

  43. myzone Says:

    Sdr. Rafki

    Kenaikan harga BBM 30% saja masih tetap disubsidi banyak. Soalnya kenaikan harga BBM sudah 2x dari tahun lalu. Jadi kalo mau benar2 bebas subsidi mesti naik 100% menjadi Rp. 10.000/ltr

    Boleh naik 20-30%, namun selama konsumsi tidak ditekan. Otomatis subsidi akan membengkak kembali karena konsumsi yg terus meningkat tiap tahunnya.

    Peningkatan konsumsi tsb jika disebabkan oleh kendaraan niaga dan angkot, tidak apa2. Namun kenyataannya 50-60% disebabkan oleh peningkatan konsumsi kend pribadi di kota-kota.

    Untuk itu perlu dikenakan pajak progresif spt di Luar Negeri. Di Jepang aja, pajak tahun ke-6 sama dengan harga sebuah mobil baru. Jadi tidak semua orang bisa beli mobil pribadi. Efeknya mayoritas warga naik MRT, bis, dan kendraan umum lainnya. Konsumsi BBM rendah. Hanya mereka yg benar2 kaya yang bisa naik mobil pribadi.

    Kalo Bisa beli CRV, X-Trail kemudian gak isa bayar pajaknya, jgn beli dunk. Beli aja speda motor.

    Mengenai industri otomotif yg terpukul. Sdr. Rafki, 100% industri otomotif adalah merek asing. Indonesia cuman kebagian merakit saja. Smkn konsumtif rakyat kita, makin kaya negara asal mobil2 tsb.

    Heran saya, selama bertahun2, pemerintah selalu mengenjot industri2 PMA yang bersifat konsumtif spt Otomotif, elektronika, dsb. Yg notabene kita hanya kebagian perakitan doank. Karena semua milik bangsa LN.
    Knp tidak fokus di industri barang modal merek dalam negeri yang selain bisa dipake untuk meningkatkan produksi dalam negeri juga bisa diekspor menjadi devisa yang keuntungannya balik ke Indonesia lagi.

    Pajak yang diperoleh dari industri otomotif jauh lebih kecil dari subsidi yg ditanggung pemerintah utk tiap mobil yg terjual. Belon lagi industri elektronika, semakin konsumtif rakyat kita semakin tinggi konsumsi listrik, makin tgi pula beban Negara.

    Jadi analoginya sederhana:
    Pemerintah mempermudah industri otomotif dan elektronika asing berinvestasi di Indonesia. Omzet penjualan mobil pribadi dan elektrnika naik —-> penghasilan dari PPN, PPh, PPn BM naik —-> semakin byk kendaraan pribadi dan peralatan elektronika di masy —-> semakin tgi konsumsi BBM dan Listrik —> subsidi semakin besar —-> karena penghasilan pajak kendaraan dan elektronik Anggaran Negara Jebol.

    Istilahnya masuk 100 keluar 1000. Kalo orang dagang bilang, “Besar Pasak dari Tiang”. Ibarat jual rugi untuk orang yang sebenarnya mampu bayar lebih.

    Trims

  44. bowie Says:

    Jika saya jadi SBY :
    “Untuk saat ini BBM tidak naik, akan tetapi pemerintah akan mengenakan pajak tambahan untuk pemilik kendaraan pribadi baik itu roda dua ataupun roda empat dengan persentase yang akan ditetapkan kemudian. Saya juga akan memerintahkan DEPKEU untuk menganggarkan dana yang akan diambil dari pajak BBM tadi guna pengadaan transportasi umum yang murah,nyaman, dan aman bagi masyarakat kita”

    Hehehe..udah cocok jadi pejabat belum nih ane..
    Cheers

  45. Rafki RS Says:

    #43 Mizone,
    Apa yang Anda paparkan benar sekali. Saya setujut penggunaan mobil pribadi mesti dikurangi.

    Namun, seperti yang Anda katakan bahwa pemerintah sudah terlanjur menggenjot industri otomotif ini semenjak dulu, era orde baru. Akibatnya industri ini serta industri pendukungnya begitu mekar di Indonesia dan menyerap sangat banyak tenaga kerja.

    Jika ini (pajak progresif) diterapkan segera maka efeknya akan memukul para tenaga kerja ini yang notabene adalah masyarakat menengah ke bawah. Kalau pengusahanya tidak akan begitu terpukul karena mereka dengan mudah bisa memindahkan lokasi industrinya ke negara lain.

    Seperti yang saya katakan di atas, kebijakkan ekonomi itu punya horizon waktu, yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Apa yang Anda sampaikan merupakan kebijakkan jangka panjang yang perlu didukung kebijakann lain untuk menyerap limpahan tenaga kerja industri otomotif, jika industri ini mengalami kemunduran.

    Untuk kebijakkan jangka pendek seperti mengatasi membengkaknya subisidi akibat naiknya harga minyak mentah dunia, saya menilai tidak ada pilihan lain selain mencabut subsidi BBM dan membuat kebijakkan pendukung agar inflasi tidak tergenjot naik terlalu tinggi.

  46. Akhmad Fathonih Says:

    Nyambung lagi. Dari hasil nonton tivi, lagi-lagi. Di perspektif Wimar kemarin, narasumber baru yang kontra penaikan harga BBM menyebut: “Ada subsidi lain yang bisa dicabut selain subsidi untuk BBM”. kalau tidak salah ingat subsidi yang dimaksud adalah subsidi bank recap (?).

    Kemudian, editorial Media Indonesia hari ini mengulas, ternyata produksi minyak kita dari tahun ke tahun semakin menurun. Dan turunnya ternyata cukup signifikan. Dari di atas 1 jt sekian barrel/day menjadi hanya 900 rb barrel/day pada tahun ini. Pantas saja mungkin BBM naik, karena memang suplai kurang.

    Jadi menurut saya bagaimana? Jika subsidi BBm mmg tidak tepat sasaran, saya setuju sebaiknya dihapus saja dan dialihkan ke pos-pos lain yang lebih tepat sasaran dan bisa mengcounter kenaikan harga BBM. Misalnya kesehatan, pendidikan dan usaha-usaha peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat.

    Tidak hanya subsidi BBM, subsidi-subsidi lain juga wajib ditengok kembali pelaksanaannya. Lalu mafia-mafia perminyakan, yang kabarnya hidup kembali sejak pemerintahan baru, wajib dibasmi.

    Yang terakhir, semoga undang-undang KIP (keterbukaan Informasi Publik) yang baru saja disahkan bisa membantu semua orang dalam rangka pengawasan terhadap sektor-sektor publik (dan terutama yang menguasai hajat hidup orang banyak)

    Hahaha, keliatan sekali sugesti saya ngasal dam tidak sistematis :D. Boleh dong, baru belajar ini :p

  47. budi Says:

    saya mau ikut komentar ttg kenaikan harga BBM ini, begini, saya punya famili yang bekerja di daerah Batam ,jadi dekat dengan Singapura, dia mengatakan bahwa minyak kita (minyak mentah) dijual ke Singapura, setelah diolah mereka terus dijual lagi ke negara kita (bangsa kita para pejabat Pertaminanya memang tolol kan?kenapa tidak diolah bangsa kita sendiri?apa para lulusan ITB nggak mampu bikin kilang pengolahan minyak sendiri?) nah gilanya lagi terus olah para oknum di negara kita diselundupkan lagi ke luar negeri (dlm hal ini Singapura), nah terka sendiri siapa yang bego bin tolol? bangsa kita cepat berpuas diri baru dikasih kencingnya bangsa singapura saja udah puas, padahal mereka yang makan trilyunan rupiahnya. Lihat saja Adelin Lis, penggelapan pajak cuma sekian milyar (itu baru “kencingnya” saja) coba terka kira2 berapa trilyun yang dia bawa ke Singapura untuk ditimbun di sana?aparat-aparat kita juga sami mawon wae, dikasih “kencingnya” saja sudah puas dan merasa kaya…, yah…begitulah mentalitas bangsa kita.Berobat ke Singapura pula, nggak takut apa kalau selain berobat di sana, obat injeksi/cairan infusnya disisipi sedikit virus HIV dan sejenisnya?

  48. sholeh Says:

    lebih baik pemerintahan sekarang bubarkan saja!jual saja pulau2 kita kepada Singapura dan Malaysia

  49. myzone Says:

    To Rafki

    Yah begitulah resiko satu kebijakan. Drpd konsumsi BBM bersubsidi meningkat terus dari tahun ke tahun yg diakibatkan oleh kendaraan pribadi, yang jika harga BBM terus dinaikkan akan dirasakan dampaknya oleh semua masyarakat. Lebih baik industri otomotif dan turunannya yg dikorbankan.

    Yg anehnya, semuanya cuman pabrik perakitan doank dan bbrp komponen2 kendaraan sederhana. Anehnya lagi 90% produksi otomotif untuk dijual di dalam negeri. Tidak ada pabrik otomotif utk direekspor. Bahkan Toyota Innova tuk Asia Tenggara pun diproduksi di Thailand bukan di Indonesia.

    Padahal kalo 50% saja untuk ekspor, maka dampak kebijakan pajak progresif ini tdk terlalu berpengaruh pada industri otomotif yg ada.

    Dgn dikenakan pajak progesif, otomatis konsumsi kend pribadi menurun namun penjualan kendaran angkutan umum akan meningkat walau tdk sebyk kendaraan pribadi. Krn 1 bis bisa menggantikan 15-20 mbl pribadi. Jadi indsutri otomotif tdk akan benar2 mati, mrk akan dgn sendirinya mencari celah2 dan peluang baru serta menyesuaikan diri.

    Industri otomotif turun, tapi usaha jasa angkutan umum akan meningkat. Subsidi yang dihemat bisa digunakan untuk pembangunan monorail dan penambahan armada Busway. Sehingga konsumsi BBM akan terus turun dan turun sehingga subsidi akan terus turun.

    Analoginya sederhana:
    Diberlakukan pajak progesif –> kendaraan pribadi berkurang —> konsumsi BBM bersubsidi berkurang —> Subsidi berkurang —> penghematan subsidi + pajak kendaraan progesif —-> bangun prasana transportasi umum, spt monorail, busway, dsb. —> krn byk dan makin bagusnya sarana transprtasi massal —> makin byk masy beralih dari mobil pribadi ke kend umum —> kendaraan pribadi berkurang –> dst berulang di atas.

    Jadi, walaupun BBM naik sampai 120USD/barel, dapat diimbangi dgn konsumsi yg terus menurun. Jadi tdk perlu terus menaikkan BBM yg efeknya dirasakan oleh banyak orang. Kalo darurat, bolehlah kali ini naik 30%, tapi gimana dgn yg 70%nya lagi yg masih ditanggung pemerintah. Krn sebenarnya BBM telah naik 100% dari tahun lalu.

    Jika tdk dikenaka pajak progresif, tahun depan jumlah kendaraan pribadi bertambah terus. Akibatnya konsumsi meningkat, subsidi meningkat lagi. Otomatis tahun depan harga BBM naek lagi.

    Rakyat tambah siksa. Naikkan BBM 30%, saya setuju krn darurat tuk menutupi APBN.
    Tapi perlu diikuti kebijakan untuk menekan konsumsi BBM dan listrik.

    Trims

  50. Ngayubi Says:

    Apa hubungan nya minyak mentah dunia ama minyak mentah di INDONESIA? Kan PERTAMINA tinggal sedot nggak pake bayar per liter ! cuman bayar proses nya minyak mentah ke bahan bakar jadi? kalau seandainya ada minyak mentah di rumah sampeyan kira2 sampeyan jadi orang kaya kayak syeik arab atau orang2 di luar negeri di (film tv dallas), apa malah buntung tanah sampeyan di sita negara trus di sedot minyaknya ama pertamina (menurut UUD45 bla,bla….) ? apa jangan2 udah abis di sedot abis2an ama pejabat tempo dulu, di jual ke Luar negeri?

  51. Dicky Light Says:

    semuanya sudah terlambat…dan serba terlambat…namun kita masih punya satu yang masih cepat yaitu paling cepat terpengaruh ekonomi global….kini siapa yg mesti kita salahkan….???kenapa…???karna sudah telalu banyak yang salah…???silih berganti sudah pemimpin ku namun hanya menambah volume yang salah…wahai pemimpin-pemimpin ku…kini terserah kalian…terserah bagian manalagi yang akan kalian lobangi…terserah kalian bagian manalagi yang akan kalian cabut cabuti diperahu yang sungguh tak kokoh ini…terserah kalian bagian yang mana yang akan kalian jual kepada kapal asing yang besar itu….perahu ini adalah milik kalian…karena kalianlah yang kendalikan…kami ini hanyalah penumpang…yang mungkin dimata kalian mungkin kami ini hanyalah penumpang tiada arti walaupun darah kakek nenek dan orang tua kami pernah tumpah karena membuat kapal ini…paling paling kami tenggelam walaupun entah dimana akan tenggelam….terima kasih duhai pemimpinku…

  52. A Special Gift For Everyone » Terbaru » Jangan Tunda Lagi Kenaikkan Harga BBM Says:

    […] saya ini sepertinya berseberangan dengan pendapat AA Nata. Tapi saya nggak pernah lho nyebut beliau dengan sebutan OO Noto. Kemarin khabarnya Pak Amin Rais […]

  53. Baskoro Says:

    Tergoda oleh persuasi Aa Nata perkenankan saya urun rembug soal krisis BBM:
    Kenaikan harga BBM bukanlah ulah pemerintah, tetapi akibat mekanisme pasar dunia. Mensubsidi harga minyak juga bukan tugas pemerintah. Secara teori, subsidi tidak dapat dibenarkan, menunjukkan tidak efisiennya perekonomian. Secara kebijaksanaan subsidi diperbolehkan, tetapi hanya untuk sementara.

    Perlu dicatat mensubsidi harga bukan keharusan apalagi kewajiban pemerintah. Kalau itu kewajiban kenapa tidak semua barang disubsidi harganya? Kita tidak hanya menambang minyak, tetapi juga emas, perak, besi, batubara dsb. Kenapa hanya minyak yang disubsidi?

    Maka, sekali lagi, subsidi hanyalah instrumen fiskal yang bersifat sementara, dilakukan untuk suatu tujuan yang terbatas. Subsidi minyak misalnya, dapat diterima karena dianggap besar pengaruhnya kepada kenaikan harga-harga barang lainnya. Subsidi ini lambat laun harus dikurangi, untuk itu pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan misalnya, konversi dan penghematan energi, pengembangan energi alternatif dsb.

    Lalu, bagaimana soalnya kalau subsidi itu bukannya berkurang malah bertambah. Banyak orang menolak kenaikan harga minyak seakan-akan pemerintah yang bersalah atas kenaikan harga atau seakan-akan pemerintah wajib mensubsidi harga minyak itu.

    Pemerintah Indonesia sudah mensubsidi harga BBM, seingat saya nilainya mencapai 120 trilyun pada asumsi harga minyak $90 per barrel. Subsidi BBM ini saja sudah menelan sekitar 15% penerimaan negara yang hanya berkisar 900 trilyun.

    Dalam pada itu, trend pasar dunia menunjukkan kenaikan harga minyak yang sangat cepat. Batas asumsi $90 sudah lama lewat, sekarang harga diperkirakan akan menembus $120. Kalau hal itu terjadi, subsidi BBM akan meledak mencapai 250 trilyun, atau lebih dari 25% APBN.

    Apa yang mungkin terjadi bila APBN dipaksa untuk menanggung beban sebesar itu? Tidak jauh berbeda dengan rumah tangga biasa, adanya beban biaya baru akan mengurangi alokasi untuk yang lain, misalnya pembangunan infrastruktur, jaminan kesehatan untuk orang miskin, pendidikan dsb. Akibat pemotongan ini tidak dirasa sekarang, tetapi baru beberapa tahun kemudian.

    Bahaya yang paling besar adalah merosotnya kepercayaan kepada kemampuan keuangan negara untuk memnuhi kewajibannya. Kita tahu negara kita memiliki utang ke luar maupun ke dalam negeri. Dengan beban subsidi mencapai lebih dari 25% APBN, negara akan sangat rentan , sulit menanggung satu pukulan fiskal yang baru, misalnya bencana atau kenaikan harga pangan yang drastis. Apa yang terjadi kalau negara kita dinyatakan default, tidak bisa bayar utang? Kita harus mengutang lagi ke IMF atau World Bank, dengan resiko kita akan didikte habis-habisan seperti dulu.

    Tetapi yang lebih ditakutkan adalah pukulan psikologis ketimbang pukulan yang nyata. Merosotnya kepercayaan akan ketangguhan APBN dapat mendorong pengusaha-pengusaha melarikan uangnya ke luar negeri, disebut capital flight. Langkah ini akan menyebabkan bank-bank bangkrut, dan kemudian juga industri. Kita akan jatuh lagi ke dalam krisis ekonomi seperti 1997/1998 yang lalu.

    Jadi masalahnya lebih dari soal kepemimpinan. Siapapun presidennya ia harus menghadapi masalah ini? Kalau anda percaya bahwa hanya Suharto pemimpin yang hebat, apa kira-kira akan diperbuatnya?

    Efisiensi adaministrasi pemerintahan, termasuk BUMN? Itu tidak bisa dilakukan sekedipan mata. Langkah terpenting disini telah dilakukan, yaitu pemberantasan korupsi. Kalau semua pembuian koruptor, baik yang mantan menteri, gubernur, jenderal dsb masih belum meredakan korupsi di sini, itu jelas karena korupsi telah berurat berakar, menyusup dari ujung rambut sampai telapak kaki masyarakat kita.

    Meningkatkan keuntungan BUMN? Sudah pasti semua setuju. Tetapi mari kita lihat angkanya. Laba BUMN 2008 diharapkan naik 13,4% menjadi 81,2 trilyun. Kalau kita paksa naik 25%, tambahan laba tidak mencapai 10 trilyun. Itu pun penjual tiket KA harus siap menebalkan muka, dicaci: “BUMN kok cari untung!”

    Diversifikasi energi? Kita senang minyak tanah telah diganti gas, ini harus diperluas. Tetapi kita juga perlu mengerti bahwa adalah ladang-ladang biofuel yang luas di Brazil dan AS yang menyebabkan produksi pangan turun, dan harga pangan meningkat pesat belakangan ini. Apa yang terjadi kalau semua tebu kita buat etanol, semua kelapa sawit kita olah jadi premium?

    Adapun penghematan energi, justru tidak akan berkembang kalau harga energi disubsidi. Apa alasan masyarakat menghemat kalau ia bisa beli di pasar dengan harga murah?

    Saya bukannya bermaksud membuat apologia untuk pemerintah. Saya hanya berpikir bahwa perspektif yang berkembang di masyarakat sangat tidak seimbang. Menurut pendapat saya masalah kenaikan harga minyak ini bukan masalah pemerintah saja, ini juga masalah saya, masalah kit semua. Ia datang akibat lonjakan permintaan ekonomi raksasa yang tumbuh di Cina, India, Brazil dan Rusia. Padahal penawaran minyak justru surut karena faktor alamiah seperti di Indonesia atau karena perang seperti di Irak. Bila harga minak kemudian naik, selayaknya kita juga menanggung beban itu, tidak fair apabila kita minta pemerintah sendirian menanggungnya.

    Saya yakin masyarakat kita masih mau berkorban, karena mereka tahu ini bukan untuk keuntungan orang-seorang, tetapi justru untuk mempertahankan martabat bangsa dan negara kita.

  54. Rafki RS Says:

    Sedih rasanya melihat aksi-aksi penolakkan kenaikan harga BBM oleh mahasiswa. Mahasiswa seperti kehilangan pegangan dan kendali serta arah perjuangan. Gerakkan tak terarah ini sangat rentan disusupi oleh kepentingan-kepentingan politik para elit politik.

    Saya mahfum jika kemarin BIN mengindikasikan bahwa aksi-aksi mahasiswa saat ini sudah ditunggangi para mantan pejabat yang merasa tersingkirkan dari sistem pemerintahan sekarang, ataupun pejabat atau mantan pejabat korup yang berusaha mengalihkan isu pemberantasan korupsi yang berkembang di masyarakat belakangan ini akibat sepak terjang KPK yang mulai agresif.

    Mudah-mudahan mahasiswa tetap waspada !!!

  55. adinoto Says:

    Kepada Mas Baskoro:
    Terima kasih atas sharing data dan informnya.

    Seperti Pak Kwik yang selalu membawa data dalam setiap argumennya (btw, kemaren sempet nonton ga dialog di Metro itu?) Pak Kwik juga mengutarakan soal itung-itungan angka pendapatan dan pengeluaran (serta yg berhubungan dengan pendapatan BBM) yang saya yakin menarik dan dimahfumi oleh sebagian (kita) masyarakat terdidik (dan mungkin sulit dipahami) masyarakat awam di pedesaan yang belum tersentuh informasi.

    Intinya adalah semua bagaimana kita bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat tanpa membebani pengeluaran negara. Ini adalah task yang harus dihadapi oleh pemimpin manapun yang bertugas memimpin negeri ini.

    Dan seperti halnya CEO diperusahaan (bedanya ini CEO atas 200 juta pegawai yang tidak dibayar), ketukan palu berarti adalah pilihan (dengan segala konsekuensinya). Seperti saya setuju dengan semua argumen diatas (termasuk pro rakyat seperti tulisan Arvino), pilihan akan mengetuk palu mengurangi subsidi atau tidak itu hanyalah pilihan yang semua mengandung konsekuensi.

    Paling berat dengan kondisi pembangunan demokrasi tahap seperti di Indonesia semua rawan serangan (baik yg berniat dengan ketulusan) atau for the sake of manuver politik dan dilakukan oleh semua komponen yang bersebrangan (legislatif vs eksekutif). Mirip orasi pak Habibie bahwa mereka (legislatif dan eksekutif) harus berenti berpolemik. Nah dengan model demokrasi ini, tujuan DIRECT sulit dilakukan.

    Dalam contoh perusahaan, seorang “Micro-Manager” (seorang yg mengurus sesuatu down to detail) seperti seorang Steve Jobs sulit ditemukan. Either dia totally Superb ato a total tyrant.

    Kalo semua dilakukan dengan dasar untuk kepentingan rakyat maka proses efisiensi BUMN dan lain sebagainya mungkin lebih bisa cepat diakselerasi. Kalo modelnya seperti sekarang (banyak yang sembunyi tangan dan main kucing-kucingan) kayaknya sampe kapan juga sulit liat BUMN bisa menjadi efisien dan profitable.

    Satu lagi data yang cukup mengagetkan dibuka Dr.Kwik adalah pada jaman pemerintahan sebelum ini ada Empat Puluh Empat (44) BUMN profit yang di lego. Buset. Ini angka ga main-main. Pembenaran bahwa apa bedanya dibeli Asing ato Aseng cukup jadi retorika pembenaran untuk masa pemerintahan 5 tahunan. Nah untuk kemudian menjadi beban di pemerintahan sesudahnya (contoh: BCA dijual ke pihak asing dengan harga hanya 20 Trilyun dimana nilai nya dibawah harga pasar dan sekarang senilai 400 Trilyun) bagaimana akan melakukan proses buy-back dengan beban 20 kali lipat seperti itu?

    Apakah terus berarti kita masih butuh model demokrasi yang lain? Seperti dahulu pernah eksperimen dimasa-masa yang lampau. Mungkin kita belum cukup tua untuk bisa hidup dan mendengar di masa itu, tapi pembelajaran ini mahal. Dahulu ada kabinet 100 menteri dan Demokrasi Terpimpin, apa artinya dulu (mungkin) kita pernah mengalami chaos karena keterbukaan demokrasi yang resultante nya tidak menghasilkan apa-apa selain kegaduhan?

    Mungkinkah ini jadi pembelajaran lebih mahal lagi ke generasi kita dikemudian hari supaya tidak terulang lagi?

    Apakah media internet ato media lain bisa jadi pembelajaran buat generasi setelah kita?

    Semua hanya waktu yang bisa membuktikan. Dan mungkin kita tidak pernah melihat hari itu karena kita keburu sudah tidak exist di dunia ini.

  56. adinoto’s blog » Blog Archive » Pelajaran Moral dari Sebuah Film Berjudul Dave (1993) - Kevin Kline, Sigourney Weaver Says:

    […] seperti pernah saya utarakan sepintas di posting sebelum ini, bercerita tentang seorang pegawai penyalur tenaga kerja, bernama Dave yang kebetulan memiliki […]

  57. Harga BBM dan Subsidi « Kisah Dua Dunia Says:

    […] dan dorongan untuk hidup tidak produktif. Membaca posting dan komentar di blog-nya Adinoto tentang Kenaikan BBM, berikut ini adalah opini saya yang dikaitkan dengan pengantar subsidi di […]

  58. SatriaK Says:

    Kita ketahui sekarang ini “Bandung Heurin ku Angkot”. Bagaimana konsep Aa Noto untuk mengurangi konsumsi BBM di kota Bandung?

  59. adinoto Says:

    # SatriaK Says:
    May 17th, 2008 at 4:40 pm e

    Kita ketahui sekarang ini “Bandung Heurin ku Angkot”. Bagaimana konsep Aa Noto untuk mengurangi konsumsi BBM di kota Bandung?

    => Kalo anda mengikuti tulisan diblog ini mungkin akan tau solusi yang pernah saya utarakan. Termasuk permasalahan sepeda motor dan transportasi publik.

  60. solihin Says:

    seharusnya pemerintah memsubsidi orang-orang yang sudah mampu menemukan bahan bakar minyak alternatip sehingga secara langsung dapat membantu rakyat kecil. jangan cuma ngomong doang

  61. masliliks Says:

    subsidi bbm bukan buat rakyat. subsidi itu dibayarken ke penjuwal minyak, sehingga menutupi kekurangan saldo keuntungannya apabila minyak itu dijuwal ke luar negri. si penjuwal minyak sekarang ini getol menjuwal sumur2 minyaknya ke perusahaan laen, yang pada gilirannya membawa minyak itu untuk disuling di negara tetangga, trus si penjuwal minyak membeli minyak sulingan itu, tengtu dengan harga internasional.nah, agar bisa harganya ditekan didalem negri, si penjuwal minyak mintak pemerintah yang nombokin. ngitungnya pun per gerobak minyak yang keluar dari pangkalan.lha iya kalo grobak itu nyampe ke konsumen. kalo mampir dulu ke pabrik?
    pihak lain, apa iya semua pabrik mau beli minyak seri AB seharga dua kali lipat dari minyak seri AB yang dijual eceran kepada mobil/motor?
    CMIIW

  62. adinoto Says:

    # masliliks Says:
    May 19th, 2008 at 6:02 pm

    subsidi bbm bukan buat rakyat. subsidi itu dibayarken ke penjuwal minyak, sehingga menutupi kekurangan saldo keuntungannya apabila minyak itu dijuwal ke luar negri. si penjuwal minyak sekarang ini getol menjuwal sumur2 minyaknya ke perusahaan laen, yang pada gilirannya membawa minyak itu untuk disuling di negara tetangga, trus si penjuwal minyak membeli minyak sulingan itu, tengtu dengan harga internasional.nah, agar bisa harganya ditekan didalem negri, si penjuwal minyak mintak pemerintah yang nombokin. ngitungnya pun per gerobak minyak yang keluar dari pangkalan.lha iya kalo grobak itu nyampe ke konsumen. kalo mampir dulu ke pabrik?
    pihak lain, apa iya semua pabrik mau beli minyak seri AB seharga dua kali lipat dari minyak seri AB yang dijual eceran kepada mobil/motor?
    CMIIW

    => Bahasanya bagus banget kan :D Penuh kiasan :D

  63. adinoto Says:

    # solihin Says:
    May 18th, 2008 at 9:45 am

    seharusnya pemerintah memsubsidi orang-orang yang sudah mampu menemukan bahan bakar minyak alternatip sehingga secara langsung dapat membantu rakyat kecil. jangan cuma ngomong doang

    => Toel kang. Kalo kita buka juga free energy nanti takut diculik pula :D

  64. edwin Says:

    kalo membaca komenter2 di atas, walaupun teuteup ada pro kontra untuk subsidi BBM, seperti-nya permasalahan utama yg lain (selain harga minyak dunia yg terus meroket) adalah pembenahan administrasi negara, pemberantasan korupsi dll termasuk penghematan di segala sektor serta efektivitas penyaluran dana ke masyarakat dll…maksud-nya nggak melulu harus mengurangi subsidi BBM (walaupun itu termasuk salah satu opsi)…

    penjelasan Mas Baskoro amat-lah efektif untuk pengertian pembengkakan APBN seandainya subsidi terus dilakukan…lama2 bisa bangkrut negeri ini kalo BBM di-subsidi terus…pengurangan subsidi bisa jd ajang pembelajaran untuk segala lapisan masyarakat asal segala aspek pengejawantahan-nya dilakukan dgn tepat…

    Re. Brunei.
    IMO, kebiasaan masyarakat Brunei nggak bisa di-sama-in dgn masyarakat Indonesia…se-pendek pengetahuan saya, Pemerintah Brunei mengalami kesulitan untuk mencari tenaga kerja kasar (buruh bangunan dkk-nya)…kenapa…? karena masyarakat sana sudah cenderung terlalu merasa nyaman dgn kondisi negeri-nya…kalo nggak salah di sana sudah serba nyaman, masyarakat nggak perlu keluar banyak biaya hidup…walhasil, Pemerintah Brunei lebih banyak ngambil tenaga kerja antara lain dr Indonesia & Philipinnes…

    Re. minyak Indonesia dikuasai asing…?
    sebener-nya memang ada banyak perusahaan asing yg menjadi kontraktor di banyak lapangan minyak di Indonesia…tapi itu semua ada yg mengawasi yaitu BPMigas…semua aktivitas kontraktor harus sepengetahuan dan persetujuan BPMigas…dan untuk Hydrocarbon yg di-hasilkan, nggak semua lari ke perusahaan asing itu…Indonesia jg dapet kok bagian-nya…nggak herhan kan sekarang se-tingkat Kabupaten aja pada ngotot minta bagian…

  65. ayayl Says:

    saya ga setuju banget dengan kenaikan bbm ni. Alasannya, kalau harga bbm naik makan angkutan umum pun akan menaikan tarifnya. Berawal dari itu harga bahan pokok di pasaran pun akan naik. Siapa coba yang akan sengsara? Rakyat kecil kan? Anak sekolah pun terkena dampaknya, angkutan naik, harga makanan naik, namum orang tua mereka tak mampu menambah uang saku mereka. Akan lebih bamyak anak yang putus sekolah hanya gara-gara orang tua mereka tidak mampu memberi anak mereka uang saku lebih. Ok! mungkin bagi mereka yang berangkat sekolah cukup dengan berjalan kaki/naik sepeda, kenaikan bbm tak menjadi masalah. Tapi mereka-mereka yang harus naik angkutan umum untuk dapat sampai ke sekolah, itu menjadi masalah yang lumayan rumit. Dari pada menghilangkan subsidi bbm dan membagi-bagikan uang subsidi tersebut kepada rakyat kecil yang mungkin tak akan efektif karena dana tersebut tidak sampai pada orang-orang yang pantas mendapat uang tersebut. Atau malah uang yang untuk rakyat tersebut tidak sampai kepada rakyat kecil. Belum lagi nanti dalam pembagiannya pasti akan ada kericuha-kericuhan. Andai uang tersebut dialokasikan untuk membuka lapangan kerja, mungkin akan lebih bermanfaat. Atau untuk biaya pendidikan, sehingga anak-anak negeri ini tidak ada yang putus sekolah. Semua ank-anak negeri ini akan mengenyam pendidikan semua, jadi negeri ini terbebas dari keterpurukan pendidikan. Bisa dibilang 1 masalah terpecahkan. Masalah hutang negara yang begitu besar dan sampai sekarang belum lunas-lunas, bahkan terus bertambah. Andai milyader-milyader negeri ini mau menyumbangkan sebagian uang mereka untuk melunasi hutang negara, pastilah dari dulu-dulu negeri kita tercinta ini akan terbebas dari hutang…

  66. Teguh Aditya Says:

    wuihh banyak bener yang komen..

  67. hugo chavez Says:

    kisruh harga BBM rakyat jd bingung.versi ICP(indonesia crude price),pasar spot singapura harga minyak kt berkisar 80-90 d0llar.pemerintah ngaku memberikan subsidi,sementara kasus pembelian minyak oleh pertamina untuk konsumsi dalam negeri dgn broker singapura harganya ga nyampe 90 dollar.jd bikin bingung publik.yg benar nasionalisasikan industri strategis.contoh venezuela,premium Rp 400,- UMR 3,8 jt.Tanyakan kenapa???

  68. Seberapa Siapkah Kita ? « Gunung kelir’s Weblog Says:

    […] 7, 2008 by kambingkelir Kenaikan Harga BBM yang menjulang dan di ikuti assesories lain yang ikut naik seperti angka frustrasi karena desakan […]

  69. genthokelir Says:

    salam kenal AA
    dalam menyikapi hal tersebut memang saya setuju dengan management
    jadi siapkah ?
    dan seberapa siapkah kita menghadapi krisis dan gejolaknya
    terima kasih

  70. Fitri Salawati Says:

    Numpang lewat seputar BBM….

    Sebagian adaa yg tdak mempermasalah harga BBM yg mahal…
    Karena memang mereka yg sdah terbiasaa dgn harga yg Mahal…
    Namun d sini kitaaa liad dan kitaa renungkan lagi, rasa solidaritas dan ikatan kita sbagai rakyat Indonesia…..
    kitaa d sini bukan cma hidup d satu daerah…
    Negara kita adl negara yg penuh dgn pandangan politik dan kekerasan oleh pejabat2 yg sma sekali tdk melihat dampak dari kerja mreka yg ingin menutupi APBN negara dgn apa yg cara menaikkan harga BBM…
    Kita liad rakyat bawah, ktika harga BBM naik apa yg akan mereka rasakan…
    Sudah nasib mereka pengangguran,hidup d golongan ekonomi yg minim,utk mndpatkan sesuap nasi sjaa susah…
    Jgn mentang2 kitaa sdah mnjadi org yg berhasil dan sukses dan kekayaan kita sudah melimpah ruah tpi kita tdk mau membantu dan memperdulikan saudara2 kitaaa yg nasibnya sangat malang dan hidupnya sengsara…
    Indonesiaaaa ini sngat bnyak kekayaan dari alamnyaaa,tpi bodohnya Indonesia tdk bsa mengolah dan memanfaatkan scara baik kekayaan bangsanya sendiri,tpi malah org asing yg puas dgn kekayaan kita sendiri…
    Cntohnya BBM,knpaa tdak harga batu bara yg d naikkan…
    selama ini kitaaa tdk sadar klu batu bara itu merupakan salah satu bahan yg jga mempunya harga,malah bahan trebut d produksi oleh orang asing…
    Orang Indonesia ini terlalu banyak gengsi dan ingin menampakkan klu negaranya bsa maju dan brkembang sperti negara laennya…
    Tpi cara mreka salah,ingin maju tpi malah menyesengsarakan rakyatnya sendiri…
    mereka malah menghambur2kan yang dan berpoya2 utk tour k luar negeri tnpa alasan yg jelas…

    Negara Indonesia skrg bukan sperti d masaa 80 thn yg lalu…
    Terlalu sadis trhadap rakyatnyaaa sendiri,perilaku dan sikap merekaa membuat rakyat kecil tercekik dan mati perlahan karna kelaparan, tertindas oleh mreka…
    Begitu bnyak d negara kita yg mnjadi gelandangan,pengemis,pengamen…
    itu krena apa,karena pemerintah tdk bsaa memberikan sosial yg baik utk rakyatnya…
    Egois dan hanya memikirkan ksenangan sendiri…
    Ingin punya rumah yg mewah,mobil yg banyak tpi modal semuanya itu d dptkan dgn cara korupsi uang rakyat….

    Manaa pemimpin yg skrg ini dan dulu d pilih dan ingin mensejahterakan rakyat,,,
    semuanya BULSHIIIIITT…………!!!!!!!!!!
    Buktinyaaaaa diaa yg membuat bnyak rakyat menderitaaa,sampe2 semuaaa pejabat bsa d permainkan hanyaa dgn sejumlah nilai uang yg dia berikan….

  71. adinoto's blog » Blog Archive » Repost: Pandangan Saya Seputar Kenaikan BBM (Menaikkan Harga BBM = Tidak Mampu Memanage Keuangan Negara!) Says:

    […] satu komen baru pada posting tua saya di tahun 2008 (11-05-2008) http://adinoto.org/?p=687″mengingatkan saya pada kenyataan bahwa posting lama tersebut masih diminati pengunjung dengan […]

  72. suyitno Says:

    seputar kenaikan bbm apa tg menjadi kebijakan pemerintah adalah kebijakan untuk rakyat indonesia ,karena pemerintah yang tahu yang kerja ,bukan para elit polotik ,dalam hal ini kami harapkan kepada para elit apa yang menjadi kebijakan pemerintah jangan di politisi tapi di bantu mencari solusi yg terbaik utk kepentingan rakyat indonesi contoh subsidi bbm banyak dinikmati oleh orang berduit kalau menurut saya pertamina coba mengeluarkan kartu pembelian bbm pisahkan antara kartu bbm bersubsidi dan kartu non subsidi,dalam hal ini SPBU melayani bbm disesuaikan dengan kartu pelanggan . nah dalam bagaimana cara pelanggan menerima kartu pelanggan , menurut saya fungsikan aparat kepolisian pada waktu sipelanggan mengurus STNK ,polisi pasti tahu kendaraan mana yang wajib menerima kartu pelanggan ,asal jangan tukang ojek dikasih kartu pelanggan non subsidi atau petani sawah buat traktor dalam hal ini kami harapkan pemerintah lebih arif dan bijaksana ,saya seorang karyawan kecil sangat sedih bilamana melihat demo mahasiswa atau demo dari yang lain bakar bakaran sampai ribut sama polisi , jagalah kewibawaan pemerintah terbentuknya pemerintah adalah untuk kita sendiri ,untuk seluruh rakyat indonesia bukan perang sesama elit politik jadilah negara yang betul betul demokrasi kita wajib menjujung tinggi hasil demokrasi tersebut dari yitno bandung

  73. Mobil Bbm Irit Serasa Naik Motor | Xpower Penghemat BBM Terbaik Post Says:

    […] adinoto.org […]

Leave a Reply

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in