Light Up The Day: Everything Is An Installment! :P

Social Add comments

Pada perjalanan bisnis ke Singapore beberapa waktu lalu, saya terlibat pembicaraan dengan seorang supir taksi tua, seorang engkoh-engkoh yang menjalani day-in day-out sebagai warga yang serba rutin. Seperti yang kita semua mahfum, Singapore telah menjadi sebuah negara kota yang kontradiktif 180 derajat dibanding kota-kota yang tumbuh semrawut di Indonesia, semua serba rapi dan well-planned. Sangking fix nya, ruang buat berusaha pun hampir bisa dipastikan sulit dibandingkan kesempatan usaha swallow modal ngegeret tenda ala blataknya Indonesia. LTA (Land Transportation Agency), HDB (Hi res apartment), sampai telekomunikasi semua dikuasai oleh keluarga lingkaran penguasa, tidak berbeda dengan di negeri ini.

Salah satu dialog segar berlogat singlishnya adalah sebagai berikut:

Supir: “I think our government is too smart lah”… “Everything is an installment… and installment” … “Housing… car… all installment”… “Even the TV sometimes is an installment”… “They make us work hard to pay the installment… and at the end… we forgot about them (government and what they do — crony business). ” 😛

20 Responses to “Light Up The Day: Everything Is An Installment! :P”

  1. Firman Says:

    Intinya mau se-KKN atau se-diktator apapun, asal rakyat bisa hidup, gak masalah?

  2. Ade Says:

    Governance is bussines. They mean it :))

  3. setiaji Says:

    Ternyata di negeri yang sudah sedemikian teraturnya aja, masih ada keluhan dari warganya, gmna di negeri kayak Indonesia ya, yang bikin rencana tata kota aja susahnya minta ampun, apalagi mikir warganya he he (tertawa ironis)

  4. alfaroby Says:

    salute buat singapura…
    untuk Firman = yang namanya KKN dan diktator tuh ya pasti bikin rakyat “masalah”

  5. Endy Says:

    Singapore has no democracy, but the people love it there because they can make good enough living and a lot of money to grab, of course with a lot of work and somewhat equal opportunity.
    So, Democracy is not the answer for a good country, governance, and economy. Free speech doesn’t necessarily free living, free homes, and equal opportunity.
    Bring back our 1969-1984 Soeharto 😀 The original Bapak Pembangunan.

  6. Dedy Says:

    “The important thing is not the form of governance lah… but, the form of our life… :D”

  7. ratutebu Says:

    tambahin skrin syut biar tambah keren dunkz,, :mrgreen:

  8. adinoto Says:

    to 1-5:
    see, you got all the points right 😀

  9. adinoto Says:

    to ratutebu:
    hehehe itu sih blog seleb sebelah wakakaka 😀

  10. idarmadi Says:

    ujung2nya adalah masalah perut juga. Apapun ideologi atau sistem kepemimpinannya, selama rakyat bisa hidup berkecukupan. Seperti ‘cinta’, emangnya perut bisa kenyang dikasih makan ‘demokrasi’?

    Pemerintah kita mah clueless… Rakyat makin sengsara, tapi Menko Kesejateraan Rakyat bisa jadi orang paling kaya di Indonesia. Program Konversi Minyak Tanah belum tuntas, eh malah bikin penjatahan BBM pakai Smart Card. (heheheh… siapa tuh supplier smart card dan readernya… 😉 )

  11. Yoki Says:

    Installment lah 😛 di sini juga sama, para petinggi+keluarg kantongnya tebel pulang dari iraq 😛 emang begituan mereka bisanya 😛

  12. Hedi Says:

    Jadi, dalam versi Indonesia, hidup bernegara dan berbangsa itu yang terpenting hidup tenang, semua serba teratur dan murah (terjangkau), serta liberalisasi politik yang nyaman? Untuk yang terakhir, kok terkesan utopi ya… 😀

  13. wolwol Says:

    aiyah…like AA Noto dont know one ah…
    HDB is Housing Development Board…..

    *asli ga ada hubungannya apa2*

  14. wolwol Says:

    skrg kan singapura, menurut MM Lee sendiri, lagi brain drain, alias skitar 30%-40% warga singapuranya sendiri pindah ke negara laen…seperti amrik….uk dll….
    makanya mereka menarik org2 indonesia yg pinter and mencari better future……
    well, sort of….
    tapi dia jg mengakui, kalo singapura sendiri jadi jumping ground……
    smacam gitu lah
    AA Noto ke singaparna teu ngajak2 euy….aya bisnis naon…….

  15. wolwol Says:

    yeuh linkna AA Noto

    http://tinyurl.com/378xoh

  16. Zee Says:

    Mungkin mereka mengadopsi China. Rakyat ga peduli pemerintah mau ngapain, asal rakyat tdk kelaparan. Kan emg manusia begitu, selama perutnya kenyang & dia msh bs sedikit liburan ke luar kota, ga pedulilah pemerintah mo gimana2….

    Tp….apakah lama2 tar ga bakal jadi bom waktu ?

  17. anggoro Says:

    women rule’s yah…? fasilitas yg nomor 1, everything is under ‘make up’, biar tekor asal kesohorlah….sori sebelumnya newbie nie boss.

  18. adinoto Says:

    # Zee Says:
    February 18th, 2008 at 1:59 pm

    Mungkin mereka mengadopsi China. Rakyat ga peduli pemerintah mau ngapain, asal rakyat tdk kelaparan. Kan emg manusia begitu, selama perutnya kenyang & dia msh bs sedikit liburan ke luar kota, ga pedulilah pemerintah mo gimana2….

    Tp….apakah lama2 tar ga bakal jadi bom waktu ?

    => Bom ato tidak sih bagaimana government aja menghandle keadaan. Lebih cepet jadi bom kalo rakyat kelaparan sih IMHO.

  19. adinoto Says:

    To wowol:
    Thanks Wol!… artikelnya worth reading buat semua.

  20. ida wahyu singaparna Says:

    selamat berpuasa

Leave a Reply

WP Theme & Icons by N.Design Studio
Entries RSS Comments RSS Log in