Naikkan Terus Harga Elpiji, Kurang Puas? Naikkan Lagi :D

Social Add comments

Negara ini memang susah melupakan satu paling vital dan landasan kehidupan bernegaranya sendiri yaitu Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 33 dan lainnya (download di sini), bahwa

(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
(4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. ****)
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.****)

Dengan adanya rencana kenaikan harga elpiji sehingga mencapai harga keekonomiannya *what the fuck is that? maka pemerintah sudah melupakan bahwa dalam pasal 33 ayat 1 UUD’45 dinyatakan bahwa Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Maksudnya apa sih? Pemerintah sama rakyat bikin usaha bersama? 😀 Asas kekeluargaan ini maksudnya apa? SBY sama saya bersaudara? Ato sodara sapa yang sodaraan sama saya? Bingung* lah wong Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara aja dengan maksud bahwa Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat nya aja tidak dilakukan.

Maksut e iki opo to mas? Arep dinaikin harga elpiji? Yo monggo, kalo perlu 1 juta per 50 kilo ora opo-opo kok. Nanti saya bantu bikinin usaha bersama atas dasar kekeluargaan berbahan bakar gas kentut pejabat. Kayaknya lebih maknyos karena baunya lumayan. Sudah terbukti selama menjabat banyak abab ma kentut doang yang keliatan hasilnya kok.

25 Responses to “Naikkan Terus Harga Elpiji, Kurang Puas? Naikkan Lagi :D”

  1. idham Says:

    hahaha Pertamax dulu ah komen seriusnya ntar

  2. rama Says:

    koyone nesu iki.. tenang mas, mereka masuk neraka ntar.

  3. Donny Verdian Says:

    Pertamax!!! (semoga pertamax beneran)
    Betul… emang mending kita bikin BBG aja.. Bahan Bakar Gas.. Kentut Pejabat…

    Biar rakyat, kita, kian mati saja setelah semua harga barang tinggi dan di genosida dengan bau gas kentut pejabat aja!

  4. kuncung Says:

    Ya mungkin karena harga belinya sudah terlalu mahal? Sehingga negara gak bisa menjual dengan harga sekarang. Kalau diteruskan akan rugi. Kalau terus merugi akan bangkrut. Masih untung kalau dinaikkan harganya supaya break-even.

    Kalau memang harga belinya tinggi dan gak boleh dinaikkan, alternatif lain apa coba?

  5. tenli Says:

    lha wong salah urus negara kok hehehe, dinikmati aja siapa tau benerean ada yg bisa bikin gas dari kentut pejabat:))

  6. firman Says:

    tenang… tenang… 😀

  7. didut Says:

    pasti lagi pusing ama budget rumah tangga 😛

    ane juga!! ARGHH!!

  8. rendy Says:

    semoga negeri ini menjadi lebih baik 🙂

  9. sueng Says:

    nggak tahu mau komen apa , ngan ngahuleung we wungkul. Rp 500/kg per bulan ? berarti rp 6000 pertabung perbulan kenaikkannya ? kayaknya ndak beda jauh sama cerita HC Andersen Raja yang suka narik upeti dari rakyatnya, apa bedanya sih ?

  10. pedagang cilik Says:

    klo gak dinaikin… mana bisa jalan mobilnya…. hehehehe

    ee…. salah…
    klo gak naikin harga…. mana bisa beli BMW baru….

    solusi back to nature… alias pake kayu bakar…

    ee…. susah ntar di gruduk grenpis… nebang pohon….
    susah emang jadi pedagang cilik, pake minyak tanah mahal, pake elpiji mo mahal.

  11. adinoto Says:

    # kuncung Says:
    August 24th, 2008 at 12:30 pm
    Ya mungkin karena harga belinya sudah terlalu mahal? Sehingga negara gak bisa menjual dengan harga sekarang. Kalau diteruskan akan rugi. Kalau terus merugi akan bangkrut. Masih untung kalau dinaikkan harganya supaya break-even.

    Kalau memang harga belinya tinggi dan gak boleh dinaikkan, alternatif lain apa coba?

    => Emang belinya kemana ya? Lah Arun itu termasuk LNG terbesar di dunia. Tiap hari di export bukannya di olah terus dipasarkan murah buat rakyat. Malaysia aja hari ini menurunkan harga BBM demi rakyatnya.

    Penghematan BBM yang katanya subsidi pun ga lebih cuma menghemat 10 Trilyun keuangan negara, yang akibat efek dominonya kemana-mana (semua barang dan aspek kehidupan jadi naik harganya), dari total kebutuhan 1000 Trilyun APBN negara. 10 dari 1000 mah ga ngefek kali mas, tinggal diselip-selipin kemana kalo emang niat mau ngeringanin beban rakyat.

    Sekarang ditambah dengan kelakuan Pertamina yang sontoloyo gini. Weleh2, emang mau jadi drakula rakyat serasa perusahaan swasta sendiri bisa semena-mena apa gunanya status bahwa ini BUMN yang minta proteksi sana-sini. Sekalian aja dibuka keran internasional, nanti harga di Indonesia lama-lama akan sama dengan luar negeri, dan ongkos tenaga kerja kita akan sama juga, sehingga tidak ada lagi keuntungan domestik karena status Indonesia yang low labor.

    Itungan-itungan matematika SD aja kok ga pada tau pejabat. Oh.. sorry bukan ga tau, itungannya berat ke perusahaan nenek moyangnya. Lupa kalo ybs sendiri sudah makmur dan ada masanya nanti pensiun juga dari Pertamina. Semoga nanti penerusnya juga menaikkan harga lagi sehingga dia juga ikut pusing bersama rakyat.

    Hidup Pertamina!

  12. adinoto Says:

    # sueng Says:
    August 24th, 2008 at 7:07 pm
    nggak tahu mau komen apa , ngan ngahuleung we wungkul. Rp 500/kg per bulan ? berarti rp 6000 pertabung perbulan kenaikkannya ? kayaknya ndak beda jauh sama cerita HC Andersen Raja yang suka narik upeti dari rakyatnya, apa bedanya sih ?

    => Hmm ngono ae lah pakde. Negoromu iki wis somplak. Jare wong londo ROTTEN!

  13. Sutan Kato Says:

    Untuk komentar #kuncung, itu adalah pola pikir pedagang. Sedangkan yg dimaksud di sini adalah tentang amanat dari kemerdekaan yang diperjuangkan.
    Jelas dinyatakan, hal2 yg berkait dengan hajat hidup orang banyak itu harus menjadi prioritas utama untuk dibuat jadi layak. Dan itu adalah hak rakyat. Kalau pemerintah tidak bisa membuat harga gas murah untuk rakyat, kesimpulannya sederhana. Pemerintah gagal mengurus negara! Kalau pemerintah menaikkan harga LPG agar sesuai dengan teori ekonomi, maka pemerintah tak mengerti apa cita-cita negara ini untuk merdeka. Lalu? bubarkan saja negara ini. Ya tho?

  14. caktopan Says:

    LPG NAEK LAGEE?
    MAK……kapan gajiku naik….

  15. Denny Says:

    waduh yg kerja di luar jawa ini yg pusing. Harga Gas disini (Manado) 2x lipat dari harga asli di Jawa.

  16. mBecak Says:

    sudah digaji, di beri fasilitas yang VVVVVVVVIP
    untuk ngurus rakyat, kok malah ngemplang duiki rakyat,
    naikan harga BBM, elpiji, jual aset negara, jual kekayaan
    negara…

    SBY,kasihan tuh rakyatnye, jangan cuman diri sendiri+kroninya aja yang enak.
    mau di kemanakan tuh UUD ’45….

  17. wolwol Says:

    maksudnya dengan asas kekeluargaan itu pan, ya memperkaya keluarga yg berhubungan dengan para atase di atas sana….
    gitu loh, dari yg gw tangkep sih
    bener kaga sih?

  18. rinonn Says:

    wuih juragane ngamuk iki…
    ya udah.. gimana klo PT ADINOTO segera akuisisi PERTAMINA, biar sumber daya Indonesia sebesar-besarnya untuk segenap rakyat Indonesia.. MERDEKA!

  19. mfajrinet Says:

    Yah, dah beginilah bang negeri kita ini…

  20. X Skull Says:

    Naek trusssss……… elpiji naek trusss…..
    tp apakah tiap bulan naek trusss elpiji ??
    ——————————————————–

    Hack aja PERTAMINA lewat phising

  21. wolwol Says:

    @x skull: hack pertamina lewat phising? udah gitu transfer gas elpiji lewat jaringan ya?
    *halah

  22. kanoko Says:

    BBG (Bahan Bakar Gas ..Kentut) kayaknya usul yang menarik tenan. Kemarin ada ide dari rekan untuk bikin Sumber energi baru PLTAM setelah tahu Listrik naik & LPG naik.. Pembangkit Listrik Tenaga Air Mata..jadi Rakyat miskin dikumpulin di bendungan suruh nangsi bareng-bareng…air mata ditampung dijadikan pembangkit tenaga listrik… memang tambah nggak benar semua..

  23. Jauhari Says:

    Aslinya Pemerintah Bisa ngatur Negara ini ndak ya? kok seperti KESERET ARUS alasan KLASIKnya

  24. Si Amang Says:

    mungkin penafsiran pasalnya kayak gini yak om ? (klo kata orang yg sekolah di SLB -sekolah langsung bisa, kerja=red-)

    (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.

    jadi hanya keluarga2 tertentu aja yg bisa pegang perekonomian.

    (2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

    memang banyak dikuasai negara, tapi sebagian lainnya banyak di kuasai negara luar, keluarga, pribadi dll.

    (3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

    bumi=tanah air=unsur kehidupan maka semuanya seolah jadi kendi yg di isi aer. Bumi memang luas, tapi kemana pindah di gusur…mau beli tanah mahalnya gak karuan. meski pendapatan dua digit..tetep aja harga tanah gila2an. belum lagi aer..duh..susah bener..sekalinya banyak aer..yg ada banjir.

    (4) Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. ****)

    wah ada yg ingat peajara PMP/PPKn gak yak bahwa adail itu relatif, bahwa kebersamaan pun ternyata relatif. waktu bbm naik..adil kan?? gas naik, adil kan?? tdl naik, adil kan?? dll dan semuanya berkelanjutan (sesuai pasal)
    berwawasan lingkungan, ya memang lingkungannya buruk..jadi wawasannya buruk juga. kemandirian kita terus di uji..sebenernya dimana asa gotong royongna..nu aya mah ngagogotong masalah…

    udin segini dlu om,..hiks..Ya Allah..hamba Mu ini tersiksa, ter-aniaya..

  25. caca Says:

    Akibat tidak mau merugi karena membandingkannya dengan harga-harga diluar negeri. Ini aneh, bagaimana jika ada orang tua yang menghitung untung rugi untuk membesarkan anak-anaknya? Ini yang terjadi pada bangsa ini dan yang jatuh kredibilitasnya ialah Pimpinan Negara.
    Seharusnya Presiden bertindak tegas, setiap BUMN yang selalu rugi atau tidak aspiratif terhadap rakyat, misalnya Pertamina, Bina Marga, semua PT Perkebunan, PT KIA, GIA dan lain-lainnya, maka gaji para managernya disamakan saja dengan gaji PNS eselon II ditambah tunjangan tambahan penghasilan, jangan sampai puluhan juta seperti sekarang ini. Perusahaan rugi kok gaji selangit? Padahal merusak kredibilitas pemerintahan….

Leave a Reply

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in