Pandangan Saya Seputar Kenaikan BBM (Menaikkan Harga BBM = Tidak Mampu Memanage Keuangan Negara!)

Social Add comments

Pemerintah akan menaikkan harga BBM. Biarpun Presiden SBY sudah menyatakan tahun lalu bahwa pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM, kenyataannya mau ga mau pemerintah menjilat omongannya sendiri tahun ini dengan solusi HARUS Menaikkan harga BBM.

Pemerintah dengan rajinnya me”sosialisasikan” via media televisi dan lain-lain bahwa konon “Yang menikmati subsidi BBM itu adalah masyarakat mampu”. Beberapa kali pejabat teras negeri ini menyatakan “Loh yang naik mobil ini orang mampu kan?”. Ajaib serasa saya harus mendengarkan ocehan orang tua mutlak ke anak kecil.

Ini agak aneh. Negara ini adalah PRODUSEN MINYAK. Kita memproduksi minyak lebih kurang 1 juta barrel per hari (Setara dengan harga minyak dipasaran hari ini yaitu 120-an dollar se barrel berarti setara dengan lebih kurang 1,150,000,000,000 rupiah per hari). Pembenaran bahwa kita adalah produsen minyak mentah tapi bukan produsen minyak jadi (siap dipergunakan) adalah sama dengan buang body, lah salah sendiri kenapa sudah dikasih waktu sekian lama malah ga pernah mau mengolah sendiri? Lebih aneh lagi adalah tahun 70an ketika harga minyak meroket karena perang Timur Tengah, kita justru menikmati Petro Dollar. Loh kondisi yang sama sekarang kok kita sama sekali ga menikmati hasil produksi minyak kita?

Para pakar dan eksekutif di pemerintahan bisa bilang bahwa kita kekurangan alokasi APBN, bahwa APBN mengasumsikan subsidi minyak di harga 80 dollar per barrel (yang pada kenyataannya sekarang di kisaran 120 dollaran), nah yang pernah dipikirin para pejabat itu apa sih? Apakah tidak ada pilihan lain??

Jangan-jangan memang pemerintah tidak pernah mikirin dan nonton film Dave (1993). Salah satu adegan di film Dave adalah ketika Charles Grodin berhasil mengalihkan alokasi pengentasan dan pendidikan buat orang-orang tak memiliki rumah dan anak jalanan lain. Pak SBY blon nonton? Saya saranin wajib nonton buat semua anggota kabinet biar keluar lagi hati nuraninya Pak!

Ketika harga BBM dinaikan, para pejabat sih ga masalah meng-adjust pendapatannya. Pernah kepikiran ga pak dampak kenaikan pangan di masyarakat bawah? Makan warteg udah ga bisa dibawah 10 ribu rupiah lagi, dan dijamin makin banyak masyarakat makan nasi aking!

73 Responses to “Pandangan Saya Seputar Kenaikan BBM (Menaikkan Harga BBM = Tidak Mampu Memanage Keuangan Negara!)”

  1. Dicky Light Says:

    semuanya sudah terlambat…dan serba terlambat…namun kita masih punya satu yang masih cepat yaitu paling cepat terpengaruh ekonomi global….kini siapa yg mesti kita salahkan….???kenapa…???karna sudah telalu banyak yang salah…???silih berganti sudah pemimpin ku namun hanya menambah volume yang salah…wahai pemimpin-pemimpin ku…kini terserah kalian…terserah bagian manalagi yang akan kalian lobangi…terserah kalian bagian manalagi yang akan kalian cabut cabuti diperahu yang sungguh tak kokoh ini…terserah kalian bagian yang mana yang akan kalian jual kepada kapal asing yang besar itu….perahu ini adalah milik kalian…karena kalianlah yang kendalikan…kami ini hanyalah penumpang…yang mungkin dimata kalian mungkin kami ini hanyalah penumpang tiada arti walaupun darah kakek nenek dan orang tua kami pernah tumpah karena membuat kapal ini…paling paling kami tenggelam walaupun entah dimana akan tenggelam….terima kasih duhai pemimpinku…

  2. A Special Gift For Everyone » Terbaru » Jangan Tunda Lagi Kenaikkan Harga BBM Says:

    […] saya ini sepertinya berseberangan dengan pendapat AA Nata. Tapi saya nggak pernah lho nyebut beliau dengan sebutan OO Noto. Kemarin khabarnya Pak Amin Rais […]

  3. Baskoro Says:

    Tergoda oleh persuasi Aa Nata perkenankan saya urun rembug soal krisis BBM:
    Kenaikan harga BBM bukanlah ulah pemerintah, tetapi akibat mekanisme pasar dunia. Mensubsidi harga minyak juga bukan tugas pemerintah. Secara teori, subsidi tidak dapat dibenarkan, menunjukkan tidak efisiennya perekonomian. Secara kebijaksanaan subsidi diperbolehkan, tetapi hanya untuk sementara.

    Perlu dicatat mensubsidi harga bukan keharusan apalagi kewajiban pemerintah. Kalau itu kewajiban kenapa tidak semua barang disubsidi harganya? Kita tidak hanya menambang minyak, tetapi juga emas, perak, besi, batubara dsb. Kenapa hanya minyak yang disubsidi?

    Maka, sekali lagi, subsidi hanyalah instrumen fiskal yang bersifat sementara, dilakukan untuk suatu tujuan yang terbatas. Subsidi minyak misalnya, dapat diterima karena dianggap besar pengaruhnya kepada kenaikan harga-harga barang lainnya. Subsidi ini lambat laun harus dikurangi, untuk itu pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan misalnya, konversi dan penghematan energi, pengembangan energi alternatif dsb.

    Lalu, bagaimana soalnya kalau subsidi itu bukannya berkurang malah bertambah. Banyak orang menolak kenaikan harga minyak seakan-akan pemerintah yang bersalah atas kenaikan harga atau seakan-akan pemerintah wajib mensubsidi harga minyak itu.

    Pemerintah Indonesia sudah mensubsidi harga BBM, seingat saya nilainya mencapai 120 trilyun pada asumsi harga minyak $90 per barrel. Subsidi BBM ini saja sudah menelan sekitar 15% penerimaan negara yang hanya berkisar 900 trilyun.

    Dalam pada itu, trend pasar dunia menunjukkan kenaikan harga minyak yang sangat cepat. Batas asumsi $90 sudah lama lewat, sekarang harga diperkirakan akan menembus $120. Kalau hal itu terjadi, subsidi BBM akan meledak mencapai 250 trilyun, atau lebih dari 25% APBN.

    Apa yang mungkin terjadi bila APBN dipaksa untuk menanggung beban sebesar itu? Tidak jauh berbeda dengan rumah tangga biasa, adanya beban biaya baru akan mengurangi alokasi untuk yang lain, misalnya pembangunan infrastruktur, jaminan kesehatan untuk orang miskin, pendidikan dsb. Akibat pemotongan ini tidak dirasa sekarang, tetapi baru beberapa tahun kemudian.

    Bahaya yang paling besar adalah merosotnya kepercayaan kepada kemampuan keuangan negara untuk memnuhi kewajibannya. Kita tahu negara kita memiliki utang ke luar maupun ke dalam negeri. Dengan beban subsidi mencapai lebih dari 25% APBN, negara akan sangat rentan , sulit menanggung satu pukulan fiskal yang baru, misalnya bencana atau kenaikan harga pangan yang drastis. Apa yang terjadi kalau negara kita dinyatakan default, tidak bisa bayar utang? Kita harus mengutang lagi ke IMF atau World Bank, dengan resiko kita akan didikte habis-habisan seperti dulu.

    Tetapi yang lebih ditakutkan adalah pukulan psikologis ketimbang pukulan yang nyata. Merosotnya kepercayaan akan ketangguhan APBN dapat mendorong pengusaha-pengusaha melarikan uangnya ke luar negeri, disebut capital flight. Langkah ini akan menyebabkan bank-bank bangkrut, dan kemudian juga industri. Kita akan jatuh lagi ke dalam krisis ekonomi seperti 1997/1998 yang lalu.

    Jadi masalahnya lebih dari soal kepemimpinan. Siapapun presidennya ia harus menghadapi masalah ini? Kalau anda percaya bahwa hanya Suharto pemimpin yang hebat, apa kira-kira akan diperbuatnya?

    Efisiensi adaministrasi pemerintahan, termasuk BUMN? Itu tidak bisa dilakukan sekedipan mata. Langkah terpenting disini telah dilakukan, yaitu pemberantasan korupsi. Kalau semua pembuian koruptor, baik yang mantan menteri, gubernur, jenderal dsb masih belum meredakan korupsi di sini, itu jelas karena korupsi telah berurat berakar, menyusup dari ujung rambut sampai telapak kaki masyarakat kita.

    Meningkatkan keuntungan BUMN? Sudah pasti semua setuju. Tetapi mari kita lihat angkanya. Laba BUMN 2008 diharapkan naik 13,4% menjadi 81,2 trilyun. Kalau kita paksa naik 25%, tambahan laba tidak mencapai 10 trilyun. Itu pun penjual tiket KA harus siap menebalkan muka, dicaci: “BUMN kok cari untung!”

    Diversifikasi energi? Kita senang minyak tanah telah diganti gas, ini harus diperluas. Tetapi kita juga perlu mengerti bahwa adalah ladang-ladang biofuel yang luas di Brazil dan AS yang menyebabkan produksi pangan turun, dan harga pangan meningkat pesat belakangan ini. Apa yang terjadi kalau semua tebu kita buat etanol, semua kelapa sawit kita olah jadi premium?

    Adapun penghematan energi, justru tidak akan berkembang kalau harga energi disubsidi. Apa alasan masyarakat menghemat kalau ia bisa beli di pasar dengan harga murah?

    Saya bukannya bermaksud membuat apologia untuk pemerintah. Saya hanya berpikir bahwa perspektif yang berkembang di masyarakat sangat tidak seimbang. Menurut pendapat saya masalah kenaikan harga minyak ini bukan masalah pemerintah saja, ini juga masalah saya, masalah kit semua. Ia datang akibat lonjakan permintaan ekonomi raksasa yang tumbuh di Cina, India, Brazil dan Rusia. Padahal penawaran minyak justru surut karena faktor alamiah seperti di Indonesia atau karena perang seperti di Irak. Bila harga minak kemudian naik, selayaknya kita juga menanggung beban itu, tidak fair apabila kita minta pemerintah sendirian menanggungnya.

    Saya yakin masyarakat kita masih mau berkorban, karena mereka tahu ini bukan untuk keuntungan orang-seorang, tetapi justru untuk mempertahankan martabat bangsa dan negara kita.

  4. Rafki RS Says:

    Sedih rasanya melihat aksi-aksi penolakkan kenaikan harga BBM oleh mahasiswa. Mahasiswa seperti kehilangan pegangan dan kendali serta arah perjuangan. Gerakkan tak terarah ini sangat rentan disusupi oleh kepentingan-kepentingan politik para elit politik.

    Saya mahfum jika kemarin BIN mengindikasikan bahwa aksi-aksi mahasiswa saat ini sudah ditunggangi para mantan pejabat yang merasa tersingkirkan dari sistem pemerintahan sekarang, ataupun pejabat atau mantan pejabat korup yang berusaha mengalihkan isu pemberantasan korupsi yang berkembang di masyarakat belakangan ini akibat sepak terjang KPK yang mulai agresif.

    Mudah-mudahan mahasiswa tetap waspada !!!

  5. adinoto Says:

    Kepada Mas Baskoro:
    Terima kasih atas sharing data dan informnya.

    Seperti Pak Kwik yang selalu membawa data dalam setiap argumennya (btw, kemaren sempet nonton ga dialog di Metro itu?) Pak Kwik juga mengutarakan soal itung-itungan angka pendapatan dan pengeluaran (serta yg berhubungan dengan pendapatan BBM) yang saya yakin menarik dan dimahfumi oleh sebagian (kita) masyarakat terdidik (dan mungkin sulit dipahami) masyarakat awam di pedesaan yang belum tersentuh informasi.

    Intinya adalah semua bagaimana kita bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat tanpa membebani pengeluaran negara. Ini adalah task yang harus dihadapi oleh pemimpin manapun yang bertugas memimpin negeri ini.

    Dan seperti halnya CEO diperusahaan (bedanya ini CEO atas 200 juta pegawai yang tidak dibayar), ketukan palu berarti adalah pilihan (dengan segala konsekuensinya). Seperti saya setuju dengan semua argumen diatas (termasuk pro rakyat seperti tulisan Arvino), pilihan akan mengetuk palu mengurangi subsidi atau tidak itu hanyalah pilihan yang semua mengandung konsekuensi.

    Paling berat dengan kondisi pembangunan demokrasi tahap seperti di Indonesia semua rawan serangan (baik yg berniat dengan ketulusan) atau for the sake of manuver politik dan dilakukan oleh semua komponen yang bersebrangan (legislatif vs eksekutif). Mirip orasi pak Habibie bahwa mereka (legislatif dan eksekutif) harus berenti berpolemik. Nah dengan model demokrasi ini, tujuan DIRECT sulit dilakukan.

    Dalam contoh perusahaan, seorang “Micro-Manager” (seorang yg mengurus sesuatu down to detail) seperti seorang Steve Jobs sulit ditemukan. Either dia totally Superb ato a total tyrant.

    Kalo semua dilakukan dengan dasar untuk kepentingan rakyat maka proses efisiensi BUMN dan lain sebagainya mungkin lebih bisa cepat diakselerasi. Kalo modelnya seperti sekarang (banyak yang sembunyi tangan dan main kucing-kucingan) kayaknya sampe kapan juga sulit liat BUMN bisa menjadi efisien dan profitable.

    Satu lagi data yang cukup mengagetkan dibuka Dr.Kwik adalah pada jaman pemerintahan sebelum ini ada Empat Puluh Empat (44) BUMN profit yang di lego. Buset. Ini angka ga main-main. Pembenaran bahwa apa bedanya dibeli Asing ato Aseng cukup jadi retorika pembenaran untuk masa pemerintahan 5 tahunan. Nah untuk kemudian menjadi beban di pemerintahan sesudahnya (contoh: BCA dijual ke pihak asing dengan harga hanya 20 Trilyun dimana nilai nya dibawah harga pasar dan sekarang senilai 400 Trilyun) bagaimana akan melakukan proses buy-back dengan beban 20 kali lipat seperti itu?

    Apakah terus berarti kita masih butuh model demokrasi yang lain? Seperti dahulu pernah eksperimen dimasa-masa yang lampau. Mungkin kita belum cukup tua untuk bisa hidup dan mendengar di masa itu, tapi pembelajaran ini mahal. Dahulu ada kabinet 100 menteri dan Demokrasi Terpimpin, apa artinya dulu (mungkin) kita pernah mengalami chaos karena keterbukaan demokrasi yang resultante nya tidak menghasilkan apa-apa selain kegaduhan?

    Mungkinkah ini jadi pembelajaran lebih mahal lagi ke generasi kita dikemudian hari supaya tidak terulang lagi?

    Apakah media internet ato media lain bisa jadi pembelajaran buat generasi setelah kita?

    Semua hanya waktu yang bisa membuktikan. Dan mungkin kita tidak pernah melihat hari itu karena kita keburu sudah tidak exist di dunia ini.

  6. adinoto’s blog » Blog Archive » Pelajaran Moral dari Sebuah Film Berjudul Dave (1993) - Kevin Kline, Sigourney Weaver Says:

    […] seperti pernah saya utarakan sepintas di posting sebelum ini, bercerita tentang seorang pegawai penyalur tenaga kerja, bernama Dave yang kebetulan memiliki […]

  7. Harga BBM dan Subsidi « Kisah Dua Dunia Says:

    […] dan dorongan untuk hidup tidak produktif. Membaca posting dan komentar di blog-nya Adinoto tentang Kenaikan BBM, berikut ini adalah opini saya yang dikaitkan dengan pengantar subsidi di […]

  8. SatriaK Says:

    Kita ketahui sekarang ini “Bandung Heurin ku Angkot”. Bagaimana konsep Aa Noto untuk mengurangi konsumsi BBM di kota Bandung?

  9. adinoto Says:

    # SatriaK Says:
    May 17th, 2008 at 4:40 pm e

    Kita ketahui sekarang ini “Bandung Heurin ku Angkot”. Bagaimana konsep Aa Noto untuk mengurangi konsumsi BBM di kota Bandung?

    => Kalo anda mengikuti tulisan diblog ini mungkin akan tau solusi yang pernah saya utarakan. Termasuk permasalahan sepeda motor dan transportasi publik.

  10. solihin Says:

    seharusnya pemerintah memsubsidi orang-orang yang sudah mampu menemukan bahan bakar minyak alternatip sehingga secara langsung dapat membantu rakyat kecil. jangan cuma ngomong doang

  11. masliliks Says:

    subsidi bbm bukan buat rakyat. subsidi itu dibayarken ke penjuwal minyak, sehingga menutupi kekurangan saldo keuntungannya apabila minyak itu dijuwal ke luar negri. si penjuwal minyak sekarang ini getol menjuwal sumur2 minyaknya ke perusahaan laen, yang pada gilirannya membawa minyak itu untuk disuling di negara tetangga, trus si penjuwal minyak membeli minyak sulingan itu, tengtu dengan harga internasional.nah, agar bisa harganya ditekan didalem negri, si penjuwal minyak mintak pemerintah yang nombokin. ngitungnya pun per gerobak minyak yang keluar dari pangkalan.lha iya kalo grobak itu nyampe ke konsumen. kalo mampir dulu ke pabrik?
    pihak lain, apa iya semua pabrik mau beli minyak seri AB seharga dua kali lipat dari minyak seri AB yang dijual eceran kepada mobil/motor?
    CMIIW

  12. adinoto Says:

    # masliliks Says:
    May 19th, 2008 at 6:02 pm

    subsidi bbm bukan buat rakyat. subsidi itu dibayarken ke penjuwal minyak, sehingga menutupi kekurangan saldo keuntungannya apabila minyak itu dijuwal ke luar negri. si penjuwal minyak sekarang ini getol menjuwal sumur2 minyaknya ke perusahaan laen, yang pada gilirannya membawa minyak itu untuk disuling di negara tetangga, trus si penjuwal minyak membeli minyak sulingan itu, tengtu dengan harga internasional.nah, agar bisa harganya ditekan didalem negri, si penjuwal minyak mintak pemerintah yang nombokin. ngitungnya pun per gerobak minyak yang keluar dari pangkalan.lha iya kalo grobak itu nyampe ke konsumen. kalo mampir dulu ke pabrik?
    pihak lain, apa iya semua pabrik mau beli minyak seri AB seharga dua kali lipat dari minyak seri AB yang dijual eceran kepada mobil/motor?
    CMIIW

    => Bahasanya bagus banget kan 😀 Penuh kiasan 😀

  13. adinoto Says:

    # solihin Says:
    May 18th, 2008 at 9:45 am

    seharusnya pemerintah memsubsidi orang-orang yang sudah mampu menemukan bahan bakar minyak alternatip sehingga secara langsung dapat membantu rakyat kecil. jangan cuma ngomong doang

    => Toel kang. Kalo kita buka juga free energy nanti takut diculik pula 😀

  14. edwin Says:

    kalo membaca komenter2 di atas, walaupun teuteup ada pro kontra untuk subsidi BBM, seperti-nya permasalahan utama yg lain (selain harga minyak dunia yg terus meroket) adalah pembenahan administrasi negara, pemberantasan korupsi dll termasuk penghematan di segala sektor serta efektivitas penyaluran dana ke masyarakat dll…maksud-nya nggak melulu harus mengurangi subsidi BBM (walaupun itu termasuk salah satu opsi)…

    penjelasan Mas Baskoro amat-lah efektif untuk pengertian pembengkakan APBN seandainya subsidi terus dilakukan…lama2 bisa bangkrut negeri ini kalo BBM di-subsidi terus…pengurangan subsidi bisa jd ajang pembelajaran untuk segala lapisan masyarakat asal segala aspek pengejawantahan-nya dilakukan dgn tepat…

    Re. Brunei.
    IMO, kebiasaan masyarakat Brunei nggak bisa di-sama-in dgn masyarakat Indonesia…se-pendek pengetahuan saya, Pemerintah Brunei mengalami kesulitan untuk mencari tenaga kerja kasar (buruh bangunan dkk-nya)…kenapa…? karena masyarakat sana sudah cenderung terlalu merasa nyaman dgn kondisi negeri-nya…kalo nggak salah di sana sudah serba nyaman, masyarakat nggak perlu keluar banyak biaya hidup…walhasil, Pemerintah Brunei lebih banyak ngambil tenaga kerja antara lain dr Indonesia & Philipinnes…

    Re. minyak Indonesia dikuasai asing…?
    sebener-nya memang ada banyak perusahaan asing yg menjadi kontraktor di banyak lapangan minyak di Indonesia…tapi itu semua ada yg mengawasi yaitu BPMigas…semua aktivitas kontraktor harus sepengetahuan dan persetujuan BPMigas…dan untuk Hydrocarbon yg di-hasilkan, nggak semua lari ke perusahaan asing itu…Indonesia jg dapet kok bagian-nya…nggak herhan kan sekarang se-tingkat Kabupaten aja pada ngotot minta bagian…

  15. ayayl Says:

    saya ga setuju banget dengan kenaikan bbm ni. Alasannya, kalau harga bbm naik makan angkutan umum pun akan menaikan tarifnya. Berawal dari itu harga bahan pokok di pasaran pun akan naik. Siapa coba yang akan sengsara? Rakyat kecil kan? Anak sekolah pun terkena dampaknya, angkutan naik, harga makanan naik, namum orang tua mereka tak mampu menambah uang saku mereka. Akan lebih bamyak anak yang putus sekolah hanya gara-gara orang tua mereka tidak mampu memberi anak mereka uang saku lebih. Ok! mungkin bagi mereka yang berangkat sekolah cukup dengan berjalan kaki/naik sepeda, kenaikan bbm tak menjadi masalah. Tapi mereka-mereka yang harus naik angkutan umum untuk dapat sampai ke sekolah, itu menjadi masalah yang lumayan rumit. Dari pada menghilangkan subsidi bbm dan membagi-bagikan uang subsidi tersebut kepada rakyat kecil yang mungkin tak akan efektif karena dana tersebut tidak sampai pada orang-orang yang pantas mendapat uang tersebut. Atau malah uang yang untuk rakyat tersebut tidak sampai kepada rakyat kecil. Belum lagi nanti dalam pembagiannya pasti akan ada kericuha-kericuhan. Andai uang tersebut dialokasikan untuk membuka lapangan kerja, mungkin akan lebih bermanfaat. Atau untuk biaya pendidikan, sehingga anak-anak negeri ini tidak ada yang putus sekolah. Semua ank-anak negeri ini akan mengenyam pendidikan semua, jadi negeri ini terbebas dari keterpurukan pendidikan. Bisa dibilang 1 masalah terpecahkan. Masalah hutang negara yang begitu besar dan sampai sekarang belum lunas-lunas, bahkan terus bertambah. Andai milyader-milyader negeri ini mau menyumbangkan sebagian uang mereka untuk melunasi hutang negara, pastilah dari dulu-dulu negeri kita tercinta ini akan terbebas dari hutang…

  16. Teguh Aditya Says:

    wuihh banyak bener yang komen..

  17. hugo chavez Says:

    kisruh harga BBM rakyat jd bingung.versi ICP(indonesia crude price),pasar spot singapura harga minyak kt berkisar 80-90 d0llar.pemerintah ngaku memberikan subsidi,sementara kasus pembelian minyak oleh pertamina untuk konsumsi dalam negeri dgn broker singapura harganya ga nyampe 90 dollar.jd bikin bingung publik.yg benar nasionalisasikan industri strategis.contoh venezuela,premium Rp 400,- UMR 3,8 jt.Tanyakan kenapa???

  18. Seberapa Siapkah Kita ? « Gunung kelir’s Weblog Says:

    […] 7, 2008 by kambingkelir Kenaikan Harga BBM yang menjulang dan di ikuti assesories lain yang ikut naik seperti angka frustrasi karena desakan […]

  19. genthokelir Says:

    salam kenal AA
    dalam menyikapi hal tersebut memang saya setuju dengan management
    jadi siapkah ?
    dan seberapa siapkah kita menghadapi krisis dan gejolaknya
    terima kasih

  20. Fitri Salawati Says:

    Numpang lewat seputar BBM….

    Sebagian adaa yg tdak mempermasalah harga BBM yg mahal…
    Karena memang mereka yg sdah terbiasaa dgn harga yg Mahal…
    Namun d sini kitaaa liad dan kitaa renungkan lagi, rasa solidaritas dan ikatan kita sbagai rakyat Indonesia…..
    kitaa d sini bukan cma hidup d satu daerah…
    Negara kita adl negara yg penuh dgn pandangan politik dan kekerasan oleh pejabat2 yg sma sekali tdk melihat dampak dari kerja mreka yg ingin menutupi APBN negara dgn apa yg cara menaikkan harga BBM…
    Kita liad rakyat bawah, ktika harga BBM naik apa yg akan mereka rasakan…
    Sudah nasib mereka pengangguran,hidup d golongan ekonomi yg minim,utk mndpatkan sesuap nasi sjaa susah…
    Jgn mentang2 kitaa sdah mnjadi org yg berhasil dan sukses dan kekayaan kita sudah melimpah ruah tpi kita tdk mau membantu dan memperdulikan saudara2 kitaaa yg nasibnya sangat malang dan hidupnya sengsara…
    Indonesiaaaa ini sngat bnyak kekayaan dari alamnyaaa,tpi bodohnya Indonesia tdk bsa mengolah dan memanfaatkan scara baik kekayaan bangsanya sendiri,tpi malah org asing yg puas dgn kekayaan kita sendiri…
    Cntohnya BBM,knpaa tdak harga batu bara yg d naikkan…
    selama ini kitaaa tdk sadar klu batu bara itu merupakan salah satu bahan yg jga mempunya harga,malah bahan trebut d produksi oleh orang asing…
    Orang Indonesia ini terlalu banyak gengsi dan ingin menampakkan klu negaranya bsa maju dan brkembang sperti negara laennya…
    Tpi cara mreka salah,ingin maju tpi malah menyesengsarakan rakyatnya sendiri…
    mereka malah menghambur2kan yang dan berpoya2 utk tour k luar negeri tnpa alasan yg jelas…

    Negara Indonesia skrg bukan sperti d masaa 80 thn yg lalu…
    Terlalu sadis trhadap rakyatnyaaa sendiri,perilaku dan sikap merekaa membuat rakyat kecil tercekik dan mati perlahan karna kelaparan, tertindas oleh mreka…
    Begitu bnyak d negara kita yg mnjadi gelandangan,pengemis,pengamen…
    itu krena apa,karena pemerintah tdk bsaa memberikan sosial yg baik utk rakyatnya…
    Egois dan hanya memikirkan ksenangan sendiri…
    Ingin punya rumah yg mewah,mobil yg banyak tpi modal semuanya itu d dptkan dgn cara korupsi uang rakyat….

    Manaa pemimpin yg skrg ini dan dulu d pilih dan ingin mensejahterakan rakyat,,,
    semuanya BULSHIIIIITT…………!!!!!!!!!!
    Buktinyaaaaa diaa yg membuat bnyak rakyat menderitaaa,sampe2 semuaaa pejabat bsa d permainkan hanyaa dgn sejumlah nilai uang yg dia berikan….

  21. adinoto's blog » Blog Archive » Repost: Pandangan Saya Seputar Kenaikan BBM (Menaikkan Harga BBM = Tidak Mampu Memanage Keuangan Negara!) Says:

    […] satu komen baru pada posting tua saya di tahun 2008 (11-05-2008) http://adinoto.org/?p=687″mengingatkan saya pada kenyataan bahwa posting lama tersebut masih diminati pengunjung dengan […]

  22. suyitno Says:

    seputar kenaikan bbm apa tg menjadi kebijakan pemerintah adalah kebijakan untuk rakyat indonesia ,karena pemerintah yang tahu yang kerja ,bukan para elit polotik ,dalam hal ini kami harapkan kepada para elit apa yang menjadi kebijakan pemerintah jangan di politisi tapi di bantu mencari solusi yg terbaik utk kepentingan rakyat indonesi contoh subsidi bbm banyak dinikmati oleh orang berduit kalau menurut saya pertamina coba mengeluarkan kartu pembelian bbm pisahkan antara kartu bbm bersubsidi dan kartu non subsidi,dalam hal ini SPBU melayani bbm disesuaikan dengan kartu pelanggan . nah dalam bagaimana cara pelanggan menerima kartu pelanggan , menurut saya fungsikan aparat kepolisian pada waktu sipelanggan mengurus STNK ,polisi pasti tahu kendaraan mana yang wajib menerima kartu pelanggan ,asal jangan tukang ojek dikasih kartu pelanggan non subsidi atau petani sawah buat traktor dalam hal ini kami harapkan pemerintah lebih arif dan bijaksana ,saya seorang karyawan kecil sangat sedih bilamana melihat demo mahasiswa atau demo dari yang lain bakar bakaran sampai ribut sama polisi , jagalah kewibawaan pemerintah terbentuknya pemerintah adalah untuk kita sendiri ,untuk seluruh rakyat indonesia bukan perang sesama elit politik jadilah negara yang betul betul demokrasi kita wajib menjujung tinggi hasil demokrasi tersebut dari yitno bandung

  23. Mobil Bbm Irit Serasa Naik Motor | Xpower Penghemat BBM Terbaik Post Says:

    […] adinoto.org […]

Leave a Reply

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in