Dimana Posisi Indonesia Dalam Ekonomi Digital?

Social, Technology Add comments

Beberapa hari yang lalu kita lagi gencar dengar di TV soal Pak Presiden SBY dan ibu Marie Pangestu soal pemberdayaan ekonomi kreatif? bahkan disebut-sebut soal Bill Gates segala.

Hmmm.. now I wonder, dimana sih sebenarnya posisi Indonesia dalam ekonomi digital? Yang ada selama ini cuma jadi konsumen (untuk perangkat keras), dan maksimum re-branding (modal kakap, buffer barang dari manufaktur, dan resell dengan margin di pasar lokal), atau ada kemungkinan jadi pemain perangkat lunak dunia? (satuan mungkin, dalam koridor konsep besar semua banyak hanya bayolan pertinggi saja).

Bagaimana bisa lah infrastruktur (baik manufakturing) dan infrastruktur layanan dan regulasi tidak mendukung? Mimpi indah? Yah namanya juga usaha bro!

Berikut adalah foto platform paling panas yang akan meramaikan kalender 2009. Intel Silverthrone (Atom chip) dibundel dengan NVIDIA all-in-one chip MCP79 a.k.a NVIDIA9400. Ring a bell boss? No you’re not! *Gua ragu para pejabat masih pernah peduli ini, kalo yang diributin cuma partai, pemilu, dan BBM

17 Responses to “Dimana Posisi Indonesia Dalam Ekonomi Digital?”

  1. mantan kyai Says:

    istilah baru neh. ekonomi digital. seep

  2. adinoto Says:

    mantan kyai Says:
    December 20th, 2008 at 10:31 am

    istilah baru neh. ekonomi digital. seep

    => Wakakaka… saingan sama nilaikeenomisan kang 😛 *ngacirrr 😀

  3. qoyyim Says:

    ekonomi analog ada ya

  4. adinoto Says:

    # qoyyim Says:
    December 20th, 2008 at 3:02 pm

    ekonomi analog ada ya

    => Ekonomi digital yaitu pemanfaatan silicon dan bit dan bytes untuk keuntungan maksimal. Seonggok sampah silicon bisa dijual dengan bisnis trilyunan dollar,

    Kalo ekonomi analog kayak sekarang mungkin, cari profit masih dari level pat pat gulipat tuker swap jual beli saham fiktif antara konglomerat, paper and plastic 😀

    *ngacirrrr ;P

  5. idarmadi Says:

    lha… pemerintah Indonesia khan emang paling paten tuh kalo mengeluarkan istilah dan mengemukakan wacana.

    Tapi kalo soal implementasi? BIG ZERO!!!

    Mumpung lagi ada nyenggol KREATIVITAS. Beberapa hari yang lalu saya mengajak keponakan saya ke Dufan. Di pintu masuk Ancol langsung ditagih 2 slip sumbangan PMI.
    Di sisi lain, pada hari yang sama, ketika belanja di SuperIndo, seperti biasa, ada angka < Rp.100,- dan saya ditanyakan apakah bisa Rp sekian disumbangkan supaya bulat ke angka 100? Sumbangannya ke UNICEF kalo tidak salah. NAH, itu baru KREATIF!!!!
    PMI, sebagai salah satu contoh dari organisasi bermental pegawai negeri, dari jadul nonton bioskop dikenai sumbangan PMI, sampe sekarang masih juga sumbangan via slip merah.
    Gimana nih Pak Marie?

  6. Adham Somantrie Says:

    wikinomics…

  7. Toni @ NavinoT Says:

    Tanda-tanda untuk tidak terlalu dependen ke pemerintah sudah semakin jelas. Pemerintah jalan dengan agendanya sendiri, yang mungkin jauh berbeda dengan apa yang ada di pikiran kita.

    Ya sudah, jadi mari kita urus diri kita sendiri. Tak usah ada cita-cita setinggi langit mencerdaskan bangsa dan negara. Cukup yang sederhana saja, buat yang bisa kita sentuh di sekitar kita.

    Halah :)). Ya gitulah,gk bakalan ada yang mau ngurusin kita selain diri kita sendiri.

  8. ario saja Says:

    ekonomi digital ?? apaan tuh

  9. sufehmi Says:

    Bagaimana bisa lah infrastruktur (baik manufakturing) dan infrastruktur layanan dan regulasi tidak mendukung?

    Tapi kalo soal implementasi? BIG ZERO!!!

    Selama ini sudah cukup banyak kawan-kawan kita yang sukses tanpa mengandalkan bantuan pemerintah.

    Lalu beberapa hari yang lalu pemerintah mendukung dengan menjadi driver dalam pembentukan MIKTI – Masyarakat Industri Kreatif & Teknologi informasi Indonesia

    2009 ini sudah ada beberapa rencana follow up nya. Mudah-mudahan bisa kita segera kerjakan & nikmati bersama-sama.

  10. ryosaeba Says:

    wah itu board nvidia-nya nggak ada slot PCI-nya ya

  11. wiwit r fatkhurrahman Says:

    salam mas adinoto… senang sekali saya bisa menemukan rumah digital anda. sangat nyaman rupanya.

    kalau anda masih ingat saya wiwit r fatkhurrahman, staf legal mba Yenni. dulu saya kenal dengan anda waktu rapat di Kalibata (setjen dpp pkb). sampean saat itu diminta mba yenni masuk sebagai pengurus lpp-dpp pkb. tapi karena konflik, lpp tak jalan sampai sekarang.

    gmn kabarnya sekarang mas.

  12. adinoto Says:

    sufehmi wrote:
    2009 ini sudah ada beberapa rencana follow up nya. Mudah-mudahan bisa kita segera kerjakan & nikmati bersama-sama.

    -> Siyaaap kumendan! 😀 diantosan 😀

  13. adinoto Says:

    # ryosaeba Says:
    December 22nd, 2008 at 8:48 am

    wah itu board nvidia-nya nggak ada slot PCI-nya ya

    => Hehehe itu menunjukkan reference board untuk Nettop. Bakal rame Nettop apalagi NetBook berbasis NVIDIA 9400 nih tahun depan, yang means performance grafiknya meningkat sampe 10x lipat dibanding Intel GMA 950 😀

  14. adinoto Says:

    # wiwit r fatkhurrahman Says:
    December 22nd, 2008 at 10:49 am

    salam mas adinoto… senang sekali saya bisa menemukan rumah digital anda. sangat nyaman rupanya.

    kalau anda masih ingat saya wiwit r fatkhurrahman, staf legal mba Yenni. dulu saya kenal dengan anda waktu rapat di Kalibata (setjen dpp pkb). sampean saat itu diminta mba yenni masuk sebagai pengurus lpp-dpp pkb. tapi karena konflik, lpp tak jalan sampai sekarang.

    gmn kabarnya sekarang mas.

    => Hehehe halo mas Wiwit, ketemu lagi. Hehehe thanks atas link blognya, nanti saya mampir2 deh 🙂

    Hehehe iya kontribusi kita via LPP buat kepedulian dan kemasyarakatan masih tertunda hehehe… gpp kita kontribusi lewat jalan lain.

    Sekecil apapun semoga bermanfaat buat masyarakat banyak. Wadoh jadi ketahuan orang PKB atuh wakakkakaka *ngacirrr 😀

  15. Donny Verdian Says:

    Hayah, Bill Gates ada kan supaya tampak sangar saja supaya bisa sweeping warnet-warnet… Mainnya tetep duit, belum mainan variabel, solder, IC maupun motherboad, Kang!

  16. ivn Says:

    gak ngerti masalah ekonomi…

  17. hardjono Says:

    Pak,

    It seems there is very little infrastructure for R&D in ICT in Indonesia. Sehingga tidak ada “produk digital” (ex. software) yg bisa di export dari Indonesia. Adanya hanya konsumen2 elektronik buatan China, Japan dan Taiwan.

    Chicken-and-egg problem.

    My 2 cents 🙂

    [TH]

Leave a Reply

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in